
"Hai, Rina!" sapa Anta saat melihat Rina anak terpandai di kelas sudah duduk manis di kursinya.
"Hai Anta, Hai Ria," sahut Rina.
"Rina, pe er mtk udah kelar, belum?" tanya Ria seraya menyodorkan sebatang coklat almond dan kacang mete.
"Hmmm... pantesan kok aku tumben di sapa sama dikasih cokelat, kebiasaan nih pasti kalian belom ngerjain, ya?" tanya Rina.
"Hehehe, iya Anda benar! Selamat Anda mendapatkan satu juta rupiah, jeng jeng jeng jeng." Ria berjoget ala pembawa acara kuis yang ia lihat di tv semalam.
"Jangan hiraukan ya Rin, bukan temen Anta kalau kayak gitu." Anta menolehkan wajah Rina agar tak melihat ke arah Ria.
"Eh bentar - bentar, kok barusan Anta ngeliat ... ah, sudahlah mungkin Anta salah lihat." Anta meraih buku jawaban matematika dari tangan Rina.
"Halo Rina, cantik banget hari ini tapi lebih cantik Anta, sih." Arya langsung hadir menyapa Rina.
"Halah, nggak usah basa-basi. Tuh, bukunya ada sama Anta," sahut Rina.
"Hehehe, tau aja kamu." Arya langsung duduk di samping Anta menggeser Ria dengan cepat.
"Arya! Antre dong!" seru Ria.
"Ah, kelamaan nungguin elo nyalin! Lagian kenapa elo kaga nanya si Arga, sih?"
"Lupa, hehehe. Semalam aku main game sama Raja."
"Terus, Anta juga belum kelar, nih?" tanya Arya menoleh ke Anta.
"Anta ketiduran main sama si kembar jadi lupa kalau punya peer hehehe."
"Huuu... sama aja, sama aku hahaha." Arya langsung memeluk Anta kegirangan.
"Eh, aku bilangin Om Anan, lho," ancam Ria.
"Tau nih, main peluk aja!" Anta menepis tangan Arya.
"Sorry, habisnya aku seneng banget. Eh, nanti pulang sekolah nonton film, yuk!" ajak Arya.
"Kan nanti dijemput sama Bunda kamu, kita harus bantuin packing lima ratus box nasi kotak," jawab Anta.
"Oh iya ya, aku lupa."
Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Kepala sekolah SMA Satu Jiwa yang baru yaitu Ibu Susi Susanti tiba-tiba datang ke dalam kelas.
"Haduh, aku juga bawa liptin lagi sama BB cream," sahut Ria menimpali dengan berbisik juga.
"Udah biasa aja, nanti pura-pura ke kamar mandi kalau ada razia," bisik Anta.
"Selamat pagi semuanya!"
"Pagi, Bu...." jawab semua murid dengan kompak.
"Ibu kamu razia, ya?" tanya Ria dengan polosnya.
"Oh, jadi kalian mau dirazia hari ini?"
Pertanyaan Ibu Susi langsung membuat semua mata mengarah pada Ria dan menatap kesal.
"Jangan ada razia, Bu, eh maksudnya nggak apa-apa hehehee." Ria menutup mulutnya lalu memandang semua mata kawannya yang masih menatap tajam ke arah gadis itu.
"Tenang aja saya ke sini tidak akan merazia kalian."
"Alhamdulillah. ..." jawab murid - murid kompak.
"Eh, maksudnya?" Tanya Bu Susi mengernyitkan dahi.
"Enggak Bu, cuma lagi bersyukur aja sama hari ini. Bu, itu sepatunya beli di mana bagus banget?" sahut Arya menunjukkan pesona wajahnya pada Ibu Susi.
"Eh, si ganteng tau aja kalau sepatu saya baru. Kemarin saya ke toko sepatu yang baru di Mall Kota, ini promo lagi diskon lima puluh persen, cantik ya?"
"Cantik banget, Bu, cantik kayak yang make, pantes banget dilihatnya."
"Ih, kamu emang bisa banget buat hati saya senang. Eh, saya jadi ngelantur gini ya."
Bu Susi melangkah keluar kelas, lalu ia datang kembali membawa murid baru yang ternyata pernah dilihat oleh Anta di mini market tempo hari.
"Lho, itu kan anak cowok yang Anta lihat bayangan hitam di belakangnya," gumam Anta sampai Ria mendengarnya.
******
To be continue...
Happy Reading.