
Happy Reading...
*****
"Apa? Arya bilang Anta cantik?"
Gadis itu langsung menunjuk dirinya sendiri dengan tersenyum puas dan langsung membuat wajah Arya memerah.
Pintu lift terbuka, Mey hadir menyapa Anta dan Arya. Gadis itu memakai dress warna hitam dengan panjang sampai lutut. Ia menyamarkan bentuk tubuh yang lurus. Di bagian dress itu terdapat aksesori di pinggang seperti belt dengan pita. untuk memberi efek lekukan pada pinggang.
"Hai!" sapa Mey.
"Hai, Mey, yuk berangkat!" ajak Anta.
"Anta tunggu, ini sepatunya," ucap Tasya membawakan sepatu dengan tinggi heels lima cm miliknya.
"Memangnya muat?" tanya Anta.
"Ukuran kaki kita kayaknya sama deh, udah pakai aja, dan kalian hati-hati dijalan, ya," ucap Tasya.
Ketiga anak muda itu pamit pergi kemudian.
"Naik taxi aja, yuk!" ajak Arya sesampainya di depan apartemen.
"Tuh, Arga udah dateng," ucap Anta menunjuk mobil yang dikendarai Arga.
"Dia lagi, dia lagi," keluh Arya.
"Bentar, Anta lupa bawa kado buat Dion," ucap gadis itu lalu berlari ke dalam apartemen sambil menenteng sepatu hak tinggi miliknya.
"Hadeh...!"
Mey, Arya dan Arga berucap bersamaan.
Setelah Anta kembali dengan paper bag di tangannya, Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk naik mobil milik Arga menuju restoran tempat Dion melangsungkan acara ulang tahunnya.
***
Sesampainya di restoran The Anan's, halaman restoran itu sudah disulap berbeda. Terdapat panggung untuk penampilan band milik Dion dan pengisi acara lainnya.
Dekorasi gold metalik dan hitam dipakai untuk menghiasi acara perayaan ulang tahun Dion. Walaupun tampaknya terlihat rumit dan mewah alias butuh biaya banyak, sebenarnya hanya terdiri dari beberapa hiasan yang sangat membuat para tamu terpesona.
"Keren juga ide Tante Tasya," gumam Anta menatap kagum
Perpaduan warna gold metallic dan hitam sangat cocok sehingga menampilkan kesan mewah dan elegan. Dion sudah berdiri di depan kue ulang tahun bersama ayah dan ibunya. Rupanya acara akan segera dimulai.
Sang pemandu acara juga sudah memandu acara dengan baik sampai dimulainya tiup lilin pleh Dion. Doa dan sambutan dari orang tua dan kerabatnya juga sudah dilayangkan. Kini tiba pada acara penampilan musik para sahabat Dion dan juga band miliknya.
"Ini buat Kak Dion, selamat ulang tahun," ucap Anta menyerahkan paper bag berisi kaus hitam gambar Linkin Park kesukaan pemuda itu.
"Wah, ini kan kaus yang waktu itu mau gue beli tapi malah lupa beli gara-gara hantu yang bunuh diri di mall itu, makasih ya, Nta," ucap Dion.
"Sama-sama."
"Halo, kamu pasti namanya Anta, ya kan?"
Ibunya Dion mendekat seraya menyapa Anta.
"Halo Tante, kok tau?" tanya Anta.
"Ria cerita banyak soal kamu dan Dion, eh cantik juga ya gebetan kamu," bisik sang Mama.
"Mama apa-apaan, sih, siapa juga yang bilang dia gebetan?" bisik Dion.
"Si Ria lah, siapa lagi. Oh iya Anta silakan ya makan yang banyak jangan sungkan," ucapnya.
"Lha gimana mau sungkan, ini aja restoran Papanya," sahut Dion.
"Oh iya, Mama sampai lupa, Mama samperin papa kamu dulu, ya," ucap wanita itu lalu pergi dari hadapan Anta dan Dion.
Dion terlihat canggung kala melihat penampilan Anta yang terlihat berubah. Gadis itu biasanya terlihat tampak tomboi, tetapi malam itu Anta terlihat lebih cantik.
"Hai, Dion!"
Fani langsung menempelkan tangannya ke lengan Dion.
"Eh, gue punya gosip," ucap Lisna.
"Udah deh males banget dengernya," sahut Dion.
Anta tak mau berurusan dengan dua kakak kelas yang rese itu, ia hendak melangkah menuju Ria tetapi Lisna dan Fani menahannya.
"Eh, tunggu dulu dong, elo enggak penasaran tentang gosip ini apalagi gosip ini tentang elo," ucap Lisna menahan Anta seraya memamerkan layar ponselnya.
Fani sudah terlihat tertawa dan bersiap membagikan gambar pada layar ponselnya di forum sosial media sekolah.
Arya, Arga, Ria dan Mey langsung menghampiri Anta. Mereka langsung berpikir dua gadis itu pasti sedang mengganggunya.
"Iya, ini foto elo. Dion sudah liat fotonya, ini cewek malam-malam sampai hotel sama tuh anak dua," ucap Lisna menunjuk ke arah Arya dan Arga.
"Maksud ucapan Kak Lisna apa, ya?" tanya Anta.
"Ya ampun, jangan sok polos deh, elo ngapain sama mereka berdua, elo main bertiga ya di hotel?" tanya Fani menunjuk Anta dengan tudingannya.
"Main apa? Perasaan Anta kita enggak main apa-apa, malahan ada Tante Tasya, Ibu Dita, Pak Herdi juga lho," jawab Anta.
"Halah, jangan bohong! Gue enggak percaya, jelas-jelas gue lihat di depan Hotel Nirwana cuma elo bertiga. Idih gue enggak nyangka gadis sepolos kayak elo taunya bejat, ih...!" ketus Lisna dan Fani.
"Heh, jaga ucapan kalian, ya!"
Arya yang mulai tersulut emosi hampir saja maju memukul Lisna dan Fani, tetapi Arga sudah menahan pemuda itu. Sementara itu, Dion meraih ponsel di tangan Lisna. Ia mengamatinya dengan saksama.
"Anta enggak ngerti maksud Kak Lisna sama Kak Fani, yang jelas Anta pergi ke situ karena ada urusan bareng Tante Tasya, Ibu Dita sama Pak Herdi, bahkan ada Pak Heru juga, kalau Kak Dion enggak percaya tanya aja sama Ibu Dita atau Pak Herdi, tetapi jangan tanya sama Pak Heru," ucap Anta.
"Kenapa enggak boleh tanya Pak Heru?" tanya Lisna.
"Dia udah meninggal, emang enggak pada tahu?" tanya Anta.
Semua yang mendengar ucapan Anta langsung terkejut, karena mereka belum mendapat kabar kematian Pak Heru.
Secara tak terduga Dion menghampiri Lisna dan meraih ponsel di tangan gadis itu. Ia lantas membanting ponsel milik Lisna ke lantai.
"Dion! Hape gue pecah!"
Lisna berteriak seraya meninju bahu Dion. Gadis itu langsung meraih ponsel yang berserakan itu di lantai. Semua mata para tamu undangan kini mengarah ke arah pemuda yang terlihat marah itu.
"Untung hape elo yang pecah, coba kalau gue pecahin kepala elo!" seru Dion.
"Tenang, Na, biar gue upload ke forum foto cewek ini pake hape gue," ucap Fani yang tersenyum seraya menekan tombol kirim gambar.
Dion menatap dengan tajam penuh kekesalan hendak menghampiri Fani, tetapi Anta dan Ria menahannya.
"Ini acara ulang tahun Abang, jangan bikin Abang tambah malu, biarin aja kelakuan minus mereka begitu," ucap Ria.
"Kalian pergi dari sini, nyesel gue ngundang kalian!" seru Dion.
"Hahaha... oke gue pulang, dan besok senin pasti sekolah rame ngomongin cewek ini," ucap Fani yang menarik lengan Lisna dan mengajaknya ke luar dari pesta Dion.
"Lepasin gue, Ga, emang elo enggak marah si Anta dihina gitu, kita juga kena hina!" ucap Arya mencoba lepas dari tangan Arga.
"Jangan, Ga, kita jangan terpancing emosi, nanti kalau kita mukul mereka, kita kena juga di sekolah, bisa dikeluarkan dari sekolah," ucap Arga.
Fani dan Lisna tersenyum dengan puas meskipun Lisna masih meratapi layar ponsel yang hancur itu. Mereka hendak melangkah pergi.
"Tunggu!" seru Anta.
"Apalagi sih, Nta, biarin aja mereka pulang," ucap Mey menahan Anta.
"Tenang, tunggu aja di sini," ucap Anta.
Gadis itu menghampiri Lisna dan berbisik padanya.
"Kak, dapet salam dari eeiittss..." ucap Anta yang teringat pembicaraannya dengan Tante Key perihal penyakit gadis itu.
"Maksud kamu?" tanya Lisna tak mengerti.
"Gini ya, Anta tuh pernah baca artikel ada anak kelas 12 SMA pergi ke Dokter Hendra di Rumah Sakit Keluarga, terus itu cewek taunya eeiiittss!" ucap Anta meledek seraya mencoba menahan tawanya.
Lisna paham dengan perkataan gadis itu. Ia langsung meraih ponsel Fani dan menghapus unggahan foto Anta di forum sekolah kemudian.
"Kok dihapus, Na?" tanya Fani tak mengerti.
"Nanti gue jelasin, udah gue hapus foto elo, awas ya kalau elo berani macem-macem sama gue!" ancam Lisna menunjuk Anta.
"Dih, siapa yang ngancem orang Anta cuma kasih tau doang, hehehe..." ucap Anta.
Fani dan Lisna lalu pergi dari pesta ulang tahun Dion dengan hati kesal dan dongkol.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni