
Happy Reading...
*****
"Hmmm... I love you Arga, aku akan lebih berjuang buat dapetin kamu tanpa ilmu sihir."
Ria menghela napas panjang lalu membuang botol kaca kecil itu ke jalan raya.
"Yah, jangan buang, yah pecah...."
Arya tak sengaja bangkit dan berdiri lalu menghampiri botol kecil yang sudah pecah terlindas ban mobil itu.
"Arya! Kamu dari tadi di sini?" Anta berseru seraya bertolak pinggang.
"Hehehe..."
"Arya dari tadi dengerin pembicaraan kita, dong?" tanya Ria ikut bertolak pinggang juga.
"Ya, gitu deh, hehehe..."
"Kenapa pakai ngumpet segala?"
Anta menarik kerah Arya penuh ancaman.
"Gue, eh aku enggak mau ganggu jadi aku diem aja di situ, mana digigit semut segala lagi," sahut Arya.
"Ih, Arya nyebelin! Nanti pasti kamu ngadu deh sama Arga, iya kan?" terka Ria.
"Enggak kok, tenang aja, aku enggak akan bilang. Cuma sayang aja tadi botolnya di lempar gitu, mendingan kasih ke aku," ucap Arya seraya tersenyum nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kamu mau ngapain emangnya pakai botol itu?" Anta menjewer daun telinga Arya sekarang dengan wajah kesal.
"Aduh, sakit Anta, ampun!"
"Jawab dulu, mau ngapain ambil botol itu?" tanya Arya.
"Aku mau pelet kamu lah. Aku udah ngerasa enggak punya kesempatan lagi buat dapetin kamu. Tadinya aku pikir aku mau ngalah dan menerima kenyataan kalau kamu sayangnya sama Dion bukan sama aku, tapi denger soal ramuan cinta tadi sempet buat aku mikir untuk melakukan hal yang sama kayak Ria ke Arga. Aku tau itu salah, tapi emang cinta aku ke kamu juga salah?"
Anta melepaskan tangannya dari telinga Arya. Gadis itu terdiam dan entah harus berkata apa. Sama halnya dengan Ria, gadis itu sampai kehabisan kata-kata mendengar pengakuan Arya yang mungkin sudah tak tertahan untuk dikeluarkan.
"Cinta Arya ke Anta enggak salah, kok, hanya saja..."
Anta melangkah pergi tetapi Arya langsung menahan tangan gadis itu.
"Maafin Arya."
"Arya enggak perlu minta maaf, yang salah kan Anta. Lepasin, Ya!"
Anta menarik tangannya dari genggaman tangan Aryan. Gadis itu lalu masuk ke dalam restoran untuk mencari minum. Satu gelas berisi air soda rasa lemon ia teguk sampai habis.
"Haus, Nta?" Dion hadir di samping gadis itu.
"Lumayan haus," sahut Anta.
"Anak-anak lagi pada nari pasangan tuh, yuk ikutan!" Dion menarik tangan Anta untuk berdansa bersama.
Arya yang tadinya hendak masuk menghampiri Anta jadi menghentikan langkahnya kala melihat Dion sudah menggandeng tangan gadis itu dan mengajaknya berdansa. Pemuda itu menghela napas berat lalu berbalik arah.
"Arya mau ke mana?" tanya Ria.
"Gue mau pulang! Oh ya, tolong kasih ini ke Dion, dia lebih berhak dari gue!" Arya menyerahkan kotak hitam berisi gantungan kunci pasangan ke tangan Ria. Gantungan kunci yang sama yang Anta sematkan di tas kecil gadis itu.
"Ini apa?" tanya Ria.
"Bilang aja hadiah perpisahan dari gue!"
"Kenapa enggak kamu aja yang kasih ke Abang Dion?" tanya Ria dengan berteriak kala Arya sudah jauh melangkah.
Pemuda itu hanya mengangkat tangan kanan dan menunjukkan ibu jarinya kala itu.
"Hmmm... kayaknya Arya udah nyerah nih deketin Anta," lirih Ria.
"Siapa yang nyerah?" Arga memeluk Ria dari belakang mengejutkan gadis itu.
"Eh, Arga, ka-kamu, kamu sejak kapan di sini?"
"Baru aja kok, kamu bilang siapa yang nyerah?" tanya Arga lagi.
"Hmmm... Arga mau minta putus ya dari aku?" Ria melepaskan pelukan pemuda itu dan berbalik badan menatap sosok pemuda yang ada di hadapannya.
"Aku enggak ngerti kamu ngomong apa?"
Ria menahan napas cukup lama lalu menghembuskannya.
"Haargghh! Aku pasti bisa bilang ini."
Gadis itu merasakan kelegaan saat itu juga.
"Aku makin enggak ngerti kamu kenapa, kita masuk aja, yuk!" Arga hendak meraih tangan Ria dan mengajak gadis itu masuk ke dalam, tetapi Ria menepisnya.
"Arga ngerasain sesuatu yang aneh enggak setelah habis pesta BBQ kemarin?" tanya Ria yang akhirnya memberanikan diri.
"Maksud kamu?"
"Oh, aku tau maksud kamu."
"Hah, kamu, kamu tau jadinya kalau aku berusaha untuk pelet kamu dan buat kamu suka sama aku terus nembak aku, duh tambah runyam hidupku, mati aku!"
"Apa? Kamu pelet aku? Pakai apa?"
"Pakai ramuan cinta, maafin Ria ya, aku tau kamu pasti langsung marah sama aku bahkan kamu bisa lebih dari marah, bahkan benci sama aku. Tapi, aku udah enggak bisa mikir sehat lagi, karena aku terlalu cinta sama kamu, aku mau kamu cuma punya aku. Jadi aku ngelakuin hal buruk itu supaya kamu jatuh cinta sama aku. Aku bingung bagaimana cara minta maaf yang bener ke kamu."
Ria menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap Arga karena sangat menyesal atas tindakan nekatnya.
"Ria, kamu tadi bilang pelet aku pakai ramuan cinta, itu maksudnya gimana?"
"Aku beli ramuan cinta yang udah aku buang tuh udah pecah botolnya kalau enggak percaya, terus aku masukin ke minuman kamu saat pesta di rumah aku tempo hari. Sehari setelah itu kamu nembak aku. Sekarang aku nyesel, karena aku enggak mau cinta kamu palsu ke aku, aku maunya kamu benar-benar cinta sama aku, hiks hiks hiks."
Air mata itu sudah tak tertahan juga. Bulir bening itu mulai jatuh bercucuran membasahi pipi gadis yang masih menunduk itu.
"Kamu bilang kamu mulai pelet aku pas pesta kemaren?"
Ria menjawab dengan anggukan kepala.
"Berati itu ramuan enggak ampuh, kamu ditipu," ucap Arga berusaha menahan tawanya.
"Maksud Arga?"
"Aku udah mulai suka sama kamu sejak malam persami, aku udah enggak bisa nahan lagi hati aku untuk terbuka buat kamu."
"Malam persami?"
Dengan polosnya Ria menghitung dengan jari jumlah hari dari malam persami sebulan lalu.
"Itu kan udah lama banget, berati duluan persami sama pesta BBQ, jadi?"
"Jadi... Aku udah suka sama kamu sebelum kamu coba pelet aku," ucap Arga menyentuh ujung hidung Ria dengan jari telunjuknya. Pemuda itu bahkan mengusap air mata di pipi gadis itu.
"Jadi, Arga beneran suka sama Ria?"
Arga menjawab dengan anggukan kepala seraya tersenyum.
"Arga beneran cinta sama Ria?"
Arga kembali menganggukkan kepalanya.
"Beneran?"
"Beneran, Ria..."
"Aaaaaaa....!" Ria langsung menghamburkan dirinya ke pelukan pemuda di hadapannya itu.
Arga memeluk Ria dengan erat, sesekali ia mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Ia bahkan memberi kecupan di pucuk kepala gadis itu.
"Makasih ya, makasih buat kamu yang enggak pernah lelah berjuang buat buka hati aku," ucap Arga.
"Sama-sama...." Ria menyahut penuh dengan kebahagiaan.
"Woi! Ya elah pasangan baru, bucin abis!" tegur Dion mengejutkan kedua pasangan yang dimabuk cinta itu.
Anta juga berjalan di belakang Dion dengan senyum penuh tanda tanya.
"Jadi, gimana kelanjutannya, apa jangan-jangan ilmu sihir kamu ampuh banget, sampai botol udah dipecahkan, si Arga masih bucin aja," bisik Anta.
"Enggak kok, ramuannya kw, kaga ampuh, Arga tuh beneran cinta sama aku, kata dia dari pas persami udah suka sama aku, jadi enggak ada pengaruhnya dengan ramuan itu," sahut Ria.
"Serius? Padahal mahal lho lima ratus ribu buat botol mini doang macam itu," ucap Anta.
"Apa, lima ratus ribu? Gila kamu Ria, mending duitnya buat beliin es krim anak-anak yatim," sahut Arga.
"Tuh, bener kata Arga," sahut Anta menunjuk Arga.
Si Ria beliin ramuan pelet buat gue lima ratus ribu, mahal banget, dulu aja gue beli buat pelet si Anta cuma lima puluh ribu, apa gara-gara murah jadi enggak mempan ya?
Arga membatin seraya tersenyum pada Ria dan Anta.
"Si Arya mana, kok enggak keliatan?" tanya Dion.
"Oh iya, ini hadiah dari Arya buat Abang. Tadi dia bilang mau pulang duluan," ucap Ria seraya menyerahkan kotak hitam di tangannya.
"Hadiah? Tumben dia kasih Abang hadiah, jangan-jangan cuma mau iseng lagi. Terus pas Abang buka isinya bom."
Dion langsung berjongkok dan meletakkan kotak hitam itu agak jauh. Ia mengulurkan tangan kanan untuk membuka kotak. Sementara di tangan kirinya ia menutup daun telinganya.
Anta, Ria dan Arga jadi reflek mengikuti kelakuan Dion dengan berjongkok dan menutup kedua lubang telinga mereka.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.