Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Tante Dewi Hamil?



Happy Reading.


*****


Pagi itu, Tante Dewi membuat kehebohan. Sudah satu minggu ini dia mengalami mual, muntah, dan merasa pusing seperti layaknya wanita hamil.


"Apa jangan-jangan kamu hamil, Dew?" tanya Andri.


"Mana mungkin aku hamil, ngaco ah! Rahim aku udah diambil tau, udah nggak mungkin hamil," ucapnya.


"Oh iya ya, tapi...." Andri menghela napas berat.


Ekor mata milik sang istri terlihat mengamatinya.


"Maaf ya, Ndri, maaf belum bisa jadi istri yang sempurna buat kamu," ucap Dewi.


Wanita itu mencoba melangkah dan mendadak saja ia jatuh tak sadarkan diri.


"Wi, Bangun Wi!" seru Andri.


Dita yang baru saja sampai mengantarkan pisang goreng keju untuk sarapan langsung terkejut. Ia meletakkan piring berisi panganan itu di atas meja.


"Tante Dewi kenapa?" tanya Dita panik.


"Seminggu ini dia mual kayak orang hamil, terus dia pingsan gini," ucap Andri yang mencoba membopong sang istri.


"Hamil? Tapi, kan ...."


"Ta, tolong kunci mobil di atas meja laptop!" pinta Andri.


"Oke." Dita segera meraih kunci mobil lalu melangkah menuju mobil Andri untuk membuka pintunya.


Anan yang bersiap memanaskan mobil pick up miliknya untuk mengantar Raja dan Anta ke sekolah mendadak terhenti.


"Tante Dewi kenapa, Nta?"


"Aku mau antar dia ke rumah sakit ya sama Andri tolong jaga si kembar," ucap Dita.


"Lho, tapi anak-anak mau sekolah gimana?" tanya Anan.


"Minta anterin Pak Herdi numpang aja!" seru Dita.


"Restoran tutup dulu, Nan, gue takut seharian ini," ucap Andri.


"Oke deh, nanti kabarin aja ya," pinta Anan.


"Love you, Yanda, assalamualaikum." Dita melambaikan tangan dari dalam mobil.


"Love you too, walaikumsalam." Anan balik melambaikan tangannya.


"I love you more, Nan!" seru Andri lalu melajukan mobilnya pergi.


"Dih, mau muntah gue dengernya." Anan mengerucutkan bibirnya.


Anta dan Raja keluar dari dalam rumah.


"Kalian numpang sama Herdi, ya," ucap Anan.


"Emangnya kenapa, Yanda?" tanya Anta.


"Tante Dewi tadi dibawa ke rumah sakit, Bunda ikut anter ke sana. Yanda disuruh jagain Adam sama Dira," ucap Anan.


"Lho, Mama Dewi sakit apa?" tanya Anta mulai panik.


Anta dan Raja lantas mencium punggung tangan Anan lalu pamit pergi.


Sesampainya di halaman rumah Tasya, Anta menceritakan perihal yang terjadi pada Tante Dewi.


"Duh, kenapa ya kira-kira, aku harus hubungi Dita kalau begitu," ucap Tasya yang sudah bersiap mendorong stroler si kembar menuju ke rumah Dita karena memang biasanya dia selalu membawa anak kembarnya ke sana sampai Herdi pulang kerja.


"Anta juga nggak tau, Tante."


"Ya udah kita berangkat sekarang!" ajak Herdi.


"Raja duduk di depan aja biar aku duduk sama Anta di belakang ya, Yah?"


"Enggak!" Herdi dan Tasya menyahut bersamaan.


"Anta duduk di depan, Raja di kursi belakang sama kamu. Dasar modus aja bisanya!" seru Tasya.


"Ah, Bunda... kayak nggak pernah muda aja!" sahut Arya.


"Pernah muda, kok, tapi nggak kecentilan kayak kamu, huh!" Tasya sampai menarik daun telinga anak tirinya itu.


"Ampun, ampun Bunda cantikku yang paling baik sedunia," ucap Arya dengan jurus mautnya.


Tasya lalu menepuk pipi Arya dan mencubit dengan gemas.


"Nah, begitu dong!" ucap Tasya.


Wanita itu lalu menghampiri Raja dan ingin mencubit kedua pipi anak itu yang terlihat chuby.


"Jangan, jangan mendekat!" Raja langsung menjauh.


"Kenapa sih, Ja? Tante pengen cubit kamu tau gemes soalnya," ucap Tasya.


"Nggak mau, aku udah gede. Malu kalau digituin terus," sahut Raja.


"Udah sih Bunda, Raja udah punya pacar makanya malu, hehehe. Cubit pipi aku aja, nih," ucap Herdi menyodorkan pipinya.


"Ih, kalau ini sih dicium gemes nggak usah dicubit." Tasya menangkup wajah Herdi lalu membawanya untuk mendekat.


"Woi! Jangan pakai adegan 21 plus apa depan kita!" seru Arya seraya bertolak pinggang.


"Eh, lupa. Lagi banyak bocah, hehehe." Tasya dan Pak Herdi meringis.


Anta, Arya dan Raja lantas masuk ke dalam mobil. Herdi pamit pada Tasya. Wanita itu meraih tangan sang suami dan memberi kecupan di punggung tangan pria itu. Herdi lantas mencium bibir Tasya secara spontan begitu saja.


"Ups, maaf kebiasaan, hehehe," ucap Herdi.


"Ya ampun, mata aku ternoda," sahut Raja yang langsung menutup kedua matanya.


Arya mencolek bahu Anta dari kursi belakang. Gadis itu langsung mengarahkan kepalan tangan hendak meninju pemuda di belakangnya.


"Hayo, mau ngapain colek-colek?" tanya Anta.


"Hehehe, kali mau coba tes kapan-kapan," sahut Arya.


"Tes apaan?" sahut Raja yang menatap ke arah Anta dan Arya bergantian.


*****


To be continue...


Jangan lupa vote, komentar dan like ya.