Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Kelakuan Arya



Happy Reading...


*****


"Arya kamu jalan di depan Anta, dong! Kan kamu cowok masa Anta yang jalan depanan," sungut Anta.


"Oh, kirain emang kamu mau jalan duluan, oek aku depanan."


Padahal dalam hati Arya, pemuda itu tampak ketakutan memasuki hawa dingin yang terasa aneh kala memasuki rumah Pak Aji.


"Nunduk ya, Nta, biar nggak ketauan," bisik Arya.


"Oke."


Baru beberapa langkah menyusuri rumah samping, secara mendadak Arya menghentikan langkahnya. Anta sampai menabrak bokong pemuda tersebut.


"Duh, Arya jangan berhenti mendadak dong!" bisik Anta.


"Maaf, Nta, kamu dengar sesuatu nggak?" bisik Arya.


"Eh, ada yang nangis ya?" tanya Anta.


"Nah, makanya aku berhenti. Anta duluan di depan aku ya?" Arya langsung mengubah posisi bergerak ke belakang tubuh gadis itu.


"Ini kenapa Arya jadi takut banget sih?"


"Yang calon Ratu Kencana Ungu kayak Bjnda Dita itu kamu, aku hanya mendampingi. Jadi, aku mendampingi kamu dari belakang saja, ya," lirih Arya.


"Hadeh ... untung cinta sama ini cowok," keluh Anta menghela napas dalam.


"Apa, Nta? Kamu ngomong apa barusan?" Arya mencoba memastikan pendengarannya.


"Nggak ngomong apa-apa!" ketus Anta lalu bergerak maju kembali.


Anta dan Arya bergerak di samping rumah itu sampai bertemu dengan Arga yang di belakangnya ada Ria.


"Kalian nemu sesuatu, nggak?" tanya Arga.


"Anta nggak nemu apa-apa, tapi kita denger ada yang nangis," ucap gadis itu.


"Kayaknya juga nggak ada orang di dalam rumah," bisik Arga mencoba mengintip ke jendela dapur.


"Eh, nanti keliatan loh," cegah Ria.


"Tadi aku juga udah ngintip jendela depan nggak ada orangnya," sahut Arga.


"Eh, bentar kita duduk aja capek bungkuk terus!" ajak Anta yang duduk di atas rerumputan itu.


"Kayaknya ada yang aneh, deh," ucap Arya menunjuk ke arah Arga dan Ria.


"Aneh kenapa?" tanya Ria yang bersiap mengarahkan lensa kameranya ke segala arah.


"Iya ya kayak ada yang aneh," sahut Anta seraya mengetuk ujung dagunya dengan jari telunjuk.


Sampai ke empat remaja itu saling bertatapan satu sama lain.


"Mike!"


Anta, Arya, Arga, dan Ria berucap bersamaan.


"Mike ke mana?" tanya Anta.


"Tadi ada di belakang aku," sahut Ria.


"Terus kenapa dia bisa hilang?" tanya Anta lagi.


"Mana aku tahu!"


"Udah stop! Jangan terusin kayak bola pingpong gini ngomongnya!" Arga melerai Anta dan Ria.


"Ke mana emangnya itu si bule, kaga izin apa sama kalian?" tanya Arya.


"Beneran Arya, si Mike dari tadi ada di belakang aku," ucap Ria bersikukuh.


"Sstt ... pada diem dulu deh! Beneran tau ada suara yang nangis," ucap Anta.


Gadis itu mencoba memicingkan kedua matanya kala melihat ujung sepatu yang terlihat di balik dinding rumah tersebut.


"Itu siapa yang tiduran di situ?" tunjuk Anta.


"Kayaknya itu sepatunya Mike," sahut Ria.


"Ayo, samperin!" Arga melangkah terlebih dulu untuk menghampiri Mike.


"Yah ... dia tidur di sini," ucap Arya.


"Kayaknya dia pingsan, deh." Arga mencoba menepuk pipi Mike untuk menyadarkannya.


"Duh, aku nggak bawa minyak angin lagi," ucap Ria.


"Gampang, gue tau solusinya." Arya angkat bicara seraya melepas sepatu yang dia gunakan.


"Kamu mau ngapain?" tanya Anta.


"Kaus kaki aku belum ganti dari tadi pagi, kali aja mempan, hehehe." Arya bersiap mendekatkan ujung kakinya dengan hidung lancip bak perosotan TK milik Mike.


"Ih, Arya jorok!" Anta sampai menepuk bahu pemuda itu.


Ria sampai melirik jijik melihat kelakuan Arya. Arga malah tertawa melihat kekonyolan sahabatnya itu. Perlahan kemudian, Mike terbatuk-batuk dan tersadar dari pingsannya. Arya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu skets putih miliknya.


"Kok, hidung gue gatel ya, mana bau terasi gitu?" Mike mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seraya menggosok-gosok ujung hidungnya dengan punggung tangan.


*****


To be continue...