
Happy Reading...
*****
Tasya dan Pak Herdi baru saja dari rumah pocong Bella. Ternyata kejadian hilangnya tali pocong pada jenazah yang masih perawan dan belum lama meninggal itu bukan pertama kali terjadi di tempat pemakaman umum itu.
Bella merupakan korban ketiga yang jenazahnya kehilangan tali pocong. Konon kabarnya tali tersebut bisa dipakai untuk pesugihan maupun ilmu pelet. Malah bisa juga digunakan untuk kelancaran dalam wawancara kerja atau lancar dalam mengerjakan soal ujian.
"Aku masih enggak nyangka lho, masih ada aja orang yang melakukan hal seperti itu," gumam Tasya saat berada di dalam mobil Pak Herdi menuju pulang.
"Namanya juga orang sakit jiwa, Sya, apapun caranya dilakukan," sahut Pak Herdi.
Lampu lalu lintas di hadapannya berwarna merah. Seorang pria gemulai bernyanyi dengan kecrekan di samping mobil Herdi. Jendela mobil pria itu terbuka lalu ia menyerahkan selembar uang lima ribuan pada pengamen itu.
"Duh, ganteng banget, boo... minta nomor teleponnya dong?" pinta pengamen itu.
"Saya enggak punya telepon," jawab Herdi.
"Hihhh, sombong amat!"
Pengamen itu lantas pergi ke mobil sebelahnya. Tasya dan Pak Herdi lalu saling menatap dan tertawa bersamaan.
"Hahaha... didoain bencong pake bilang sombong hahaha..." ucap Tasya seraya tertawa sampai perutnya terasa sakit.
Pria yang duduk di kursi kemudi sampingnya itu sesekali menatap Tasya dan memperhatikannya. Ada detak jantung yang melaju lebih cepat kala ia melihat paras ayu wanita di sampingnya itu.
Tasya menoleh pada Pak Herdi dan membuat kedua mata mereka saling bertatapan kembali.
"Ehm, ehm... ingat enggak kalau manusia lagi berduaan itu bakalan ada yang ketiga dan yang ketiganya itu setan, nah pada lupa ya kalau ada saya," celetuk Bella dari kursi belakang.
Tasya dan Herdi langsung tampak kikuk saat menyadari sosok pocong Bella masih mengikuti mereka.
"Kamu ih dasar setan bisanya ngagetin," sahut Tasya.
"Iya dong, emang tugasnya itu sama nakutin hehehe..." sahut Bella.
"Kamu kenapa belum pergi sih dengan tenang?" tanya Herdi.
"Lho, aku akan tenang kalau tali pocong aku ketemu," ucap Bella.
"Orang segini banyak di wilayah ini mana bisa dengan mudah didapatkan pelaku pencuri tali pocong kamu!" seru Tasya.
"Ya, siapa tau cepet ketemu," ucap Bella.
***
Dion sampai di apartemen Emas setelah tadi mengantar Arga pulang. Ia melihat Arya terlelap do kursi belakang. Anta juga masih pulas di sampingnya. Pemuda itu melangkah turun lalu berusaha membangunkan gadis itu.
"Kalau gue liat-liat ini cewek unik juga, ya. Eh, apa yang barusan gue pikirin, cewek kayak gini banyak di pasar," gumam Dion.
Ia membuka seat belt gadis itu dan membuat wajahnya makin dekat dengan wajah Anta. Detak jantung pemuda itu mendadak berdegup kencang saat melihat paras gadis itu.
"Heh, ngapain elo pandangin si Anta lama-lama?"
Arya terbangun dan langsung menatap Dion dengan tajam.
"Hoaamm..."
Embusan napas Anta langsung menyeruak ke wajah Dion kala itu.
"Astaga ni cewek bau banget mulutnya!" seru Dion.
Anta tersadar dan terkejut melihat Dion di hadapannya. Ia langsung mendorong pemuda itu secara spontan sampai kepala anak muda itu terbentur spion.
"Mau ngapain deket-deket Anta kayak gitu?" tanya Anta dengan kesal.
"Aduh, sakit tau! Gue mau bangunin elo yang lagi molor, tuh udah sampe rumah elo!" seru Dion.
"Oh, gitu... kirain mau ngapain hehee..." ucap Anta.
"Otak elo ngeres, ya?"
Arya mengacak-acak rambut Anta.
"Apaan sih, orang Anta cuma kaget!"
"Udah pada turun lah, gue mau pulang!" seru Dion.
"Iya, makasih sebelumnya udah anterin kita pulang," ucap Anta.
"Hmmm... ya udah gue pamit dulu," ucap Dion lalu masuk kembali ke dalam mobilnya dan melaju pergi.
"Belagu banget tuh bocah, nanti gue minta mobil sama ayah, lah," ucap Arya.
"Kamu belum 17 tahun belum punya SIM, kita juga belum punya KTP, Ya, nunggu tahun depan," ucap Anta.
"Gue bikin SIM nembak aja, wlek!" sahut Arya.
"Enggak boleh, nanti kalau kamu kecelakaan gimana?"
Anta menatap Arya.
"Hehehe... elo khawatir sama gue, ya?"
Arya tersenyum senang.
"Anta takut kalau kamu kecelakaan nabrak orang lain nanti jadi hantu terus minta tanggung jawab gentayangan, Anta juga yang repot."
"Gue pikir...."
"Eh, itu Tante Tasya habis kencan sama ayah gue, Ya?"
Arya menunjuk ke arah mobil ayahnya yang baru tiba. Ia mengalihkan pembicaraannya. Terlihat Tasya dan Herdi turun dari sana.
"Itu pocong, kan?" tanya Arya.
"Ya, kalau enggak salah namanya Bella, tali pocong dia ada yang curi, makanya tuh Kakak gentayangan," ucap Anta.
"Buat apaan nyolong tali pocong, kalau mau nyolong itu duit, mobil, emas benda berharga, lah ini tali pocong," sahut Arya.
"Mana Anta tau!"
Anta melangkah menghampiri Tasya.
"Kalian udah selesai urusannya sama Dita?" tanya Tasya.
"Yuk, Anta ceritain tapi sambil makan nasi goreng, Anta laper nih," ucap gadis itu.
"Pizza satu box udah elo habisin terus bilang masih laper?"
Arya menoleh sinis pada gadis itu.
"Pizza itu kenyangnya sebentar, kalau belum kena nasi belum kenyang," sahut Anta.
"Ya udah ayo ke tukang nasi goreng, saya traktir!" ajak Pak Herdi.
"Cakep..."
Mereka berjalan menuju tukang nasi goreng yang berada di dekat apartemen.
Arya menoleh pada pocong Bella yang mengikutinya.
"Hai, ganteng!" sapa Bella.
"Idih, gue geli!" Arya segera melangkah cepat mendahului lainnya.
"Sombong amat!" seru Bella.
Ia melihat pocong Uli yang sedang mengejar Silla, akhirnya Bella melompat menuju dua hantu itu.
Sesampainya di tukang nasi goreng, setelah memesan empat nasi goreng spesial dan empat teh manis, Anta menceritakan tentang kejadian hari ini bersama Dita. Gadis itu juga menceritakan perihal kejahatan Heru dan Desi si pemilik panti asuhan.
Raut terkejut dan tak percaya terpancar di wajah Pak Herdi. Ia tak menyangka kalau sahabatnya sesama guru di sekolah bisa melakukan tindakan tak terpuji seperti itu. Tangan kanannya mulai mengepal penuh amarah bahkan tak sadar sampai menggebrak meja.
"Astagfirullah... jangan ngagetin apa, Di!" seru Tasya.
"Habisnya saya kesel banget dengernya, bisa-bisanya si Heru yang udah saya anggap sahabat suka pinjem duit juga eh taunya bejat kayak gitu," ucap Herdi dengan nada kesal.
"Namanya juga cowok brengsek, penjahat kelam*n tuh orang!" sahut Tasya.
Anta lantas menceritakan juga rencananya menjebak Heru dengan bantuan Dita. Ia akan membuat pria brengsek itu mabuk dan mengakui kesalahannya. Kalau perlu gadis itu akan menghadirkan hantu Sherly dan Lala.
"Bagaimana caranya bawa Sherly, Nta?" tanya Tasya.
"Ummm... besok kita coba tanya sama Tante Sherly kalau dia mau ikut kerja sama ya bagus dong, pasti mau, karena dia kan enggak bisa balas dendam," sahut Anta.
"Nah, Sherly enggak bisa sentuh dan ganggu si Heru begitu juga Lala karena ada kekuatan yang menolong pria itu, gimana tuh kita cari taunya?" tanya Tasya.
"Saya ada ide, gimana kalau saya coba cari tau tentang kekuatan yang dia punya, siapa tau dia mau kasih tau saya, gimana?"
Tiba-tiba Herdi memberi saran yang berguna dan dianggap sebagai peluang untuk mencari tahu mengenai ilmu atau kekuatan milik Heru.
"Aku setuju, Di, tapi kamu harus hati-hati," ucap Tasya tak sadar menaruh tangan kanannya di atas punggung tangan kiri Herdi.
Pria itu sontak saja menatap tangan yang tergenggam itu.
"Kok aku denger Tante Tasya manggil Ayah udah nama, ya, udah enggak pake sebutan Pak?" celetuk Arya seraya menerima piring nasi dari si penjual.
"Oh, biar tambah akrab aja katanya dia," ucap Tasya menoleh pada Herdi.
"Oh... keliatan sih Udah akrab ya, Nta?"
Arya menoleh pada Anta dan memberi kode untuk melihat ke arah tangan mereka yang saling menyentuh itu.
"Oh... Iya Anta paham kalau gitu."
Gadis itu tersenyum pada Arya.
"Mari makan..." ucap Anta dengan senangnya.
Tasya baru sadar kalau dari tadi memegangi tangan Herdi dan langsung memisahkannya.
"Hehehe... Iya, mari makan, baca doa dulu!" seru Tasya.
Arya melirik ke arah ayahnya dengan senyum meledek.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni