Anta's Diary

Anta's Diary
Bertemu Jin Tanduk



Happy Reading...


*****


Martha mengurung Pak Herdi dan Raja di sebuah sel. Kedua orang itu tertangkap saat Raja berusaha mengajak pria itu kabur. Akan tetapi, karena ayah dari Arya itu ingin mengetahui penyebab mereka diculik. Dia sangat ingin tahu apa tujuan wanita itu menculik anak di sampingnya.


Karena keraguan masih menghinggapi benak Pak Herdi, akhirnya mereka ketahuan dan tertangkap. Kedua penculik suruhan Martha tadi langsung melaksanakan perintah sang majikan dengan mengurung mereka di sebuah ruangan terkunci.


"Om, itu apa?" tunjuk Raja.


Sosok dua hantu yang hanya kepala saja menggelinding ke arah mereka sambil tertawa menyeramkan. Pak Herdi langsung bersembunyi di belakang tubuh Raja.


"Yeee... di mana-mana yang tua melindungi anak kecil bukan yang anak kecil melindungi yang tua!" seru Raja.


"Serem, Ja," ucap Herdi dengan nada gemetar ketakutan.


"Heh, jangan ganggu, ini tamu aku di sini!" sahut Tante Sus pada kedua hantu kepala itu.


"Wah, sejak kapan kamu punya tamu manusia?" tanya si kepala perempuan.


"Sejak tadi, sudah urusin aja badan kalian, udah ketemu belum?" tanya hantu Susanti.


"Belum huhuhu... kira-kira di mana, ya?" tanya si kepala laki-laki.


"Lah kalau badannya enggak ada terus kalau mau keliling apa jalan-jalan, menggelinding gitu?" celetuk Raja langsung bertanya.


Kedua kepala itu langsung menoleh ke arah Raja.


"Hai, Om! Hai, Tante!" sapa Raja dengan senyum meringis.


Sementara Pak Herdi sudah bersembunyi di balik tumpukan kardus bekas setelah mengendap-endap menghindar.


"Anak siapa ini, berani banegt liat kita?" si kepala perempuan bertanya dan menoleh pada si hantu kepala pria.


"Aku Raja, anaknya Bunda Dita sama Yanda Anan yang paling cakep, makanya aku cakep, kan?"


Raja duduk bersila di hadapan para hantu itu. Sesekali ia mengamati rambut coklat kemerahan milik si hantu kepala pria.


"Wah, ini warna rambut asli apa dicat, Om?" tanya Raja.


"Hehehe... saya keseringan main layangan pas siang bolong jadi kena panas warna rambutnya berubah," jawabnya sambil tertawa meringis.


"Hmmm... Udah kebayang warna kulit Om bakalan kayak apa kalau sering main layangan, hihihi..." celetuk Raja.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara seseorang membuka pintu ruangan itu. Salah satu penculik tiba di ruangan itu membawa dua bungkusan nasi dan dua plastik berisi teh manis.


"Nih, pada makan dulu, kurang baik apa gue masih ngasih elo makan," ucap pria itu.


"Nasi bungkus? Lauknya apa?" tanya Raja.


"Ikan asin sama tempe, ini aja udah pantes buat elo berdua."


"Enggak ada lauk lain apa, Om? Ayam goreng gitu?" tanya Raja.


"Udah untung gue kasih makan, kalau enggak mau ya udah gue kasih kucing aja!"


"Jangan, Om, sini deh aku makan," ucap Raja.


Pria itu melempar dua bungkusan tersebut ke lantai lalu pergi.


Kedua hantu kepala tadi sudah menggelinding pergi saat si penculik datang. Raja meraih dua bungkus nasi tersebut lalu menyerahkannya pada Pak Herdi.


"Untung airnya enggak bocor," ucap Raja.


"Kalian makan dulu deh, aku mau ke luar," ucap hantu Susanti.


Pak Herdi akhirnya berani mendekati Raja setelah para hantu itu pergi. Dia dan anak itu duduk bersila seraya menatap ke arah nasi bungkus itu.


"Ayo kita berdoa, bersyukur banget masih bisa makan seperti ini," ucap Pak Herdi.


"Iya, Om, lagian juga kalau dicicipi enak juga," sahut Raja.


Keduanya menikmati nasi bungkus ala kadarnya itu.


***


Sementara itu Dewi dan Andri sedang mengamati sekeliling mencari arah yang benar sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Martha.


"Dari sini ke mana lagi?" tanya Dewi.


Ia akhirnya menghentikan mobil di depan sebuah warung. Tasya juga ikut menghentikan mobilnya dan turun menghampiri Tante Dewi.


"Udah sampe?" tanya Tasya.


"Belum, ini si Andri mau tanya," jawab Dewi.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Anta yang turun dari mobil.


"Mau tanya alamat, kamu kalau laper beli makanan aja!" Dewi menunjuk ke arah warung.


"Astagfirullah...!" pekik Anta.


"Kenapa, Nta?" tanya Tasya.


"Lihat dong, penjaga warungnya!" Anta menunjuk ke arah si penjual yang sedang ditanya oleh Andri.


Sebenarnya Arya dan Arga juga sudah melihat keanehan pada si penjual tersebut, makanya mereka masih bertahan di dalam mobil seraya menyembunyikan wajahnya di balik kursi jok kemudi.


"Kenapa, sih, ada apa sama si penjual?" tanya Dewi.


Tasya dan Anta saling bertatapan seraya bergantian menoleh ke arah si penjual tersebut. Dari kepala si penjual yang terlihat seperti perempuan dewasa memakai kebaya dan bawahan batik itu, terdapat sepasang tanduk seperti tanduk kambing.


Lidah makluk itu menjulur sampai ke tanah. Saat ia membuka mulut dan mengeluarkan suara, dari mulut makhluk itu ke luar air liur yang berguguran.


Rambut di tubuh makluk itu terlihat lebat seperti sosok kera. Makluk itu juga memiliki ekor panjang yang di ujungnya melingkar dan bersisik seperti ular.


"Itu, itu hantu apaan, Nta?" tanya Tasya seraya berbisik.


"Kayaknya monster deh," bisik Anta.


"Kalian ngomong apa, sih? Jadi, yang sama Andri itu siapa?" tanya Dewi mulai panik.


"Serem, Ma, mending Papa suruh ke sini jangan tanya sama dia," pinta Anta.


Dewi langsung memanggil Andri, tapi entah kenapa suaminya itu tak mau menoleh. Bahkan pria itu duduk di warung tersebut sambil memesan kopi dan menyantap gorengan yang ia jumpai di atas meja.


"Anta enggak bisa tinggal diam, kayaknya Papa Andri kena hipnotis," ucap Anta.


Gadis itu melangkah menuju warung tersebut.


"Mama ikut!" Dewi menahan lengan Anta.


"Jangan, Mama sini aja sama Tante, Anta yakin kalau Anta kuat enggak akan terhipnotis, tapi kalau kalian yang ke sana itu yang Anta takuti."


"Hati-hati, Nta," ucap Tasya.


Gadis itu menganggukan kepala lalu melangkah menghampiri Andri. Ia merasa ada sesuatu yang ia rasakan seperti menghalangi. Warung yang Andri masuki itu seolah-olah tertutup oleh gelembung balon besar yang transparan. Anta berdoa sebelum memasuki pembatas gaib tersebut.


"Papa, ayo pergi dari sini!" ajak Anta menarik lengan Andri.


"Kamu siapa?" tanya Andri.


"Ya ampun, baru sebentar doang masuk sini udah langsung lupa ingatan, hebat juga nih monster."


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya makluk menyeramkan itu.


"Lepaskan Papa Andri!" bentak Anta.


"Hahaha... tak semudah itu gadis muda, siapa suruh dia memasuki kawasanku, dia menyerahkan dirinya masuk ke sini," ucap makluk itu.


"Hei, pulgoso! Namanya juga mau tanya alamat, ya mana tau kalau ini sarang jin jelek sepertimu!" seru Anta.


"Pulgoso? Siapa itu? Namaku Jin Tanduk," ucapnya.


"Ohh... Jin Tanduk, pulgoso itu nama artis telenovela yang suka ditonton Mama Dewi, malahan cakep pulgoso sama kamu," ucap Anta menahan tawa.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni