Anta's Diary

Anta's Diary
Cobaan untuk Raja



Jangan lupa di vote.


Happy Reading


*******


Raja terbangun dari tidurnya. Tenggorokan anak itu terasa tercekat dan perih seperti ada yang mengganjal. Ia mencoba meraih sebotol minuman di lemari pendingin dalam dapur. Kini Raja dapat melihat sosok misterius yang melompat itu.


"Om Uli, aku tau itu kamu, udah deh jangan ngelawak, enggak lucu tau, hoek hoek, apaan sih ini tenggorokan aku ada apanya ini," gumam Raja.


Sosok pocong itu melompat makin mendekat ke arah Raja. Kini ia sudah berada di belakang tubuh anak itu.


"Om Uli, Aku bilang jangan ganggu deh!"


Raja melayangkan tangan kanannya memukul si Pocong seketika itu juga tapi sosok pocong itu menghilang. Ia memutar ke kanan dan ke kiri seraya merotasikan bola matanya melihat sekeliling. Akan tetapi sosok pocong tadi benar-benar menghilang.


Sampai Raja mencoba kembali ke kamar tiba-tiba sosok pocong itu sudah ada di hadapannya.


"Boo...!"


"Astagfirullah, kaga lucu Om!" seru Raja.


"Haha... Tapi kaget, kan?" tanya Uli.


Sosok pocong itu tersenyum dan menggoyang-goyangkan ikatan kepalanya saat duduk di meja dapur.


"Tumben enggak ngejar Tante Silla?" tanya Raja.


"Males ah, Silla cuek banget sama gue, Ja."


"Tapi kan Om, kamu kan dikejar sama Mbak Pocong yang di pohon seberang kenapa enggak sama dia aja?" tanya Raja.


"Cakep Silla, Ja, tuh mbak pocong mukanya merah semua ketebalan bedak darahnya."


"Hahaha, hoek... haduh ini apa ya di tenggorokan aku," gumam Raja.


Sosok Pocong itu mencoba mengeluarkan tangannya dari dalam kafan yang membungkus dirinya itu. Dia berniat membantu Raja. Pocong Uli memerintahkan pada anak itu agar membuka mulut lebar-lebar. Raja akhirnya menuruti perintahnya.


Tangan kanan pocong itu lalu masuk ke dalam mulut Raja dan menarik sesuatu dari dalam mulut anak itu. Ternyata segumpal rambut panjang terus saja ke luar dari dalam mulut anak kecil itu. Makin ditarik makin panjang.


Setelah gumpalan rambut itu di keluarkan semuanya, Raja langsung mual dan muntah-muntah.


"Tolong nyalain lampunya, Om Pocong," pinta Raja.


Lampu dapur itu langsung menyala terang. Betapa terkejutnya Raja saat mendapati banyak benda di muntahannya. Ada jarum, peniti, paku kecil dan gumpalan cairan merah segar yang menjijikkan.


"Apa ini?" gumam Raja.


Raja segera mencari kain serbet di dalam laci kabinet dapur. Anak Itu mengumpulkan benda-benda tajam dari muntahannya dan juga gumpalan rambut tadi. Ia akan menunjukkan benda itu pada Mama Dewi dan Papa Andri.


"Makasih ya, Om Uli, udah bantuin Raja."


"Sama-sama, Ja. Hati-hati tuh serem banget muntahan kamu," ucap Uli.


Sosok Pocong itu lalu melompat ke arah luar dab pamit. Sementara Raja berlari menuju kamar kedua orang tua asuhnya. Ia tak sabar ingin menunjukkan benda-benda menyeramkan itu pada mereka.


Raja menyalakan lampu di kamar itu. Kedua mata Mama Dewi dan Papa Andri langsung memicing kala pantulan sinar lampu itu mengganggu tidur mereka.


"Ada apa sih, Sayang..." ucap Dewi.


"Mama, lihat ini deh!"


Raja membuka kain serbet tadi.


"Apa ini?" tanya Andri yang langsung mengubah posisi berbaringnya jadi duduk di atas ranjang.


"Tenggorokan aku sakit banget, dan aku tadi muntahin ini," ucap Raja.


"Hah, yang bener kamu?" tanya Dewi dengan nada meninggi.


"Beneran, ini dari mulut aku dibantuin Om Pocong Uli, dia yang bantu aku narik ini dari mulut aku," ucap Raja menjelaskan.


"Apa? Kok, bisa ya kamu muntahin ini?" gumam Dewi.


"Atau jangan-jangan ada yang mau macam-macam sama Raja," ucap Andri.


"Hmmm... coba besok kita bahas ini sama Tasya," ucap Dewi memberi saran.


"Kamu balik tidur gih, anggap enggak ada apa-apa, kamu istirahat enggak usah terlalu dipikirin," ucap Andri.


Raja menurut dan keluar dari kamar itu menuju kamarnya. Tapi, ia masih ingin membahasnya dengan Uli dan Silla. Oleh karena itu ia mencari sosok keduanya. Akan tetapi bukannya bertemu dengan Silla, Raja malah melihat Susi dan Tomo sedang bermesraan.


Sosok hantu Susi sedang memangku Tomo, mereka sedang asik memadu kasih di beranda apartemen itu. Ketika bibir mereka hampir menempel dan bersentuhan, Raja berseru mengejutkan keduanya.


Sontak saja Susi yang terkejut langsung melepas Tomo dari pangkuannya sampai ia terjatuh dan mendaratkan bagian bawahnya dengan sempurna ke atas aspal jalan.


"Aduh, Susi! Kamu gimana, sih? Ini sakit tau!" keluh Tomo seraya menepuk bagian belakangnya yang kesakitan.


"Maafkan aku ya, sayang, habisnya Raja ngagetin," seru Susi.


"Kenapa sih, Ja? Kamu mah gangguin aku pacaran aja sih," protes hantu Susi menghampiri Raja.


"Ya maaf deh, lagian pacaran mulu, enggak malu apa kalau sampai dilihat anak kecil macam aku," ucap Raja.


"Hehehe... makanya jangan kepo, ngapain kamu jam segini masih di sini, bukannya tidur?"


Dia menunjukkan benda-benda di atas serbet tadi.


"Apaan nih, rambut, paku, peniti, jarum, ih kayak benda-benda santet deh," gumam Susi.


"Hah, benda kuntet, benda apaan tuh?" sahut Raja.


"Santet, bukan kuntet!" seru Susi di telinga kiri Raja.


"Aww... pengeng tau!" keluh Raja.


"Ini punya siapa?" tanya Susi.


"Ini punya aku, tadi aku muntah itu, sakit banget tau tenggorokan aku," aku Raja menceritakan kejadian tadi.


"Berarti kami disantet, Ja," ucap hantu Susi.


"Santet itu apa sih?" tanya Raja.


"Setau aku ya, santet itu adalah upaya seseorang untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh dan biasanya dia pakai santet itu dengan menggunakan ilmu hitam."


Susi duduk di samping Raja.


"Jadi ada orang lain yang mau mencelakai aku?" tanya Raja menunjuk dirinya sendiri.


"Biasanya gitu, santet itu sering dilakukan sama seserang yang biasanya mempunyai dendam yah seperti karena sakit hati, iri, dengki gitu deh kepada orang lain," ucap Susi.


"Siapa ya kira-kira?" gumam Raja.


"Ya biasanya sih santet dapat dilakukan sendiri maupun dengan bantuan seorang dukun, setau aku ya," jawab hantu Susi.


"Sayang, aku kembali," ucap Tomo yang baru saja sampai setelah jatuh ke lantai dasar tadi.


"Aduh, sayangku itu mata kamu copot, kemana tuh bola mata kamu," tunjuk Susi.


"Wah, kemana nih bola mata aku, pasti masih dibawah, ayo bantu cari!" ajak Tomo.


"Ja, aku cari bola mata Tomo dulu, ya, udah enggak usah dipikirin paling perbuatan orang iseng," ucap Susi mengusap rambut di kepala Raja dengan lembut.


"Iya, Tante, makasih ya infonya," sahut Raja.


Karena tak juga menemukan sosok Silla, akhirnya Raja terlelap di sofa dekat beranda yang kaca jendelanya terbuka. Besok ia akan ceritakan hal yang menimpanya itu pada Anta dan Tasya. Ia juga akan menceritakan perihal temannya Irma yang dibuang ke dalam danau oleh Hartono.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni


Dan mampir juga ke novelku lainnya.