
Happy Reading...
Dita memeluk pinggang Anta kala itu seraya ketakutan menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu.
"Tante pergi dulu ya, kasian ini Bunda aku penakut ternyata, kalau pingsan Anta berat bopongnya," ucap Anta.
"Tapi janji ya tolong saya," ucap hantu itu.
"Oke, janji. Nanti kita ketemuan lagi," ucap Anta.
Hantu perempuan itu lalu menghilang.
"Kamu aneh, masa hantu diajak ketemuan kayak mau ketemuan sama pacar," ucap Dita.
"Nanti juga biasa. Anta pergi dulu ya ke kelas."
Gadis itu memeluk Dita dengan erat sebelum pergi. Ada perasaan haru yang wanita itu rasakan kala gadis itu memeluknya. Pelukan itu terasa hangat dan menyenangkan. Wanita yang mengenakan kaca mata itu tersenyum saat gadis itu melambaikan tangannya ke luar ruangan.
***
Saat jam kelas berlangsung, Arya dihukum oleh Ibu Fira karena tak mengerjakan tugas kliping pelajaran IPS tentang "Perkembangan Ekonomi di Eropa" itu. Ia dihukum membersihkan toilet dan gudang sekolah. Mey yang sekelas dengannya juga mendapat hukuman.
Mey sebenarnya mengerjakan tugas tersebut, tetapi dia ingin menjalani hukuman bersama Arya. Alasannya agar bisa bersama dengan pemuda itu. Tugas kliping yang ia buat dia sembunyikan.
"Perasaan Anta, si Mey itu ngerjain tugas," bisik Anta pada Ria yang duduk di kursi belakangnya.
"Masa sih? Tuh, buktinya dia enggak ngumpulin tugas," sahut Ria.
Gadis-gadis itu kembali melanjutkan pelajarannya.
Arga yang berada di kelas berbeda saat itu izin ke luar kelas menuju ke kamar mandi. Ia melihat Arya sedang membersihkan toilet.
"Hahaha... elo ngapain di sini?" tanya Arga.
"Gue lagi mancing ikan."
"Ya, gue serius nanya," ucap Arga.
"Elo pikir gue ngapain, gue lagi kena hukuman gara-gara enggak buat tugas sama Ibu Fira."
Arya menyahut dengan nada ketus dan kesal.
"Dasar anak bodoh, hahahaha..." Arga mengejek Arya sambil melaksanakan hajatnya.
"Lah, itu si Mey juga enggak ngerjain padahal dia pinter," ucap Arya.
"Mey?"
"Iya, di toilet cewek seberang situ, dia kena hukuman juga."
"Hmmm... itu sih dia modus biar deket sama elo!"
"Jangan ngarang!"
"Peka dong jadi cowok, gue aja tau kalau dia naksir sama elo. Selamat bersih-bersih, dah..."
Arga menepuk kedua bahu Arya.
"Kampret, elo kan belum cuci tangan habis kencing tuh!"
Arya menepis tangan Arga dan membuatnya terpelintir.
"Aduh, sakit Ya, ampun!"
Namun, terdengar derap langkah seseorang di depan toilet pria itu bersama seorang gadis.
"Bapak Heru mau apa ngajak saya ketemuan di sini?" tanya suara gadis itu.
"Kamu yakin enggak ada yang ikutin kamu?" tanya pria itu.
"Enggak ada, Pak."
"Masa toilet laki-laki, Pak, saya malu," ucap gadis itu.
"Enggak ada yang tahu, ini kan jam belajar. Saya bawa kunci toilet nih. Nanti saya kunci dari dalam."
Arga mengintip dari celah masuk ke dalam toilet.
"Pak Heru, Ya."
"Terus?"
"Ngumpet, ngumpet kita ngumpet!" Arga mendorong Arya ke bilik toilet yang berada di sudut.
Mereka bersembunyi di sana.
"Ngapain kita ngumpet?" bisik Arya.
"Gue mau tau dia mau apa bawa cewek ke sini," bisik Arga.
Pak Heru membawa gadis itu masuk ke dalam toilet. Ternyata gadis itu adalah Lisna siswa kelas 12 sahabat dari Fani. Entah dengan ilmu apa, pria itu dapat menaklukan hati gadis itu sampai menuruti kemauannya.
Pak Heru mengunci pintu toilet tersebut. Ia mulai menyerang Lisna yang memasrahkan diri dijamah oleh pria brengsek itu.
"Ga, mereka ngapain?" tanya Arya berbisik di telinga Arga.
Kedua pemuda itu menghimpit tubuh satu sama lain di bilik toilet yang sempit itu.
"Mana gue tau," jawab Arga.
Suara desahan demi desahan terdengar dari Pak Heru dan Lisna. Tiba-tiba sesuatu menyentuh kepala Arga yang lebih tinggi dari Arya itu. Rambut hitam panjang yang berantakan dan acak-acakan itu lama kelamaan juga menyentuh kepala Arya.
Keduanya menoleh ke atas langit-langit kamar mandi. Dari ventilasi udara yang ada di dinding atap itu terlihat sepasang mata warna hitam mengintip. Perlahan demi perlahan, kepala wanita dengan senyum menyeringai itu terlihat.
Arga dan Arya langsung membekap mulut satu sama lain agar tak berteriak meski tubuh mereka sudah gemetar ketakutan. Parahnya lagi satu bola mata hantu perempuan itu jatuh dan masuk ke saku di seragam Arya.
"Hihihihi...."
Hantu wanita itu perlahan turun dan berdiri di atas kloset. Ia meraih bola mata yang jatuh itu dari saku Arya. Kedua anak muda itu masih tak juga bergerak. Hanya kedua mata mereka saling melirik seolah berbicara satu sama lain.
"Hmm... dasar pria brengsek, belum ada kapoknya menjerat para gadis dungu!" ucap hantu itu.
Ia menembus pintu bilik toilet itu saat ke luar. Ia hendak menganggu kegiatan Heru tetapi ia tak bisa menyentuh pria itu. Hantu wanita itu kembali ke dalam bilik Arya dan Arga.
Tadinya mereka sudah saling melepaskan diri satu sama lain, tetapi saat melihat hantu itu masuk, keduanya kembali berpelukan di sudut dan saling membekap mulut satu sama lain kembali.
"Kalian tau enggak?" tanya hantu itu.
Arya dan Arga menggelengkan kepala bersamaan.
"Aku kasih tau. Bapak guru kalian yang terhormat itu sebenarnya pria kurang ajar, dia enggak layak disebut guru. Dari saya tinggal di sini cuma dia pria bejat di sekolah ini, tapi saya enggak bisa sentuh dia. Padahal saya pengen banget cekik lehernya," keluh hantu itu.
Hantu perempuan yang memakai seragam sekolah itu lantas mendekat ke arah Arya dan Arga.
"Kok kalian enggak pada jawab sih?"
Arga dan Arya kembali menggelengkan kepalanya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni