Anta's Diary

Anta's Diary
Di Pasar Buah



Happy Reading...


*****


Rupanya Pak Hartono sedang bersama dengan Dina. Namun, ada yang membuat Anan dan Dita saking menatap satu sama lain kala pria itu turun dari dalam mobilnya. Sosok menyeramkan yang duduk di kursi belakang itu terlihat mengintip dari dalam mobil ayahnya Ria.


"Anan, itu...."


Sosok anak perempuan itu menoleh ke arah Dita dan Anan. Terlihat dari mata anak perempuan itu mengeluarkan tetesan air mata darah, lehernya seperti patah berbunyi krek krek saat dia memiringkan ke kanan dan kiri.


Hantu itu perlahan ke luar menembus pintu mobil. Kedua kaki hantu yang mulus itu kemudian berubah menyeramkan dengan urat hijau yang terlihat di kaki jenjang nya. Perempuan itu tersenyum menyeringai pada Dita dan Anan.


"Kalian pada bengong bareng gitu pada kenapa sih, pada ngeliat setan?"


Hartono menyentak Anan dan Dita. Tak ada jawaban dari keduanya karena masih fokus pada hantu anak perempuan yang tersenyum menyeringai itu.


Ponsel milik Hartono berdering, rupanya klien bisnis yang mau ia temui menelepon. Setelah dia berbicara di telepon dan memutus hubungan ponsel tersebut, ia kembali menatap Anan dan Dita.


"Kalau aja saya lagi enggak buru-buru udah daya seret kamu. Nanti saya kirim tagihan perbaikan mobil ke rumah kamu lewat Dina. Awas kalau kamu kabur!" ancam Hartono.


Anan yang tersentak dengan suara bentakan pria itu lalu menganggukkan kepala. Ia juga melirik tajam pada Dina yang sedari tadi menunduk tak mau menatapnya.


"Masuk, Din, kita ganti mobil dulu!" ucap Hartono memberi perintah pada Dina dan tak ada bantahan dari wanita itu.


Hantu anak perempuan tadi lantas masuk ke dalam mobil dan duduk kembali di kursi kedua tempat semula tadi.


"Itu hantu apa korban kecelakaan bapak itu, ya?" tanya Dita.


"Entahlah, kenapa tadi enggak kenalan aja!"


"Ogah amat, udah yuk berangkat lagi!" ajak Dita.


"Oke deh, hmmm aku harus mikirin duit buat ganti kerusakan mobil si bapak tadi," gumam Anan.


"Yang sabar ya, kamu harus semangat, kamu pasti bisa," ucap Dita.


"Iya, aku pasti bisa, asal ada kamu di samping aku," ucap Anan mencoba menggoda Dita.


"Apaan sih, enggak jelas!"


***


Butuh waktu satu jam perjalanan darat untuk Anan dan Dita lalui menuju pasar buah. Secarik kertas leaflet terbang sampai menutupi wajah Dita saat di perjalanan. Anan langsung tertawa melihatnya.


"Duh, rese banget anginnya mana ini brosur sedot wc nempel di muka aku, emangnya muka aku tempat tinja apa?" keluh Dita.


Anan kembali tertawa mendengarnya.


"Eh, nanti di pasar malam ada live band, ada banyak bazar kuliner juga, pastinya banyak pertunjukan menarik di sana, ya?" tanya Dita seraya membayangkan suasana pasar malam nanti.


"Iya pastinya seru," sahut Anan.


Terpaan embusan angin membuat rambut panjang gadis itu tergerai mengikuti aliran angin yang berembus. Anan meliriknya sekilas, aura cantik wanita itu mampu membuatnya terbuai. Apalagi ketika Dita melayangkan senyum padanya.


"Setel musik ya," pinta Dita.


Suara alunan dari lagu Sheila On 7 berjudul "Dan" terdengar. Dita jadi merasa risih ketika menangkap Anan yang sedang memandangnya sesekali saat fokus menyetir.


"Fokus nyetir aja, Nan, biar enggak tabrakan lagi, kasian mobilnya ditabrakin terus," ucap Dita.


"Hehehe... Udah tahan banting mobil ini, maklum turunan autobot," jawab Anan.


"Hahaha... kalah dong optimus prime sama mobil pick up ini," sahut Dita.


Keduanya tertawa lalu bernyanyi bersamaan mengikuti musik yang terdengar dari radio mobil itu.


***


Mereka akhirnya sampai di pasar buah, Anan izin pada Dita untuk pergi ke toilet. Ia sudah menahannya sepanjang perjalanan tadi. Pria itu menuju toilet dalam pasar yang terlihat kurang nyaman.


"Duh, bau banget, terpaksa deh perut gue tiba-tiba aja mules," gumam Anan.


Pria itu berjongkok di atas kloset jongkok itu untuk melaksanakan buang hajat. Sesekali ia bersiul di dalam toilet itu. Namun, seketika itu juga hawa dingin langsung merasuk.


"Perasaan gue enggak enak, nih," gumam Anan.


Dia berusaha menjangkau gayung di dalam bak. Tangannya tak dapat juga meraih gayung tersebut karena ada sosok lain yang menjahilinya. Anan lalu menoleh pada samping kanan bak kecil dalam toilet.


Ia langsung tersentak kala melihat sosok kuntilanak tersenyum kepadanya. Wajahnya sangat pucat dengan warna merah melingkar di sekitaran kedua matanya.


"Haduh, lupa baca doa masuk wc saking mulesnya gini nih," gumam Anan.


Ia kembali mengamati hantu tersebut meski agak takut juga.


Hantu kuntilanak itu lalu mengangguk sambil menyisir rambut acak-acakan dengan sisir kayu di tangannya yang hitam dan penuh luka borok.


"Aduh, Mbak lihat burung gue, dong?" tanya Anan.


Hantu perempuan itu lantas tertawa cekikikan.


"Haduh, gue belum kawin tau, masa senjata kebanggan gue situ yang liat pertama kali, apes banget dah gue," keluh Anan.


"Mbak, tolong gayungnya ke siniin, saya mau cebok!" pinta Anan.


Hantu perempuan itu menggelengkan kepalanya tak mau memberikan gayung itu. Dia malah tertawa cekikikan meledek Anan.


"Yee, jangan sampe daster elo gue tarik buat cebokin bokong gue, nih!" ancam Anan.


Akhirnya hantu perempuan itu menyerahkan gayung pada Anan sambil tertawa cekikikan.


"Nah, gitu dong! Terima kasih."


Anan selesai membersihkan hadasnya dan juga kloset dalam toilet itu.


"Mbak, enggak ada yang jaga pintu depan toilet, gue bayar ke mana?" tanya Anan.


Hantu perempuan itu menunjuk kotak kecil di seberang toilet tersebut. Kotak iuran itu ternyata tertutup oleh kemeja si penunggu toilet yang entah sedang pergi ke mana.


"Oh, itu kotaknya, oke deh makasih ya, jangan sampai jumpa lagi," ucap Anan meninggalkan toilet tersebut seraya meletakkan uang kertas lima ribuan ke dalam kotak iuran.


Hantu kuntilanak itu melambaikan tangannya pada Anan seraya tertawa cekikikan kembali.


Saat Dita sedang memilih buah segar, seorang preman tampak menghampiri wanita itu dan mengganggunya.


"Halo manis, sendirian aja, nih?" sapa seorang pria berambut panjang seleher. Kaca mata hitamnya di lepaskan dan disematkan di kerah kemeja bermotif pantai itu.


Dita tak menjawab, ia masih fokus memilih buah segar sambil merapihkan tas yang ia gunakan. Wanita itu harus waspada agar tidak kecopetan.


"Woi, punya kuping, kan?"


Preman itu menggebrak meja etalase sampai membuat Dita dan si penjual terkejut.


"Abang negor saya? Waduh, saya pikir Abang manggil si manis itu manggil kucing yang itu," ucap Dita seraya menunjuk kucing belang tiga yang ada di sudut pasar di hadapannya.


Anan datang menghampiri Dita.


"Kamu digangguin sama dia?" bisik Anan.


"Belum sih, cuma negor doang dianya," jawab Dita.


"Oh, ada pacarnya toh, makanya jangan diam aja kakau ditegur," ucap preman itu.


Anan tersenyum bangga seraya merangkul Dita.


"Apa-apaan, sih?" bisik Dita.


"Biar aja dia nyangkain kita pacaran, biar enggak gangguin kamu," bisik Anan.


"Nah, kalau gitu bagi duit?" pinta preman tersebut.


"Ta, mending kita lari deh, gue mending berurusan sama hantu daripada sama preman," bisik Anan.


"Duh, gimana sih, cemen banget, huh!" keluh Dita seraya melirik Anan dengan tajam.


Preman itu makin mendekat dan mencengkeram kerah pakaian Anan.


"Elo bawa dompet, kan?" tanya preman itu.


Anan mengangguk, mengiyakan seraya melirik ke arah Dita.


"Nah—"


Tiba-tiba, preman itu melepas cengkeraman di kerah pakaian Anan. Wajahnya terlihat ketakutan seperti melihat sesuatu yang menyeramkan. Bukan hanya preman itu, tetapi Dita juga tampak ketakutan memandangi sosok menyeramkan yang ada di belakang tubuh Anan.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni