Anta's Diary

Anta's Diary
Dokter Baru



Happy Reading


*****


"Wi, aku mau sharing masalah pasien kamu, nih," ucap seorang dokter spesialis ginekolog bernama Hendra pada Dewi.


"Boleh, tapi aku mau ada meeting dulu sama investor dari Australia sore ini," jawab Dewi.


Pria bertubuh tegap, tinggi dan berkulit sawo matang itu membenarkan posisi kaca matanya. Andri datang ke rumah sakit untuk menjemput istrinya.


"Yang, kamu enggak pulang, enggak mau jagain Raja, kan?" tanya Andri.


"Raja kan ada Anan sama Dita yang jagain, kayaknya hari ini boleh pulang juga tuh anak," jawabnya.


"Ya udah, ayo kita pulang!"


"Tapi, antar aku dulu ya meeting sama investor baru," pinta Dewi.


"Ehmm...maaf Dewi ini siapanya kamu?" tanya Hendra.


"Ini suamiku."


"Halo, gue Andri, suaminya Dewi."


Andri mengulurkan tangannya pada pria itu.


"Oh, jadi ini suaminya Dewi, halo nama saya Hendra, senang berkenalan dengan Anda," ucapnya.


"Oke, kamu dokter baru ya di sini?" tanya Andri.


Hendra menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.


"Ya udah, ayo kita berangkat!" ajak Andri seraya merangkul bahu istrinya itu.


Dari kejauhan tampak Tasya melangkah bersama Anta menuju pintu lift. Mereka menghampiri Dewi dan Andri terlebih dahulu sebelum menuju ke kamar Raja.


"Eh, kalian kok datang sih, katanya biar Anan sama Dita aja yang jagain?" tanya Dewi.


"Yanda pergi dulu tadi jadi Raja cuma sama Bunda, tapi kan kasian juga kalau enggak dibawain makanan," jawab Anta.


"Oh, gitu."


"Halo, ini siapa kamu lagi, Dewi?" tanya Hendra.


"Temen kamu ini kepo banget dari tadi," bisik Andri.


Dewi hanya menatapnya tajam seraya tersenyum.


"Oh iya kenalin, ini Anta anak aku, ini Tasya keponakan aku," ucap Dewi.


"Halo, cantik-cantik ya kayak kamu, Dew," sahut Hendra seraya mengulurkan tangannya.


"Ehm Ehm... bisa enggak—"


"Eh, maaf bukan maksud saya seperti itu, saya cuma mau memuji aja kok," sahut Hendra yang sudah menebak Andri pasti akan marah dan cemburu.


"Udah sih sayang, kan harusnya seneng istrinya dibilang cantik," ucap Dewi.


Lalu, keduanya pamit. Sementara Hendra masih saja memandangi Tasya di hadapannya seraya tersenyum.


"Boleh minta nomor teleponnya?" tanya Hendra.


Anta menyenggol siku wanita di sampingnya itu seraya tertawa.


"Hmmm... gimana ya, kita kan baru kenal," ucap Tasya.


"Oh, jadi enggak boleh minta nomor teleponnya nih, ya udah nanti saya minta sama Dewi, saya balik ke ruangan saya, dah..." ucap pria itu seraya melambaikan tangannya.


"Sumpah pede banget tuh cowok," gumam Tasya.


"Cie... Tante ada calon penggemarnya nih," ucap Anta seraya masuk ke dalam lift.


"Apaan sih enggak jelas banget, kamu kali tuh yang banyak penggemar tanpa kamu sadari," ucap Tasya menimpali.


"Maksud, Tante?" tanya Anta.


"Ya, contohnya nih si Arya, emang enggak pernah perhatiin gitu sikap dia ke kamu?" tanya Tasya.


"Hah, Arya? Ih... apaan sih, dia mah iseng terus sama Anta, selalu aja gangguin Anta, ngikutin Anta mulu, bikin kesel terus," jawab gadis itu seraya bersungut-sungut kesal.


"Hahaha... Itu namanya dia enggak mau jauh dari kamu," ucap Tasya.


Bibir Anta mengerucut ke depan sambil memikirkan ucapan Tasya yang rasanya masih sulit ia cerna. Bagi gadis itu sosok Arya merupakan pria paling menyebalkan di sekolah.


Saat keduanya sampai di ruangan tempat Raja dirawat, Dita sedang menyuapi anak itu. Tiba-tiba bulir bening jatuh dipipi Anta, ia sangat terharu melihat adegan di hadapannya itu.


"Tante, pegangin makanan ini, Anta mau peluk Bunda," lirihnya.


Anta langsung melangkah cepat memeluk Dita dari belakang.


"Eh, kok datang-datang main peluk aja," ucap Dita.


"Hehehe... Anta kangen sama Bunda," ucap gadis itu.


"Ngiri kan sama aku?" tunjuk Raja ke arah Anta.


"Enggak juga sih, Anta nganan terus dari tadi," jawabnya.


"Apaan sih, Nta, Garing!" sahut Tasya.


"Eh, besok malam minggu jadi kan ngerjain si Heru?" tanya Dita.


"Jadi dong! Semua udah beres aku siapin berdua Anta," jawab Tasya.


"Tapi Tante, besok itu ulang tahun Kak Dion di restoran Papa Andri, Anta disuruh dateng, gimana dong?" tanya Anta.


"Kita selesai paling jam sembilan malam, nah kamu langsung menuju Hotel Kenanga sama Arya sama Arga," ucap Tasya.


"Hmmm... oke deh!"


"Nanti, aku sama Tasya sama Pak Herdi bawa tuh si brengsek ke hotel terus kita rekam dan interogasi," ucap Dita.


"Aku ikut, ya?" tanha Raja.


"Enggak boleh!"


Dita, Anta, Tasya menyahut bersamaan sembari menatap tajam anak itu.


Ponsel Anta berdering terdengar suara Ria dari seberang sana.


"Kamu mau naik apa?" tanya Dita.


"Paling naik busway," ucap Anta.


"Kamu hati-hati, ya, bawa uang, kan?" tanya Tasya.


"Bawa dong, Papa Andri tadi kirim uang buat Anta," ucap Anta.


"Kok, Raja enggak dikirimin?" tanya Raja.


"Makanya sering bantuin Papa Andri di restoran jangan cuma main game aja pas sampe sana, huh!"


Gadis itu lalu pamit pada Dita dan Tasya seraya memeluk dan mencium pipi. Kemudian dia pergi.


"Ta, ini aku bawain rendang, makan dulu gih!"


Tasya menyerahkan bekal makanan pada Dita.


"Wah, makasih ya," ucap wanita itu.


***


Sore itu di Rumah Sakit Keluarga.


"Na, kenapa sih minta anterin ke rumah sakit?" tanya Fani pada sahabatnya itu saat diajak Lisna mengunjungi Rumah Sakit Keluarga.


"Gue sakit, gue mau periksa tau," ucap Lisna.


"Periksa apaan, sih?" tanya Fani penasaran.


"Udah deh diem aja!"


Gadis bernama Lisna itu menunggu antrean di depan ruangan Dokter Hendra. Tak lama kemudian namanya dipanggil masuk.


"Elo di luar aja, ya!" pinta Lisna pada Fani.


"Masa gue sendirian di luar tadi aja elo minta temenin," ucap Fani.


"Gue malu, udah elo di luar aja!"


"Elo hamil, ya?" terka Fani.


"Sembarangan, enggak lah! Jangan bawel pokoknya diem di sini," ucap Lisna.


Gadis itu masuk ke dalam ruangan Dokter Hendra kemudian. Fani akhirnya duduk di ruang tunggu seraya memakan snack yang disediakan pihak rumah sakit.


"Halo, selamat sore, nama kamu Lisna Ariana, ada keluhan apa, nih?"


"Sore, Dokter, iya nama saya Lisna," ucapnya seraya mengulurkan tangan pada Ridwan.


"Hai, Lisna, silakan duduk!"


"Terima kasih, Dok, begini saya merasa sakit kepala, demam, sariawan parah sama sakit tenggorokan, terus perut bawah saya sakit banget, datang bulan saya juga enggak lancar, apa saya hamil, ya?" tanya Amelia.


"Saya cek dulu, ya."


Dokter Hendra mengamati dengan saksama pasien yang bernama Lisna itu. Gadis yang terlihat lugu berkulit kuning langsat itu terlihat pucat.


"Berapa umur kamu?" tanya Hendra.


"Tujuh belas tahun," sahutnya.


"Hmmm... naik ke atas kasur, suster akan siapkan semuanya, soalnya saya mau cek kondisi kamu dengan USG," pinta Dokter Hendra lalu mempersilakan suster asisten menyiapkan pasien Lisna.


Gadis itu membuka tirai dan menuju ranjang akan tetapi sesuatu mengejutkannya. Sekilas ia melihat perempuan sedang berbaring di atasnya.


"Eh, Suster itu siapa, ya?" tanya Lisna.


"Enggak ada siapa-siapa, memangnya kamu lihat siapa?" tanya Suster.


Kini, Lisna tak dapat melihat lagi sosok perempuan yang berbaring tadi. Ternyata sosok itu hantu Tante Key yang suka sekali datang ke ruang perawatan itu untuk melihat Dokter Hendra. Dokter baru yang cukup tampan itu sukses membuatnya suka.


"Ih, gangguin aja nih cewek, enggak bisa liat orang lagi bucin apa? Eh iya, dia kan emang enggak bisa lihat aku hihihi..." ucap Tante Key sembari berpindah tempat.


"Tuh kan rada merinding deh," gumam Lisna.


Hendra datang dan memeriksa kondisi Lisna melalui alat USG.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Hendra.


Lisna menggelengkan kepalanya.


"Maaf sebelumnya kalau saya boleh tanya, apa kamu pernah berhubungan dengan seorang pria manapun?" tanya Hendra.


Lisna terdiam, lalu mengangguk pelan dengan wajah malu.


"Saya hamil ya, Dok?" tanyanya penasaran.


"Kamu sih enggak hamil, tapi—"


"Ah, syukurlah... saya bingung kalau saya hamil nanti bapaknya ini anak siapa gitu, Dok," ucapan Lisna sontak saja membuat Dokter Hendra dan Suster Irma tersentak mendengarnya.


"Jadi, kamu melakukan hubungan itu dengan pria lebih dari satu?" tanya Hendra seolah tak percaya.


Lisna tersenyum dengan wajah tersipu malu. Sementara itu Suster Irma terlihat menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya. Hantu Tante Key menatap sinis seraya ingin mencekik Lisna.


"Gemes banget aku tuh sama nih cewek, hiiiih!" keluh Tante Key.


"Hmm... oke kalau gitu, aku mau kamu tes darah juga ya, nanti Suster Irma yang antar kamu ke lab, kalau hasilnya udah keluar kamu balik ke sini lagi!"


pinta Dokter Hendra.


Lisna akhirnya menyanggupi, tetapi ia segera menghubungi Heru agar mengirimkan sejumlah uang atau kalau tidak ia mengancam akan memberitahukan kepala sekolah dan menyebarkan foto mesra mereka ke seantero sekolah. Heru pun menyanggupi.


******


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni