
Happy Reading...
*****
"Kalau mau ikut duduk di belakang, kalau enggak mau duduk di belakang ya enggak usah ikut!" sahut Anan.
"Yah... nasib nasib, geseran jangan deket-deket!" ucap Arya pada hantu itu seraya naik ke mobil bagian belakang milik Anan.
Mereka menuju ke rumah Feri malam itu juga. Sesampainya di sana, terlihat sang ibu dari hantu anak itu tampak tidak senang akan kehadiran Anta dan yang lainnya. Mereka menganggap keterangan gadis itu hanya kebohongan belaka. Sampai Anta menunjukkan sosok hantu anak kecil itu pada ibunya yang langsung menangis sejadi-jadinya.
"Ada apa ini?" tanya ayah korban yang baru saja pulang dari berkerja.
Ibunya Feri langsung menampar dan memukul bahu suaminya berkali-kali.
"Kamu jahat, Pak, tega kamu bunuh anak kamu sendiri!" seru wanita itu sambil menangis berlinangan air mata.
Tak ada jawaban dari pria itu. Ia tertunduk lesu dan menangis. Sesungguhnya ia juga menyesal setelah melakukan pembunuhan itu. Ia tak menyangka kalau bisikan setan itu mampu membuatnya menjadi seorang monster yang membunuh anaknya sendiri.
Hantu Feri memeluk ayahnya dari samping. Anta memperlihatkan sosok anak itu pada orang ayahnya. Keduanya lalu menangis dan berpelukan.
"Maafin Feri ya, Pak, aku nyesel waktu itu enggak bisa jadi anak yang baik dan ngertiin kondisi Bapak," ucap Feri.
"Bapak juga minta maaf, Nak, Bapak akan mempertanggung jawabkan segala perbuatan Bapak sama kamu, Maafin Bapak huhuhu...."
Dita menangis sesenggukan sampai bersembunyi di punggung Anan.
"Perasaan basah amat ini belakang aku?" gumam Anan.
"Maaf, Nan... hiks hiks... kelepasan," lirih Dita yang tak sengaja mengusap cairan dari hidungnya ke belakang kaus pria itu.
"Hmmm... tampak enggak enak aja bawaannya, berasa lengket takutnya," gumam Anan.
"Anan mah..." lirih Dita mendorong punggung pria itu pelan.
Arya bergerak mendekati Anta.
"Kalau mau nangis, bahu aku siap untuk kamu, Nta," bisik Arya.
"Pinjem buat ingus boleh?" tanya Anta.
"Nih, tapi bagian ujung kaus depan, mau?" Arya mencoba menawarkan seraya mengangkat ujung kausnya. Anta tak sengaja melihat perut pemuda itu.
"Enggak jadi deh, itu perut bayinya keliatan," sahut Anta.
"Eh, sembarangan! Bentar lagi gue bikin ini sick pack," ketus Arya.
Anan langsung menghubungi kepolisian terdekat kala itu. Tak lama kemudian, satu unit mobil polisi datang untuk menjemput ayahnya Feri. Ibunya juga ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
"Ya udah sekarang kita pulang, udah malam juga," ucap Anan.
Dita menurut, lalu menarik tangan Anta untuk masuk ke dalam mobil Anan.
"Yah, serius nih Om saya di belakang lagi?" tanya Arya pada Anan saat jalan beriringan itu.
"Emang mau di mana, di ban?"
"Ya udah deh, di belakang aja, daripada dilindes di ban," keluh Arya.
Mobil Anan akhirnya melaju pulang. Namun, sesuatu mengganggu Arya dan membuat pemuda itu berteriak minta tolong seraya menggebrak pintu samping mobil pick up.
"Kenapa si Arya?" tanya Dita yang menoleh ke belakang.
"Om, tolong ada geng krucil ini," seru Arya.
Anta ikut menoleh dan tertawa kala melihatnya. Tiga orang makhluk kerdil berkepala botak yang hanya mengenakan kain putih menutupi bagian tubuh bawahnya itu terlihat naik di belakang mobil pick up milik Anan.
Anan menghentikan laju mobilnya, ia menepikan di samping bahu jalan. Pria itu lalu turun dan menghampiri para makhluk kerdil yang dibilang tuyul itu. Anta dan Dita juga ikut turun.
"Woi, pada ngapain bocah-bocah kayak elu pada masih kelayapan gini?" tanya Anan.
"BM, Om, numpang mau pulang, capek jalan kita," sahut salah satunya.
"Idih, nyeremin banget jadi setan hobinya BM kayak anak sekolah habis pulang tawuran," sahut Dita.
"Capek, Tante. Jadi numpang bentar sampai ke komplek sana," sahut tuyul satunya menunjuk ke arah depan.
Anta tak berhenti-berhenti tertawa melihat kelakuan para tuyul itu. Salah satunya malah masih mengusap lelehan cairan hijau dari hidungnya sambil tertawa meringis.
"Idih, jijik!" seru Anta menahan mual.
"Lagian kalian dari mana sampai malam gini?" tanya Anan.
"Kita kan emang kerja di rumah kontrakan sana, Om!" tunjuk salah satu tuyul ke area kontrakan yang bisa dihitung sebanyak lima puluh pintu itu.
"Terus ngapain kerja di sana?" tanya Arya.
"Disuruh tarik uang di tiap rumah hehehe," sahut salah satunya.
"Heh, ngapain kamu jujur, nanti bos kita marah lho," sahut satunya.
"Ah, udah biarin aja, toh mereka juga nolong kita. Aku capek tau kalau disuruh jalan, kan lumayan jauh mending BM gini," sahutnya.
"Terus rumah bos kalian di mana?" tanya Anan.
"Di komplek sana, Om!"
"Ya udah nih Om anterin tapi habis itu jangan ikut lagi ya!" seru Anan.
"Siap, Om!" jawab ketiga tuyul itu bersamaan.
Mobil Anan melaju lagi menuju pulang. Arya duduk paling sudut menghindari ketiga tuyul itu.
"Jangan deket-deket, jauhan sana!" seru Arya.
"Main yuk Om, tebak-tebak kan gaya meniru hewan!" ajak salah satu tuyul itu.
"Ogah! Kalian aja situ main, gue ogah ikutan!" sahut Arya.
Mobil Anan berhenti di depan sebuah gerbang perumahan elit bertuliskan Griya Mewah.
"Ini bukan kompleknya?" tanya Anan dari kursi kemudi.
"Iya, Om. Sampai sini aja, makasih ya semuanya. Kapan-kapan kita ketemu lagi, daaaahhh....!"
Para tuyul itu melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam perumahan elit itu.
"Enggak nyangka, orang kaya di sini pada pelihara tuyul," gumam Anan lalu melajukan lagi mobilnya menuju Apartemen Emas. Ia hendak mengantar Arya dan Anta pulang dulu.
"Oh iya Anta lupa cerita, tau enggak kalau Tante Tasya mau nikah sama Pak Herdi," ucap Anta.
"Oh iyakah, wah bagus dong kalau gitu," sahut Anan.
"Kamu enggak bercanda, kan?" tanya Dita.
"Enggak Bunda, emang Tante Tasya mau nikah sama Pak Herdi, kemarin udah dilamar pas di rumah sakit," jawab Anta.
"Oh, gitu...."
Raut wajah Dita berubah menjadi lebih kecewa. Tak dipungkiri lagi kalau wanita itu masih menaruh hati pada sosok Herdi ketika mereka berkerja bersama di sekolah dahulu. Anan sempat melihat ekspresi raut wajah Dita yang berbeda. Keheningan tercipta sepanjang sisa perjalan. Di belakang bak mobil miliknya, terlihat Arya sudah tertidur pulas.
Sesampainya mereka di depan Apartemen Emas, Anta turun dan pamit pada Anan dan Dita. Ia juga membangunkan Arya yang tertidur pulas kala itu. Pemuda itu meregangkan tangannya lalu turun dari mobil.
"Langsung pulang ya, jangan mojok!" seru Anan meledek Anta dan Arya.
"Om juga langsung anterin Tante Dita pulang jangan dibawa nonton layar tancap!" sahut Arya meledek pria di dalam mobil itu.
"Masih ada apa layar tancap, hahaha..." tawa Anan lalu pamit dan melajukan mobilnya mengantar Dita pulang.
Anta dan Arya berjalan beriringan memasuki lobi apartemen tanpa berbicara sedikit pun.
"Besok, aku buatin nasi goreng lagi ya?" tanya Arya akhirnya buka suara.
"Enggak usah deh, ngerepotin. Anta mau makan roti panggang aja," sahut Anta.
"Oke, besok aku buatin roti panggangnya," sahut Arya.
"Repot banget sih, paling juga Tante Tasya buatin sarapan," ucap Anta.
Mereka kemudian memasuki lift bersamaan.
"Tumben sepi, biasanya ada Om Tomo sama Tante Susi," ucap Arya.
"Mungkin lagi pindah tempat kencan hahaha..."
Gadis itu tertawa sampai membuat Arya terpesona dan tak berkedip melihat paras ayu gadis itu.
"Apaan sih liat-liat kayak gitu?"
"Emang enggak boleh? Habisnya wajah kamu itu mengalihkan duniaku, eyaaakkk!" ledek Arya.
"Dih, stres!" cibir Anta.
Tiba-tiba lampu dalam lift mati dan berhenti bergerak. Rupanya lift tersebut macet dan berhenti di lantai sembilan kala itu.
"Astagfirullah... coba hubungi petugas, Ya, masa kita kejebak di lift gini?"
Anta terlihat panik dan mendorong bahu Arya untuk menekan tombol bantuan di dinding samping pintu lift itu.
"Biarin aja sih, entar juga ada yang datang nolongin," ucap Arya sengaja mengulur waktu.
"Aneh banget sih kamu, kejebak di lift bukannya ketakutan malah girang!" seru Anta.
"Soalnya sama kamu, ngapain takut, wajarlah aku girang hehehe...."
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni