
Happy Reading...
*****
Hasil tes DNA Anan dan Bu Aiko akhirnya positif. Mereka dinyatakan sebagai ibu dan anak. Anan langsung memeluk Aiko dan sangat bersyukur dengan keajaiban Tuhan itu. Dita mengadakan acara syukuran bersama di panti asuhan, sekalian dengan tahlilan untuk mendoakan Nenek Dharma. Tasya dan Herdi juga hadir, begitu juga dengan keluarga Arga yang datang bersama Angel.
"Kenapa sih harus datang ke sini?" tanya Laila.
"Mi, kita harus menghormati undangan orang lain, lagian juga Papi mau mulai menyumbang dana untuk panti asuhan ini," sahut ayah tirinya Arga.
"Papi bener tuh, Mi."
"Terserah kalian!"
Sementara itu, Angel dan Raja sudah bersama di beranda samping panti asuhan. Mereka bermain monopoli bersama anak panti yang lainnya sebelum acara pengajian digelar. Setelah Pak Ustaz Ali datang, acara pengajian pun digelar. Semua mengikuti acara tersebut dengan khidmat.
***
Empat bulan berlalu setelah mengadakan selamatan bersama karena usia kandungan Dita dan Tasya kebetulan sama. Pada hari minggu kala itu, Tasya sedang mengunjungi panti asuhan untuk memasak rendang bersama Dita. Keduanya kini bersantai di teras sambil berbincang-bincang bersama Herdi.
"Eh apa kabar anaknya ayah, lagi main apa di dalam perut Bunda?" tanya Anan yang baru saja tiba dari mengantar pesanan. Ia lalu mengelus perut istrinya dan merapatkan telinganya ke perut tersebut.
"Kabar baik Yanda... eh kalau bumil lagi ngidam kan katanya harus dituruti ya, kalau enggak katanya bayinya bisa ngiler, ya?" tanya Dita pada Tasya yang langsung mengiyakan.
Anan langsung bertatapan dengan Herdi. Detak jantung mereka lebih cepat. Mereka yakin akan ada sesuatu yang aneh-aneh yang akan diminta Dita dan Tasya.
"Emangnya kamu, ngidam?" tanya Anan langsung pada intinya.
"Ummm aku tuh pengen mangga," sahut Dita.
"Alhamdulillah gampang banget kalau mangga nanti aku cari di supermarket apa toko buah buat kamu yang banyak."
Anan mengembuskan napas dengan penuh kelegaan terpancar dari nada suaranya.
"Enggak usah banyak, aku mau nya cuma satu kok mangganya," ucap Dita.
Tasya menyimak dengan saksama sambil mengusap perutnya.
"Nah, lebih gampang lagi, nanti aku beliin,"
sahut Anan.
"Aku enggak mau beli."
Dita mengelus-elus perutnya yang kandungannya berusia empat bulan. Anan langsung pasang telinga untuk menyimak.
"Aku maunya mangga yang ada di depan rumah warna hijau itu, kan kalau aku lagi mau ke pasar, aku suka lihat mangganya. Kayaknya enak banget tuh, aku mau mangga itu."
Dita merengek dengan tatapan memelas.
"Astagfirullah, Ta, itu mah rumah yang ada jaing galaknya, mana bulldog lagi, aku ngeri ah, mending beli aja, aku beliin satu toko kalau perlu," protes Anan.
Dita tiba-tiba ingin menangis mendengar ucapan Anan barusan.
"Yanda, kamu tuh beda ya, kamu enggak perhatian sama aku, aku kan maunya usaha kamu sendiri buat nyenengin aku," rengek Dita dengan mulai menangis.
"Eh, jangan nangis dong, nanti bayinya stress lho. Aku maunya dia lahir ke dunia ini dengan bahagia, jangan nangis ya please cup cup cup, oke deh nanti aku minta mangga ke sana."
"Aku maunya kamu ambilnya nanti malam ya," pinta Dita.
"Duh, entar malam ya, ya udah deh aku ke sana."
"Mangganya harus kamu yang ambil sendiri ya, nanti aku suruh Anta buat ngerekam video kalau kamu yang ambil itu mangga," ucap Dita.
"Aku minum dulu ya bentar, aku habisin tehnya dulu nih." Anan langsung menghabiskan secangkir teh manis buatan Dita yang ada di meja kala itu.
Tasya dan Herdi masih menyimak pembicaraan Anan dan Dita.
"Bismillah deh, semoga yang punya rumah enggak segalak bulldognya," ucap Anan.
"Untung aja si Tasya enggak ngidam macam-macam," sahut Herdi menertawakan Anan.
"Eh, Ayah Sayang... Kamu ikut sama Anan, aku juga mau mangga yang sama kayak yang Dita mau," sahut Tasya.
"Sukurin luh, nanti malam ikut gue!" Anan merangkul bahu Herdi.
***
Malam itu, Anta dan Arya sudah bersiap mengantar para ayah mereka untuk mengambil mangga di rumah bercat hijau.
Sesampainya di sana, Anan menekan bel yang ada di tembok samping pintu pagar. Seekor anjing bulldog berwarna coklat menyalak padanya dengan keras.
"Tuh kan pada enggak percaya sih kalau ada bulldog serem banget kaya gini!" keluh Anan.
Seorang penjaga berbadan besar datang menghampiri.
"Mau cari siapa, Pak?" tanyanya.
"Duh, jangan ganggu bos saya deh, nanti saya yang ambilin."
"Enggak bisa, Pak, istri saya ngidam harus saya sendiri yang ambil mangganya," sahut Anan.
"Iya, Pak, istri saya juga sama pengen saya yang manjat."
"Wah, saya nggak bisa masukin orang asing sembarangan tapinya ke dalam rumah biarpun cuma di halaman, tunggu bentar ya saya ijin dulu,"
ucap pak satpam lalu pergi ke dalam rumah tersebut.
Tak berapa lama pak satpam itu kembali bersama seorang wanita cantik berpakaian minim hanya menggunakan pakaian tidur yang seksi.
"Itu orangnya?" ucap wanita tersebut.
"Iya, mereka nekat mau naik pohon jambu sendiri itu," sahut Pak Satpam.
"Ya udah suruh masuk!"
Wanita itu mengamati Anan dan Herdi yang terlihat tampan sambil tersenyum manis ke arah mereka.
"Mbak, tolong itu buldog di penjara dulu, eh di kandangin dulu lah, serem soalnya."
Pinta Anan.
"Huh, sama hantu enggak takut sama buldog takut," celetuk Arya.
"Emang kamu berani?" tanya Anan dan Herdi bersamaan.
"Enggak!" sahut Arya.
"Jangan ngomong, pites juga nih!" Anan menjitak kepala Arya.
"Masukin Bruno, Pak!"
Perintah wanita itu pada penjaganya. Ia lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Anan dan Herdi. Jabatan tangan itu terasa lama, Anta sampai menepis tangan keduanya agar terlepas.
"Kamu siapa, sih?" tanya wanita bernama Mella itu.
"Anta, anaknya Bapak ini!" sahut Anta menunjuk Anan.
"Kok udah punya anak segede gini, masih ganteng ya?" Mella berusaha menggoda Anan.
"Yanda, buruan deh ambil mangganya!" ketus Anta.
"Oh, oke oke," sahut Anan.
Anan memerintahkan Herdi untuk memanjat pohon terlebih dahulu.
"Eh, tuaan saya sama kamu, kamu dulu gih yang manjat!" seru Herdi.
"Huu... giliran begini aja ngaku tuaan!" sahut Anan bersungut-sungut.
"Ya udah kita suit!" tantang Anan.
Akhirnya dalam suit itu Herdi mengalami kekalahan. Ia terpaksa memanjat terlebih dahulu.
"Ya, kamu siap rekam Ayah!" seru Herdi.
"Siap!" Arya bersiap dengan ponselnya mereka ayahnya.
Pohon mangga yang terdapat banyak semut rangrang besar itu menggerayangi tangan Herdi bahkan masuk dan mengigit badannya.
Tiba-tiba, sosok pocong duduk di dahan pohon mangga mengejutkan Herdi sampai jatuh.
Bug!
"Waduh," sahut Arya yang buru-buru menolong ayahnya.
Punggung Herdi mengalami cidera sampai ia kesakitan.
"Kenapa elo, Bro?" tanya Anan.
"Duh, tuh ada pocong ngagetin aja!" sahut Herdi.
Anan, Anta dan Arya lalu mendongak ke atas pohon mangga. Pocong berwajah hitam dengan kedua mata merah itu meringis memperlihatkan giginya yang penuh darah.
*****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.