Anta's Diary

Anta's Diary
Mengingat Pocong Anan



Happy Reading...


******


"Nah—"


Tiba-tiba, preman itu melepas cengkeraman di kerah pakaian Anan. Wajahnya terlihat ketakutan seperti melihat sesuatu yang menyeramkan. Bukan hanya preman itu, tetapi Dita juga tampak ketakutan memandangi sosok menyeramkan yang ada di belakang tubuh Anan.


"A-Anan, itu..."


Dita menunjuk ke belakang pria itu dengan tangan gemetar. Preman di samping wanita itu sudah lari tunggang langgang menjauh sampai membuat Dita menoleh.


"Huh, badan gede taunya penakut," gumam Dita.


Anan menoleh pada sosok yang ditunjuk oleh Dita tadi. Ia lalu tersenyum pada sosok hantu kuntilanak penunggu toilet tadi.


"Kunci mobil kamu jatuh di kamar mandi, tapi saya enggak bisa ambil bawa ke sini, makanya saya kasih tau," ucap hantu itu mencolek bahu Anan.


Anan langsung memeriksa kembali saku celana dan saku di kemeja untuk memastikan kunci mobilnya ada atau tidak. Ternyata benar ucapan hantu itu.


"Eh iya, kunci mobil gue hilang, aku balik ke toilet dulu," ucap Anan.


"Aku ikut, aku takut ketemu preman lagi," sahut Dita.


"Tapi kita bareng hantu, lho," bisik Anan.


"Biar deh, aku lebih takut lihat hantu daripada ketemu preman," ucap Dita.


Wanita itu akhirnya berjalan beriringan bersama Anan dengan kepala menunduk. Dita tak mau melihat ke arah hantu tadi. Setelah sampai di toilet pria, Anan segera masuk ke bilik toiletnya tadi. Kunci mobil yang ia cari terjatuh di dekat kloset.


"Buset dah, tokay siapa ini masih nyempil belum disiram?" tanya Anan sambil berseru.


"Itu punya kamu ketinggalan, tadi nyiramnya enggak bersih, kurang banyak makanya ada yang ngintip," sahut hantu perempuan itu.


Anan tersipu malu mendengarnya apalagi hantu itu persis mengatakan hal menjijikkan itu di hadapan Dita. Wanita itu langsung tertawa sampai menjauh karena merasa menghirup bau tak sedap dari dalam toilet.


"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, malu gue, tengsin sama tuh cewek," ucap Anan.


"Yuk, Nan, biar enggak kesiangan!" ajak Dita.


Anan meringis menahan malu lalu melangkah menghampiri wanita itu dan menemaninya berbelanja.


***


Selesai berbelanja dalam perjalanan pulang, Anan membawa mobil miliknya ke dalam sebuah pom bensin.


"Isi bensin dulu, ya, udah tinggal dikit soalnya," ucap Anan.


Dita menganggukkan kepala mengiyakan. Namun, pandangan wanita itu mengarah ke pada seorang wanita paruh baya yang terlihat kebingungan. Ia turun dari mobil tersebut.


"Mau kemana, Ta?" tanya Anan.


"Bentar, aku mau tanya si ibu itu kenapa."


Dita melangkah menuju wanita itu. Ternyata mini bus yang dia tumpangi meninggalkannya kala itu Wanita itu sedang izin ke toilet dan tak ada penumpang yang tau kalau dia turun dari bus tersebut.


Akhirnya Dita mengajak wanita itu untuk ikut serta. Kebetulan saat dia sedang mengecek alamat yang dimaksud ibu bernama Surtini itu ternyata dilewati dalam perjalan mereka pulang. Anan pun mengiyakan niat baik wanita itu.


Lima belas menit perjalanan, Anan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah warung bakso bernama "Mie Ayam dan Bakso Laris".


"Ayo turun dulu, ini tempat anak saya jualan bakso. Laris manis lho dijamin enak, enggak usah bayar kok, anggap sebagai ucapan terima kasih saya sama kalian karena telah menolong saya," ucap Ibu Surtini.


Ibu itu turun dari mobil lalu menghampiri anak lelakinya. Ia menceritakan perihal dirinya yang ketinggalan bus di pom bensin dan ditolong oleh Anan dan Dita.


"Terima kasih banyak, Mas, Mbak, mari silakan masuk dulu saya buatin bakso enak dan mie ayam dulu," ucap pria yang mengenakan kaca mata itu.


Anan dan Dita mengikutinya. Berhubung kursi di dalam penuh, akhirnya mereka berdua duduk di kursi luar warung makan tersebut.


"Kayaknya bakso nya enak banget, liat aja tuh antriannya itu loh banyak banget," ucap Anan.


"Kayaknya pernah ke sini deh, tapi kapan ya, aku kayak enggak asing gitu sama tempat ini," sahut Dita.


Tak lama kemudian datanglah pria tadi bersama ibunya menyerahkan dua mangkok mie ayam dan bakso berukuran besar ke meja Anan dan Dita. Dua gelas es teh manis juga di suguhkan.


"Ini mas, monggo dicicipi, saya masuk ke dalam dulu, soalnya rame, sekali lagi terima kasih sudah menolong ini saya," ucapnya.


"Sama-sama, Mas, terima kasih juga," ucap Anan.


Pria itu lantas pergi ke dalam kedai. Sementara ibu Surtini tadi menemani Dita dan Anan.


"Ayo, silakan dimakan, nanti kalau mau nambah atau dibungkus bawa pulang juga boleh," ucap Ibu Surtini.


"Aku cuci tangan dulu ya," ucap Dita lalu bangkit berdiri menuju wastafel yang Ia lihat di dalam warung makan itu.


Lalu, ada penampakan makhluk menyerupai nenek satu lagi yang berbadan kerdil dengan badan mengkerut pula. Makhluk itu duduk di atas gerobak yang terdapat panci besar berisi kuah bakso itu. Parahnya lagi air liur makhluk itu menetes ke dalam kuah. Lebih menjijikkan lagi ketika Dita melihat ke arah tubuh makhluk itu penuh lendir seperti nanah yang ikut jatuh menetes ke kuah bakso yang di aduk-aduk oleh pemiliknya.


"Wleeekkk... mual banget sumpah, jijik banget liatnya."


"Kenapa, Mbak?" tanya salah satu karyawan di situ pada Dita.


"Enggak kenapa-kenapa, saya cuma pusing aja abis perjalanan jauh," jawab Dita berbohong.


Ia lantas bergegas ke luar, lalu sekelebat memori dalam pikirannya terlintas. Sosok pocong yang berwajah seperti Anan terlihat di dalam kedai itu bersamanya. Hampir saja tubuh wanita itu oleng.


"Mbak, kenapa?" tanya salah satu pengunjung.


"Enggak apa-apa, Bu, cuma pusing aja," jawab Dita.


Ia melanjutkan langkahnya.


"Aku pernah ke tempat ini, tetapi kenapa Anan jadi pocong, ya?" gumam Dita.


"Dimakan, Ta, enak banget loh ini saya jadi mau nambah," ucap Anan seraya mempersilahkan Dita duduk.


"Ibu Surtini ke mana?" tanya Dita.


"Dia tadi masuk, mau ngadonin bakso katanya," jawab Anan.


"Jangan dimakan, Nan!" bisik Dita.


"Hah? Jangan dimakan, mubazir tau udah dibikinin begini, kamu enggak menghormati pemberian ibu tadi kalau begitu," sahut Anan.


Dita memperhatikan sekitar dengan seksama, banyak banget pelanggan di sana menyantap dengan lahap. Dia tak habis pikir kalau warung makan seramai ini menggunakan makhluk penggaris.


"Nan, kamu cuci tangan ke wastafel sana, nanti kamu tau sendiri kenapa aku suruh kamu jangan makan itu," bisik Dita.


Anan mengernyitkan dahi tak mengerti, tetapi karena Dita terus memaksa, ia akhirnya bangkit dan menuruti kemauan wanita itu.


Tak lama kemudian, Anan yang berlari kecil menghampiri Dita.


"Ayo, pulang, ayo kita pulang!" seru Anan menarik tangan Dita.


"Kita pamit dulu," ucap Dita.


Mereka akhirnya pamit pada Ibu Surtini dengan anaknya. Ternyata Ibu itu sudah memberi dua bekal bungkus mie ayam komplit dengan bakso lengkap pada keduanya. Dita menerimanya sambil memaksa tersenyum.


Di dalam mobil saat menuju perjalanan pulang.


"Hahahaha kena juga kan kamu, gimana rasanya enak kan?" ledek Dita menoleh ke Anan yang masih terlihat menahan mualnya dengan menutup mulut sesekali.


"Jijik banget, Ta, ih nggak nyangka."


"Itu namanya jin penglaris kalau orang yang bisa liat apa dibacain doa makan terus ayat kursi pasti rasanya beda malah mual kalau abis makannya," ucap Dita menjelaskan.


"Tetapi tetep aja namanya ajaran sesat itu orang," sahut Anan.


"Terus makanan ini mau diapain?"


"Buang aja!" seru Anan.


"Hmmm... maaf-maaf deh, maaf banget Yaa Allah kalau aku sampai buang makanan gini," gumam Dita.


Dia teringat penglihatannya tadi, ia menceritakan pada Anan mengenai sosok pocong yang terlihat menyerupai pria di sampingnya itu saat ia berada di kedai tersebut.


"Jadi, maksud kamu, aku pocong gitu?" tanya Anan.


"Ya, begitu deh, gimana kalau kita tanya Anta soal penglihatan aku?" tanya Dita.


"Boleh deh, nanti malam dia ikut kan jualan di pasar malam?"


Anan menoleh sekilas pada Dita.


"Iya, dia ikut."


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni