
Happy Reading...
*****
"Ya, ini- ini- i-ibu yang tadi," ucap Arga.
"Seriusan? Berarti tadi yang nunjukin jalan sama kita itu..."
"Hantu. Tuh, ibunya di belakang kalian!" tunjuk Anta ke arah belakang Arga dan Arya.
"Bu, makasih ya tadi udah dikasih tau jalannya," ucap Arga.
"Iya, Bu, terima kasih," sahut Arya.
"Woi, buruan lah cari di mana si Kang Roni disimpan?" seru Dion seraya mengawasi pintu masuk kamar mayat.
"Yang di sini, ini aku ada di sini," ucap Roni menunjuk satu lemari pendingin yang terletak paling sudut.
"Tuh, buka sebelah situ!" sahut Anta menepuk bahu Arya.
"Kalau Anta yang nyuruh mah mau terjun payung juga aku mau, bentar ya Nta, Akang Arya mau ambilin cincin buat kamu," sahut Arya.
"Pengen muntah gue dengernya," sahut Arga.
"Astagfirullah... Kenapa bentukannya kayak gini sih? Duh, misi ya Kang Roni saya ambil cincin di kantong kamu dulu," gumam Arya seraya menggapai tubuh Roni yang sudah tak berbusana.
"Iya, saya izinin," jawab Roni.
"Jangan dijawab, makin horor saya dengernya," sahut Arya.
Pemuda itu merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.
"Gais... dia enggak pakai celana, terus gue pegang anuannya iyuh..." Arya langsung menarik tangannya dan mengibaskan berkali-kali dengan penuh rasa jijik.
"Lha, terus barang-barangnya disimpan di mana?" tanya Arga.
"Hmmm... kayaknya harus tanya penjaga tadi deh," ucap Anta.
"Bukannya bilang dari tadi, kan gue jadi kaga usah pegang-pegang anunya, idih masih geli gue," ucap Arya seraya mengusap tangan kanannya ke pakaian Arga.
"Halah lebay lo, kan sama aja sama punya elu pas elu pegang tadi," sahut Arga.
"Ya beda lah, ukuran gue lebih sempurna tau!" sahut Arya.
"Heh, pada ngomongin apaan sih?" Anta berseru seraya bertolak pinggang.
"Itu, Nta—"
Arga buru-buru membekap mulut Arya.
"Enggak usah diterusin, bacot banget mulut loh!" bisik Arga.
"Jadi, gimana nih?" tanya Dion
"Balik ke penjaga tadi," sahut Anta.
Tiba-tiba mereka mendengar suara dari kamar mandi dalam ruang mayat itu. Mereka dikagetkan dengan bunyi orang yang sedang mandi dikamar mandi.
"Emang tadi ada orang sebelum kita di sini?" tanya Arya.
"Kok, gue denger kayak ada yang mandi ya?" tanya Dion.
"Coba cek, diketok dulu pintunya jangan main masuk aja nanti dikira ngintip lagi," sahut Arga.
"Anta aja yang ngetok," ucap gadis itu lalu melangkah menuju ke arah pintu kamar mandi.
"Nanti kalau hantu lagi gimana coba, ih si Anta mah penasaran banget," gumam Arga.
"Permisi, halo ada orang di dalam?" tanya Anta.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Anta melihat ke dalamnya. Arya dan Arga ikut penasaran dan muncul di belakang gadis itu. Dion pun mengikutinya.
"Astagfirullah... Tuh kan apa kata aku pasti hantu," sahut Arga.
Sosok hantu wanita dengan kepala terpenggal sedang membersihkan rambut di kepalanya yang ja letakkan di atas wastafel. Kepala terpenggal itu menoleh lalu tertawa menyeringai.
"Maaf ya, Mbak, kirain manusia. Itu kalau keramas yang bersih jangan lupa pakai krim creambath juga, hehehe... permisi, Mbak."
Anta segera menutup pintu kamar mandi itu.
"Keluar aja yuk!" ajak Arya.
Lalu, terdengar pula suara orang mendorong ranjang kereta, dan suara orang membanting besi di ruangan pendingin penyimpanan jenazah.
"Enggak usah dicek, mending kabur aja!" seru Arya menarik tangan Anta. Arga dan Dion menyusul langkah anak muda itu dengan segera.
Akhirnya ke empat muda-mudi itu keluar dari kamar mayat dan mencari si penjaga kamar mayat tadi untuk menanyakan barang-barang milik Roni.
"Pak, gimana sih tuh mayat udah enggak pakai baju gitu, saya mau cari cincin di celananya," ucap Dion.
"Mana saya tau, emang mayat yang masuk pendingin udah begitu, mungkin dibawa sama pihak polisi," tukas pria itu.
"Dia bohong, cincin saya dipakai tuh sama dia!" ucap Roni menunjuk jari tengah sebelah kiri bapak penjaga itu.
"Heh, kalau ngomong jangan sembarangan, ini cincin saya!" serunya.
"Wah, nyari ribut ini orang, kasih tau aja Nyanyi Akang Roni," sahut Arya.
Anta lalu meraih tangan bapak penjaga itu secara paksa ia lalu menunjukkan hantu Roni tepat di hadapannya.
"Waaaaaaa....!" Pria itu langsung berteriak sampai terjungkal dari kursinya.
"Nah, kena kan luh sukurin luh," gumam Arya.
"Makanya jangan macam-macam dah sama barang mayat," ucap Arga.
"Iya iya, ini cincin mayat tadi," sahut bapak itu.
"Tapi cincin saya ada dua," ucap Roni.
"Hah, ada dua?" sahut Anta menoleh pada hantu Roni.
"Nah, Bapak ini gimana ya kata temen saya, cincin dia ada dua sepasang, terus yang satu mana lagi?" tanya Anta.
"Sa-saya, saya jual sama temen saya," ucapnya.
"Wuidih, cepet banget jualnya baru aja tuh mayat sampai di sini," sahut Arya.
"Terus jual sama siapa?" tanya Dion.
"Tuh, satpam yang di depan," jawabnya.
Tiba-tiba hantu ibu penjaga yang Arga dan Arya temui tadi muncul.
"Dia juga udah ambil gaji saya," ucap ibu itu.
Wanita yang bekerja sebagai pembersih rumah sakit itu mengalami kecelakaan saat bekerja. Ia terjatuh dari tangga saat sedang menyapu lantainya. Saat itu, ia baru saja menerima gaji yang masih ia simpan di sakunya. Sayangnya si penjaga kamar mayat itu malah mencuri amplop gaji miliknya. Wanita itu menunjukkan semuanya pada Anta.
"Astagfirullah, Bapak berdosa banget, Bapak juga udah ambil amplop gaji ibu...." Anta menoleh pada name tag yang ada pada seragam Wanita tersebut. Nama pegawai di pakaian seragamnya bertuliskan "Sinah".
"Ibu Sinah, nah Bapak udah ambil uang gaji Ibu Sinah," ucap Anta.
"Kok kok kok, kok kamu tau? Jangan-jangan ada hantu si Sinah, ya?" terka bapak penjaga itu.
"Iya, dan kalau Bapak enggak balikin uang gaji dia ke keluarganya, dia bakal gentayangan dan ganggu Bapak terus," ucap Anta memperingatkan.
"Hmmm... makanya jangan suka ambil barang mayat yang sampai sini, kalau kena azab baru tau rasa luh!" sahut Dion.
"Benar banget, kudu di ruqyah kali si Bapak biar kaga demen mencuri barang orang lain," sahut Arya.
"Ya udah, nanti kita laporin polisi sini, sekarang cari cincin satunya punya Kang Roni," sahut Arga.
Akhirnya mereka menuju si pembeli cincin milik Kang Roni dan melaporkan petugas penjaga mayat tadi.
***
Sampai di depan rumah Arga untuk mengantarnya pulang, mereka dikejutkan dengan sosok hantu berbadan besar penunggu pohon mangga depan rumah besarnya.
"Ga, itu udah akrab sama elo?" tanya Arya.
"Udah, dia baik kok, namanya Mbah Jambrong, satpam rumah gue yang paling keren," sahut Arga.
"Maksudnya?" tanya Arya.
"Kalau ada yang mau maling, dia muncul terus nakutin tuh maling. Tapi ada syaratnya," ucap Arga.
"Wah, jangan-jangan elo kasih tumbal buat dia, ya?" terka Arya.
Anta juga menyimak pembicaraan mereka dengan saksama kecuali Dion yang belum mengerti karena tak dapat melihat sosok Mbah Jambrong.
"Bukan itu, dia cuma minta kopi sama pisang goreng tiap malam jumat," ucap Arga.
Arya dan Anta saling bertatapan lalu tertawa.
"Buahahaha... murah amat gajinya, cuma kopi sama pisang goreng, itu juga seminggu sekali," sahut Arya.
"Pada ngomong apaan, sih?" tanya Dion.
"Bukan apa-apa, Kak, enggak udah dipikirin, ya udah Arga pulang gih, nanti Anta kemalaman sampai rumah," ucap Anta.
"Oke deh, kalau gitu makasih Kak Dion udah antar saya pulang, terima kasih ya, Bye Guys!"
Arga turun dari mobil Dion lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Anta, pindah belakang sini duduk sama gue!" pinta Arya.
"Enggak usah lah, ribet!" sahut Dion lalu melajukan mobilnya.
"Huuu....!" Arya mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal.
***
To be Continue...