Anta's Diary

Anta's Diary
Bone



Happy Reading...


*****


Tiba-tiba makhluk kerdil yang tadi berada di dalam ruang kepala sekolah datang. Makhluk itu seperti layaknya kera tapi lebih kecil dari kera pada umumnya karena banyak ditumbuhi rambut dan memiliki ekor. Wajahnya terlihat seperti seorang anak perempuan dengan tubuh layaknya kera.


Ia menarik tangan Mey dan mengigitnya dengan keras. Gadis itu berteriak dan melepas tubuh Anta. Ia juga melempar makhluk kerdil tadi sampai membentur lantai lapangan basket di sekolah tersebut.


"Ada apa sih Pak, rame banget di lapangan sama?" tanya Fani pada Pak Herdi.


"Kalian tetap di sini, tidak ada yang boleh keluar dari sini, sebelum polisi datang," ucap Herdi.


Pria itu sudah menghubungi polisi dan rumah sakit jiwa tetapi entah mengapa mereka tak kunjung tiba di sekolah tersebut.


"Kamu harus membakar kalung yang berada di leher gadis tersebut, sebelum kawan-kawanmu mati mengenaskan," ucap makhluk kerdil itu pada Anta.


"Kamu bisa berbicara?" tanya Anta.


"Nanti saya jelaskan, cepat lakukan, aku akan mengigit dia kembali," ucap makhluk kerdil itu.


Anta melihat Ria yang mulai jatuh tak sadarkan diri. Dion dengan sigap menolongnya. Begitu juga dengan Arga dan Arya yang tubuhnya mulai lemas. Gadis itu bertekad untuk segera memusnahkan Nyi Ageng.


Gadis itu berhasil mendapatkan kalung di leher Mey, ia lalu berlari menuju dapur di kantin untuk membakar kalung tersebut. Namun, tenaga Nyi Ageng cukup besar, ia berhasil lepas dari cengkeraman makhluk kerdil lalu mengejar Anta.


Gadis yang kerasukan itu menarik rambut Anta yang sedang membakar kalung di atas kompor. Terjadi perkelahian antara keduanya. Tiba-tiba tabung gas di kantin itu meledak dan membuat keduanya terpental.


"Anta!"


Arga, Dion dan Arya berusaha untuk bangkit dan menyelamatkan gadis itu. Kobaran api sudah membumbung tinggi. Asap hitam menyelimuti kantin tersebut. Bahkan api mulai menyebar ke sekolah.


Tubuh Mey terbakar dan terlihat berlari menyelamatkan diri. Pak Herdi langsung menyelamatkan para murid. Para hantu yang mulai bebas dari sekolah karena sekolah itu terbakar, mulai beterbangan ke luar. Mereka melayang pergi.


Pak Herdi meminta tolong warga sekitar untuk menggotong tubuh Ria, Dion, Arya, dan Arga yang mulai lemas.


"Ayah, Anta masih di dalam..." lirih Arya.


"Asap terlalu tebal, Ayah enggak bisa masuk ke sana," ucap Herdi.


"Aku aja yang masuk," sahut Anan yang baru saja tiba bersama Dita. Tasya menghubungi pria itu dan Dita agar pergi ke sekolah menyelamatkan Anta.


Kecurigaan Tasya terbukti karena memang Mey berhasil sampai ke sekolah mencari Anta.


"Nan, kamu yakin?" tanya Dita.


"Aku yakin, kamu di sini aja, jagain yang lain," ucap Anan lalu ia menoleh pada Arya.


"Anta ada di mana tadi?" tanya Anan.


"Deket kantin, Om," jawab Arya lirih.


Pria itu melangkah pasti seraya menutup tubuhnya dengan jaket di tubuhnya. Ia mencari Anta di kepulan asap tersebut. Betapa terkejutnya Anan, ketika hantu pinky dan para hantu yang kenal dengan Anta melindungi gadis itu dari serangan api.


Putrinya juga terlihat memeluk makhluk kerdil yang tadi menolong Anta. Anan segera mengangkat putrinya itu dan membopongnya. Ia menoleh ke arah para hantu tersebut.


"Terima kasih sudah menolong Anta, kalian sekarang bisa pergi dengan tenang," ucap Anan.


Para hantu itu tersenyum lalu pergi melayang kembali ke alam baka dengan tenang. Anan lalu melangkah menuju ke luar sekolah membawa Anta yang masih memeluk makhluk kerdil tadi. Gadis itu masih tak sadarkan diri.


Dita segera menyambut kedatangan keduanya. Mobil ambulans sudah datang bersama dengan mobil polisi dan mobil rumah sakit jiwa. Entah kenapa mereka tersesat dan berputar-putar arah saat menuju SMA Satu Jiwa.


Semua korban dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga, Anan dan Dita menemani Anta kala itu menuju ke sana. Begitu juga dengan Herdi yang menemani Arya. Ia juga menghubungi orang tua Dion dan Ria mengenai kondisi mereka yang berada di rumah sakit.


***


Anta terbangun di rumah sakit, ia melihat Dita menemaninya. Tangannya masih diinfus kala itu.


"Bunda..." lirih Anta.


"Eh, Anta udah bangun, mau minum?" tanya Dita.


Ia segera meraih gelas berisi air dan membantu anta untuk minum.


"Yang lain bagaimana?" tanya Anta.


"Tante Tasya kamu juga dirawat di sini ditemani si Raja, Tante Dewi juga dirawat di sini ditemani Andri, terus temen-temen kamu, Arya, Arga, Dion dan Ria juga dirawat di sini. Alhamdulillah semuanya baik-baik aja," ucap Dita.


"Alhamdulillah, Anta seneng dengernya, terus Mey gimana?" tanya Anta.


"Kasian Mey, dia cuma dikendalikan sama iblis jahat itu," ucap Anta.


"Ya, Bunda tau," ucap Dita tak sadar menyebut dirinya sendiri Bunda.


Perkataannya mengejutkan Anta kala itu. Gadis itu tersenyum senang kala mendengarnya.


"Yanda mana? Tadi kayaknya Anta lihat wajah Yanda yang nolong Anta, sekarang mana?" tanya gadis itu.


"Coba bentar, tadi sih ada di luar, aku panggil dulu ya," ucap Dita.


Anan dan Dita lalu kembali masuk seraya membawa makhluk kerdil yang pria itu sembunyikan dalam jaketnya.


"Ini namanya Bone, dia cari kamu katanya mau bilang terima kasih sudah membebaskan dia di ruang kepala sekolah," ucap Anan menunjukkan mahluk kerdil itu.


"Hai, Anta, nama kamu Anta, kan?" tanya Bone.


"Hai, Bone, terima kasih ya sudah menyelamatkan Anta," sahut gadis itu.


"Justru aku yang harus berterima kasih, kamu telah menyelamatkan aku dari ibuku sendiri," ucapnya.


"Hah, Ibu kamu sendiri?" tanya Anta dan Dita bersamaan.


"Iya, kata dia ibu kepala sekolah itu ibu dia sendiri. Dia beneran tega sampai anak sendiri dijadikan media pesugihan," ucap Anan.


"Maksudnya?" tanya Anta dan Dita bersamaan lagi.


Bone lantas menceritakan masa lalunya sebelum ia berubah menjadi makhluk kerdil seperti kera kecil itu.


***


Hari itu tepat di hari Jumat Kliwon, ayah dan ibu Bone melakukan perjanjian kepada makhluk gaib berupa pesugihan untuk mendapat kekayaan secara cepat agar sekolah yang mereka bangun dapat berkembang dan menjadi sekolah terfavorit di kotanya.


Setelah pulang dari dukun, mereka lantas menyediakan kamar khusus untuk meletakkan makhluk kerdil seperti kera yang sudah diberikan oleh seorang dukun bernama Mbah Sakunti. Makhluk kerdil itu lalu dikurung di dalam sebuah kandang yang terbuat dari perak. Orang tuanya menyimpan secara tersembunyi.


Suatu hari kedua orang tua Bone pergi dan meninggalkan gadis kecil berusia 10 tahun itu. Suara berisik terdengar dari kamar orang tuanya dan membuat gadis itu penasaran. Ia yang sendirian kala itu masuk ke dalam kamar orang tuanya yang tak terkunci.


Gadis itu penasaran lalu membuka lemari tempat makhluk kerdil itu berada. Ia berhasil membuka lemari tersebut lalu duduk di lantai memandangi makhluk kerdil itu dengan saksama.


Makhluk itu mempunyai hidung kecil, kulit yang berbulu lebat, dengan mata hitam seperti kera kecil pada umumnya. Saat itu keluarga Bone dikenal sebagai orang terkaya di desa. Setahun berlalu sudah dengan pesugihan yang mereka lakukan.


Ada salah satu tetua desa menaruh curiga dan membuat kedua orang tua Bone merasa tersudut sehingga mereka pindah dari desa tersebut. Mereka pergi ke kota dan membuat Sekolah Satu Jiwa. Mereka juga membangun rumah mewah dan memiliki tiga mobil yang berjejer di garasi. Tidak ada yang tahu jika semua kekayannya didapat dari hasil pesugihan.


Bone memutuskan untuk membuka kandang tersebut. Setelah kandang dibuka, makhluk kerdil itu malah mengigit tangan Bone dan tidak mau dilepas. Gadis itu berteriak -teriak kesakitan dan meminta tolong. Anehnya para pembantu tak ada di rumah besar itu. Rumah itu sangat sepi.


Bone berusaha lari ke dapur dan meraih pisau. Ia tancapkan pisau tersebut ke makhluk kerdil itu darah bercucuran dari tubuh makhluk kerdil itu begitu juga dari lengan Bone yang digigit. Tiba-tiba angin membuka kaca jendela yang ada di dapur dengan sangat kencang.


Saat itu juga ia melihat sosok tinggi besar seperti kera tetapi dengan tanduk tajam di kepala. Dada gadis itu bedetak dengan kencang hingga keringat dingin membasahi tubuhnya. Makhluk itu menyerang gadis tersebut sampai ia tak sadarkan diri.


Orang tua Bone yang pulang sangat terkejut melihat putrinya sudah bersimbah darah.


"Bagaimana ini, Bu, pesugihan kita mati," ucap ayahnya.


Ibu Wahyuni berteriak kalau anaknya masih hidup.


"Jika kita selamatkan Bone, kita akan kehilangan harta kita, Bu," ucap sang suami.


"Ibu enggak siap, Pak, aku enggak mau jatuh miskin lagi, toh kita masih bisa melihat Bone hidup di makhluk kerdil ini," ucap sang istri.


Semenjak itu roh Bone berpindah ke makhluk kerdil tersebut. Namun, sejak ada pembantu Ibu Wahyuni yang memiliki mata batin dan takut membahayakan dengan membuka rahasia pesugihannya, akhirnya Bone disembunyikan di sekolah. Wanita itu mulai mencari tumbal di sekolah demi kemajuan sekolahnya.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Vie punya cerpen baru, yuk mampir


"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon


Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.


Follow IG : @vie_junaeni