Anta's Diary

Anta's Diary
Bertemu Aiko



Happy Reading


*****


Sesampainya di panti asuhan, Ibu Ari sedang menyapu halaman bersama anak perempuan bernama Sari. Ia lantas menyambut kedatangan Dita.


"Rudi mana, Bu?" tanya Dita.


"Ada di kebun singkong sama Ibu Aiko tadi," jawab Ibu Ari.


"Oh ya udah saya ke belakang dulu. Ibu tolong siapkan bahan-bahan ini, ya, saya mau masak sop iga," ucap Dita.


"Baik, Non."


Ibu Ari menerima barang belanja Dita dan membawanya ke dapur.


"Ayo, aku kenalin sama Rudi!" ajak Dita.


Anan masih tersenyum kecut.


"Yanda cemburu, ya?" ledek Anta.


"Hah, aku cemburu? Ada hak apa aku cemburu memangnya dia siapa saya?"


Anan menjawab dengan nada ketus.


"Udah ayo kita ikuti Bunda!"


Raja mendorong punggung Anan agar mengikuti Dita.


Sesampainya di kebun singkong belakang, seorang anak berusia lima tahun langsung berlari dan memeluk Dita.


"Tante, mana sop iga aku?" pinta anak itu.


"Tante baru dateng, bentar lagi mau masak, kamu kan lagi sakit, kok main di luar?" tanya Dita.


"Tadi Ibu Aiko ajak aku cari singkong katanya mah direbus," jawab Rudi.


"Oh, jadi ini yang namanya Rudi?" tanya Anta.


"Iya, kenalin ini Rudi, anak panti di sini yang paling kecil yang paling gemesin," ucap Dita memperkenalkan Rudi.


"Halo, Rudi, duh ganteng ya ternyata !"


Anan langsung menghampiri Rudi dan berjongkok di hadapan anak itu.


"Hahaha... sok kenal sok deket si Om, padahal tadi kan jelas-jelas cemburu," sahut Arya.


Anan langsung menoleh ke arahnya dan menatap tajam. Arya terlihat mendengus kesal.


"Ta, ini Ibu bawain singkong yang bisa saya cabut tadi," ucap Aiko yang datang dari dalam kebun.


Ia lantas menatap wajah Anan dengan saksama. Pria yang ditatapnya itu balas tersenyum hangat.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aiko pada Anan saat itu.


"Sepertinya ini baru pertama kali kita bertemu, Nyonya," sahut Anan.


"Panggil saja saya Ibu, Dita juga panggil saya Ibu," tuturnya.


"Nah, mumpung kalian di sini, aku sama Anta masak sop iga, para laki-laki kupas singkong ya!" pinta Dita.


"Ibu bantu, ya," ucap Aiko menawarkan diri.


"Ibu istirahat aja, Ibu kan udah capek cari singkong," ucap Dita seraya tersenyum hangat.


"Baiklah, Ibu akan duduk di sini saja melihat mereka mengupas singkong."


Dita lalu menarik lengan Anta dengan lembut mengajaknya melangkah menuju ke dapur.


"Pernah masak sop iga?" tanya Dita.


"Belum pernah, Tante Tasya keseringan masak serba instan buat Anta sama Raja," jawab Anta.


"Kebetulan kalau gitu, biar aku ajari kamu masak ya," ucap Dita.


Ada keharuan merasuk ke dalam jiwa gadis itu. Ia terus saja memandangi Dita dengan menahan tangis. Lantas saja ia tak sanggup untuk menahan lagi. Anta memeluk wanita itu dari belakang.


"Eh, kenapa ini?" tanya Dita terkejut.


"Anta kangen sama Bunda..."


Pelukan gadis itu membuat Dita tersentak akan sesuatu. Ia seperti melihat sebuah bayangan kala bersama Anta sewaktu kecil. Tawa gadis kecil itu membuatnya ikut tertawa lalu mereka berpelukan sambil bersenang-senang di sebuah taman.


"Nta, bisa tolong lepas!"


Dita langsung melepaskan tangan Anta Yang berada di pinggangnya. Ia langsung merasa risih dan tak mau meneruskan bayangan penglihatannya itu lagi. Tubuhnya langsung merasa gugup. Ia belum siap jika ternyata dirinya memang reinkarnasi dari wanita yang dianggap Anta sebagai ibunya.


"Kamu tolong cuci iga ini!" pinta Dita tak berani menatap Anta.


Akhirnya kegiatan memasak itu diwarnai dengan kecanggungan dan minim perbincangan. Anta melihat wajah wanita itu tampak tertekan. Ia sadar kalau ia belum boleh memaksakan Bundanya untuk kembali.


"Kenapa sih ibu itu ngeliatin aku terus?" bisik Anan di samping Dita.


"Nanti aku ceritain, atau kamu tanya sama Anta," sahut Dita.


"Tanya apa?"


"Hmmm... oke deh aku cerita, yang aku pernah dengar dari Tasya, Ibu Aiko itu mirip dengan mama kamu. Dia juga ke sini mau cari anaknya yang hilang karena dibawa sama suaminya," ucap Dita seraya menyadap sop iga.


"Mirip sama mama aku?"


"Iya, lagian kalau aku liat ya, dia emang mirip sama kamu hehehe..."


"Masa sih? Tapi, kata Nenek orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pas aku kecil," ucap Anan.


Sesekali ia juga menelisik wajah Aiko. Ia juga tak memungkiri kalau wajah wanita itu mirip dengannya.


Anta mengamati Yanda dan Bundanya itu. Keduanya sudah terlihat akrab. Ia juga mengamati wanita bernama Aiko yang tampak baik hati dan penyayang di samping Rudi. Semoga saja keluarganya akan kembali utuh dan hidup bahagia tanpa ada yang jahat satu pun.


"Ayo, nambah lagi makannya!" seru Ibu Ari seraya menyodorkan mangkuk besar berisi sop iga di hadapan Anta dan Raja.


"Tenang, Bu, kita pasti bakal nambah," sahut Anta menjawab bersama dengan Raja saling tersenyum.


"Baru ini gue liat cewek makan banyak kayak porsi


kuli proyek," celetuk Arya yang duduk di samping Anan.


"Tuh lihat Dita, sama aja porsi makannya sama Anta," sahut Anan berbisik pada Arya.


Keduanya saling tertawa kemudian.


***


Anta, Raja dan Arya sampai di apartemen Emas setelah pulang dari panti asuhan tadi. Ketika sampai di lobi, Mey terlihat sudah berdiri menunggu kedatangan pria kesayangannya. Gadis itu langsung menghamburkan diri memeluk Arya.


"Ponsel kamu kenapa, kok telepon aku enggak diangkat, chat juga enggak dibalas, aku kan kangen," ucap Mey dengan nada manja seraya melirik Anta.


"Hmmm, maaf Mey tolong lepas, gue mau mandi badan gue lengket semua," ucap Arya.


Tiba-tiba saat Mey menatap Arya, sikap pemuda itu langsung berubah layaknya robot yang sudah dikendalikan.


"Antar aku ke toko buku, yuk!" ajak Mey.


Arya menganggukkan kepala kemudian mengiyakan.


"Dah Anta, dadah Raja, aku sama Arya pergi dulu," ucap Mey sambil melambaikan tangan Kanan, sementara tangan kiri melingkar di lengan Arya.


Arya mengikuti gadis itu tanpa memandang ke arah Anta. Tatapan pemuda itu terluhat kosong saat bersama Mey. Hal itu langsung membuat Raja teringat akan sesuatu di Pasar Seru.


"Yuk, kita pulang!" ajak Anta yang mengajak Raja masuk ke dalam lift.


"Aku ingat dari tadi mau cerita apa, ini soal Kak Mey," ucap Raja saat berada di dalam lift itu.


"Soal Mey?"


"Iya, Kak, aku ketemu Kak Mey di Pasar Seru, tapi dia aneh, jadi aku ikutin dia diem-diem," ucap Raja.


"Aneh gimana?"


"Kak Mey, bawa ayah hitam semua, terus ke sebuah toko yang menjual darah manusia dari bank darah, igel - igel itu yang enggak resmi, apa dah namanya?" ucap Raja.


"Ilegal? Kamu tau dari mana dia beli darah manusia?"


"Dari Kakek hantu tadi, dia bilang suka lihat Mey dan beberapa manusia lainnya suka beli darah di situ. Katanya mau dipakai buat persembahan atau ritual aneh yang butuh tumbal darah. Apalagi Kak Mey bawa ayam hitam, makin curiga kan?"


Penuturan Raja membuat gadis itu sempat terdiam. Ia jadi teringat bayangan hitam yang ia lihat kala itu di ruang UKS. Ia melihat bayangan hitam itu bersama Arga. Mungkinkah Mey melakukan ritual atau sesuatu yang gaib dan membuat Arya bertekuk lutut?


"Kak, malah bengong!" seru Raja mengejutkan Anta.


"Kak Anta jadi bingung kalau emang Mey melakukan itu, buat apa ya?"


Pintu lift kemudian terbuka, hantu Silla menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.


"Halo..." sapa Silla.


"Tumben amat udah di sini?" tanya Anta sambil keluar dari lift diikuti Raja.


"Aku punya cerita nih tentang kabar sekolah kamu," tuturnya.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni