Anta's Diary

Anta's Diary
Raja di Mall



Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...


*******


Di sebuah Mall Kota, Tante Dewi dan Andri berbelanja bulanan bersama Raja. Di dalam mall tersebut juga diselenggarakan pameran pendidikan. Banyak sekolah favorit dan bagus yang bergabung untuk untuk memperkenalkan sekolahnya pada khalayak. Tujuan mereka pastinya untuk menarik murid baru.


Di sana juga terdapat banyak potongan harga atau diskon untuk bermacam-macam alat kebutuhan sekolah. Raja asik memilih tas, buku, alat tulis serba transformer. Semenjak menonton film yang bertema Bumblebee, anak itu mendadak menyukai segala hal tentang transformer.


"Aku yang mau yang ini ya, Pa?" pinta Arya pada Andri.


"Ambil aja mau yang mana, yang penting jangan mahal-mahal," sahut Andri.


"Mama mau lihat pameran sekolah ya siapa tau ada yang cocok buat Anta," ucap Dewi.


"Oke, aku masih lihat buku resep masakan, nih," sahut Andri.


Saat Dewi sudah melangkah pergi, tiba-tiba Andri tak sengaja meraih buku resep masakan nusantara yang bersamaan diraih oleh seorang wanita berkulit kuning langsat dengan tubuh aduhai.


"Eh, maaf enggak sengaja," ucap Andri yang tak sengaja menyentuh tangan wanita itu.


"Enggak apa-apa kok, suka buku masak juga?" tanya wanita itu.


"Iya," jawab Andri mulai mengeluarkan pesonanya dengan menyibakkan rambut memperlihatkan dahi datarnya. Raja mengamati dengan saksama.


"Tumben lho, biasanya cowok suka buku otomotif atau olahraga, bukan buku masakan," ucapnya.


"Oh, ini soalnya saya punya restoran, jadi butuh rekomendasi resep-resep nusantara untuk menambah keahlian saya," sahut Andri.


"Wah, kamu chef, keren banget, suka deh sama pria yang bisa masak, halo namaku Angela," ucapnya mengulurkan tangan kanan.


"Halo, namaku Andri," ucap pria itu membalas jabatan tangan Angela.


"Halo, Tante, namaku Tom temennya Angela," sahut Raja menepis tangan Andri dari wanita itu dan menggantikannya menjabat tangan.


"Apaan sih, Ja, main celetuk aja, itu mah Angela sama Tom di game hape kamu," sahut Andri.


"Hahaha, lucu banget sih anak ini, duh gemes," ucap Angela seraya mencubit pipi Raja dengan merendahkan tubuhnya di hadapan Raja.


"Iya, dong, aku kan cowok paling cakep di sekolah," ucap Raja dengan sombongnya.


"Ini anak kamu, ya?" tanya Angela menoleh pada Andri.


"Bukan sih, lebih tepatnya seperti keponakan dan udah kuanggap sebagai anak sendiri, tapi gantengan aku lah," ucap Andri.


"Idih, halusinasi nih Papa, kalau aku udah gede kayak Papa juga nanti gantengan aku," sahut Raja.


"Angela punya nomor telepon?" tanya Andri sambil menyodorkan ponselnya.


"Punya, mau minta nomor telepon?"


"Iya, kalau boleh," jawab Andri.


"Akun sosial media juga ada nanti jangan lupa follow ya," pinta Angela seraya meraih ponsel Andri dan memasukkan nomor ponselnya.


"Kamu punya IG?" tanya Angela.


"Ada, akun kamu apa nanti saya follow," ucap Andri.


"Akun pribadi aja deh, kalau akun kerja saya beda lagi," sahut wanita itu lalu mengetik nama akun di ponsel Andri.


"Oke, makasih ya, udah aku follow berarti," ucap Andri.


"Permisi, ini siapa, ya?" tanya Dewi yang baru saja sampai menghampiri.


"Hai, aku Angela, saya mau ambil buku ini aja, kok," ucap wanita itu lalu pamit dari Dewi dan lainnya.


Wanita itu tau kalau sepertinya Dewi merupakan orang terdekat Andri. Wajah Dewi juga tampak cemburu. Jadi, Angela paham dari pada memperkeruh suasana sebaiknya ia segera pergi.


"Tadi, Ma, masa Papa Andri—"


Andri menutup mulut Raja dan menariknya menuju tas transformer seharga hampir lima ratus ribu.


"Mau tas yang itu, gak?" tanya Andri menunjuk tas bagus di hadapan Raja.


"Sekarang boleh ambil yang itu asal kamu jangan bilang ke Mama Dewi soal Angela, ya?" ancam Andri.


"Oh, ini maksudnya, kalau gitu aku paham," sahut Raja.


"Ada apa, sih?" tanya Mama Dewi.


"Enggak ada apa-apa, ini Raja minta tas mahal itu, kalau aku pikir-pikir ya udah boleh," sahut Andri berbohong sambil menatap Raja dengan tajam.


"Enggak kemahalan, yang dua ratus ribu juga ada, kan?"


"Ada sih, tapi itu bagus banget ya, Ja?"


"Iya, bagus banget!" sahut Raja penuh antusias.


"Ya udah kalau begitu, terserah kamu aja yang bayar, ayo kita cari makan!" ajak Dewi.


"Tapi, aku mau ke toilet dulu, ya?" pinta Raja.


"Kita ke restoran ayam goreng itu ya, nanti kamu samperin kita ke sana!" tunjuk Dewi pada sebuah restoran ayam goreng.


"Siap!"


Raja bergegas ke toilet untuk pria yang tak jauh dari restoran tadi.


"Bisa aja Papa Andri bohongi Mama, mentang-mentang Tante Angela tadi cakep banget," gumam Raja.


Ia masuk ke dalam toilet yang terdapat dua orang pria sedang merapikan rambut di depan cermin. Dua pria itu lalu pergi ke luar toilet saat Raja masuk memilih bilik ketiga dekat yang paling ujung. Di samping bilik ketiga itu tertulis bilik toilet yang rusak.


"Duh, mules lagi," gumam Raja.


Tiba-tiba Raja melihat ujung kaki yang ke luar dari bilik sebelah. Kaki kiri yang muncul itu tampak mengerikan. Kulit kaki itu berwarna pucat dan terdapat luka yang berongga. Darah dan nanah terlihat bercampur jadi satu.


"Hai!" sapa Raja.


Sapaan Raja dibalas dengan sesuatu yang menggelinding sampai ke kaki anak itu. Sebuah kepala botak yang penuh luka borok itu terlihat. Perlahan sosok kepala tanpa tubuh itu bergerak dan memperlihatkan wajahnya. Sosok hantu kepala buntung itu menatap Raja dengan senyum menyeringai.


"Duh, Om, aku lagi mules nih kebelet emang enggak bau apa, nih dengarkan tembakan maut Raja hiaaattt..."


Dut... Dut...


Sosok hantu kepala itu bergerak menjauh masuk ke bilik rusak di sebelah Raja tadi.


"Sukurin, emangnya enak kena bau parfum busuk dari aku, hahahaha..." seru Raja menertawai hantu tadi.


Setelah selesai dengan buang hajatnya, Raja mem-flush toilet tersebut dan mencuci bokongnya sampai bersih. Ia perlahan ke luar bilik tersebut dan langsung menatap sosok hantu pria yang berdiri tepat di hadapannya. Wajah hantu itu terlihat mirip dengan wajah kepala yang menggelinding tadi. Perlahan ia tarik kepalanya dengan kedua tangan sampai terlepas. Lalu, ia serahkan kepala itu pada Raja.


"Aaaahhh... Aku terkejut, hahaha... emangnya Om pikir aku bakal ketakutan gitu dikasih kepala, harusnya kalau ketemu anak kecil kasih permen apa cokelat bukan kepala buntung, huh!"


Raja bersungut-sungut ke luar dari toilet pria itu meninggalkan hantu tadi.


"Anak siapa itu bisa-bisanya enggak takut sama aku, untung enggak ada hantu lain yang lihat kalau aku gagal nakutin anak tadi," gumam hantu kepala buntung tadi.


*****


To be continue...


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta