
Happy Reading...
*****
Raja terbangun di ruang VIP nomor 307 Rumah Sakit Keluarga. Kondisi anak itu mulai membaik tetapi ia baru bisa pulang kalau trombosit darahnya mulai normal.
"Angel mana, Ma?" tanya anak muda itu pada Dewi.
"Hmmm... kecil-kecil udah bucin aja sama Angel," sahut Tasya menggoda Raja.
"Kan cuma tanya," ucap Raja.
"Udah pulang tadi, katanya besok ke sini lagi mau jenguk kamu," ucap Dewi.
"Yess!"
"Kamu baru kelas empat SD aja udah mau jadi playboy, huh!" cibir Andri.
"Yee... memangnya aku Papa apa, aku enggak pernah godain mereka kok, mereka aja yang pada centil dan suka kasih aku hadiah," ucap Raja.
"Hmmm... dengerin tuh, Raja aja paham kalau kamu playboy," sahut Dewi meledek Andri.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih sayangku, eh dengerin ya, semenjak aku ketemu kamu cuma kamu lho satu-satunya wanita di hatiku, di hidupku, sampai aku mati," ucap Andri mendekati Dewi dan hendak mencium istrinya itu.
"Ehm, ehm... woi biasa aja kali, kaga sadar apa ada aku sama Raja di sini," ucap Tasya.
"Hehehe maaf deh, kebawa suasana nih! Gimana kalau kita pulang dulu, Wi?"
Andri menatap istrinya dengan genit.
"Mau ngapain?" tanya Dewi.
"Bobo bareng," sahut Andri.
"Duh, makin tercemar nanti otak si Raja, udah deh sana pulang si Anta mau ke sini nanti nemenin aku, sana pulang lah!" seru Tasya.
Raja sudah menutup tubuhnya dengan selimut tak mau mendengar dan memperhatikan asmara di antara Papa dan Mama angkatnya itu.
"Bagus, Tasya emang pengertian, kita pulang dulu, ya," ucap Andri menarik tangan Dewi.
"Seriusan ini, yang?" tanya Dewi.
"Serius, Raja juga udah membaik kamu mau nginep di sini apa pulang?"
"Ya, kalau ada Tasya sama Anta ya mending pulang sih," jawab Dewi.
"Ya udah ayo pulang dulu, apa perlu ke ruang kerja kamu?"
"Apaan sih, udah pulang aja yuk!"
Dewi dan Andri lalu bergegas menuju mobilnya dan pulang ke rumah.
***
Anta sampai di rumah yang sepi. Tak ada yang menjawab saat ia mengucap salam.
"Pada ke mana, ya?"
Anta mengisi daya ponselnya seraya menyalakan ponsel itu. Hati kecilnya penasaran juga ingin melihat foto Arya dan Mey lebih saksama. Akan tetapi, gadis itu melihat banyak chat dan panggilan tak terjawab di ponselnya.
"Apa, Raja di rumah sakit? Waduh..."
Gadis itu langsung berganti baju dan meraih sweater yang ada di gantungan belakang pintu kamarnya. Ia bergegas menuju ke rumah sakit.
"Kamu kenapa, Nta?" tanya Bella yang berdiri di dekat pintu lift mengejutkan gadis itu.
"Ah, Tante Bella kirain pocong siapa," ucap Anta seraya mendorong bahu pocong itu.
"Hahaha... lucu ya kamu, biasanya manusia ketemu hantu teriak terus langsung lari ngibrit, eh kamu malah ngomel dorong bahu saya," ucap Bella.
"Anta buru-buru, nih."
Gadis itu langsung masuk ke lift yang terbuka itu, Bella mengikutinya.
"Kenapa buru-buru kayak Tasya jadi tadi buru-buru mau ke rumah sakit katanya."
"Nah, Anta juga sama mau ke rumah sakit sonya Raja sakit," ucap gadis itu tak sadar saat seorang perempuan masuk ke dalam lift tersebut.
"Kamu ngomong sama siapa?" tanya perempuan itu dengan wajah heran.
"Eng-enggak ngomong sama siapa-siapa, kok, lagu ngomong sendiri aja," jawab Anta.
"Hati-hati kalau ngomong sendirian gitu nanti ditemenin setan terus dijawab sama setan lho, hahaha..."
Wanita itu berusaha menakuti Anta.
"Lha, dia enggak tau aja kalau emang saya habtu yang lagi nemenin Anta," ucap Bella.
Anta menahan tawanya. Pintu lift terbuka di lantai dasar. Gadis itu langsung keluar bersamaan dengan wanita tadi. Akan tetapi, ia malah tak sengaja menabrak Arya yang baru saja sampai dan hendak masuk ke dalam lift.
"Elo mau ke mana, Nta?"
Arya menahan lengan gadis itu.
"Mau ke rumah sakit, si Raja dirawat karena demam berdarah dengue," jawab Anta.
"Elo sendirian?"
"Tadi sih sama Bella, tuh pocongnya!" tunjuk Anta
"Manusia biasa tetep aja liat elo sendirian, udah malam gini, gue anterin aja, yuk!"
Arya menggandeng tangan Anta ke luar lobby apartemen.
"Mau naik busway apa taxi online?" tanya Arya.
"Busway aja, biar irit," jawab Anta.
"Ya udah."
Arya masih menggandeng tangan gadis itu menuju halte busway. Anta masih menatap tangan yang tergenggam itu. Ia masih berpikir tak percaya kenapa membiarkan seorang Arya menggenggam tangannya seperti itu.
"Ya, lepasin tangan Anta, malu diliatin sama mereka," bisik Anta.
"Ih, Anta risih tau!"
Gadis itu menarik tangannya dan terlepas dari Arya.
Saat berada di bus, ponsel Anta berbunyi.
"Kamu jadi ke rumah sakit?" tanya Tasya dari seberang sana.
"Jadi, ini udah di jalan," jawab Anta.
"Kamu sendirian, terus naik apa?" tanya Tasya lagi.
"Enggak sendirian, Anta sama Arya naik bus," jawab gadis itu seraya melirik Arya yang duduk di sampingnya.
"Bagus deh, nanti beliin roti coklat sama air mineral botol gede ya terus sama pembalut juga buat Tante," pinta Tasya.
"Yee bukannya tadi bawa sekalian dari rumah."
"Mana Tante Tau kalau bakalan dapet sekarang," sahut wanita itu.
"Aku mau susu cokelat dong!"
Suara Raja terdengar berseru di samping Tasya.
"Iya entar dibeliin terus apa lagi?" tanya Anta.
"Oh iya, sari kurma juga jangan lupa," ucap Tasya.
"Oke."
Anta menutup ponselnya lalu menoleh pada Arya.
"Nanti mampir ke mini market dulu ya," pinta Anta.
"Oke."
Arya menganggukkan kepalanya.
"Ummm... tadi kamu..."
Anta hendak menanyakan makan-makan Arya bersama Mey tadi, tetapi ia jadi ragu untuk bertanya.
"Gue kenapa, elo mau tanya apa?"
Arya menoleh pada Anta dan menatapnya lekat. Pandangannya tak mau berpindah juga dari gadis itu.
"Enggak tadi itu, umm..."
"Apaan sih, Nta, kalau ngomong yang jelas deh!" seru Arya.
"Kamu itu ada di status Mey," ucap Anta akhirnya memberanikan diri.
"Di status Mey? Maksudnya gimana, sih?" tanya Arya dengan raut wajah tak mengerti.
Anta memperlihatkan layar ponselnya. Pada layar itu terdapat foto Mey bersama Arya yang tersenyum dan berdekatan layaknya sepasang kekasih.
"Ini kok bisa ada foto ini, kapan gue foto sama dia, ya?" tanya Arya.
"Masa kamu enggak inget, emangnya si Mey foto sama hantu gitu?"
"Serius, Nta, gue tadi bilang sama elo waktu diajak makan sama Mey, hati gue enggak mau pergi sama dia tapi pikiran gue tuh malah kontrol diri gue supaya jalan sama dia. Terus foto ini, gue enggak sadar kalau foto sama dia deket gini, gue enggak ngerti deh."
"Hmmm... serius kamu enggak sadar, emang kamu mabok apa hahaha..."
"Anta, gue serius... apa jangan-jangan Mey pelet gue, ya?" tanya Arya.
"Hahaha... masa iya Mey sampai segitunya, emang kamu juga suka kali sama Mey," ucap Anta seraya menepuk bahu Arya bahkan sedikit mendorongnya.
"Sumpah Anta, gue enggak suka sama Mey, gue sukanya sama elo!"
Arya tak sengaja mengucapkan isi hatinya.
"Duh, kok kaki gue gatel, ya?"
Arya mengalihkan perhatian ke kakinya untuk menghindari tatapan Anta. Ia berpura-pura menggaruk kakinya yang sebenarnya tak gatal itu.Gadis itu menatap tak percaya.
"Kayaknya Anta salah denger deh," gumam Anta lalu menoleh ke arah ponselnya untuk melihat waktu.
Elo enggak salah denger, Nta, gue emang suka sama elo, tapi gue takut kalau elo bakal nolak gue.
Arya melirik sekilas ke arah Anta yang masih sibuk dengan layar ponselnya.
Bus yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di sebuah halte depan Rumah Sakit Keluarga. Anta bergegas menuju mini market yang berada di depan rumah sakit sebelum masuk ke dalamnya.
"Ya, Anta mau pilih roti, kamu tolong beliin pembalut yang ada sayapnya yang buat malam," ucap Anta.
"Hah, pembalut ada sayapnya kalau makan-makan gini, emang ada?" tanya Arya dengan wajah polosnya.
"Duh, salah nyuruh deh Anta, ya udah kamu ambilkan air mineral yang botol gede dua!" pinta Anta
"Oh, kalau itu gue ngerti," sahut Arya lalu menuju ke arah air mineral kemasan botol.
Saat pemuda itu meraih dua botol air mineral, tiba-tiba salah satu botol itu terjatuh dan menggelinding ke kaki seseorang. Arya lalu menunduk saat meraih botol itu.
"Eh, maaf ya Mas, saya enggak senga— ja."
Arya menatap sepatu pria yang sobek itu. Lalu perlahan ia mengarah ke arah kaki pria tersebut yang ternyata berwarna pucat. Rongga penuh luka berdarah dan bercampur darah terlihat.
"Perasaan gue enggak enak, nih..."
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni