
Note: Sikapi bacaan dengan bijak, mengandung adegan yang tidak enak untuk dibaca.
Usia dewasa diperlukan! Terima kasih!
*****
Tasya dan Herdi sampai di panti asuhan. Mereka membawa empat kotak pizza ukuran besar ke sana.
"Duh, Neng Tasya, tadi Neng Dita sama lainnya pada buru-buru katanya mau ke galeri," ucap Ibu Ari.
"Ke galeri? Mau ngapain?" tanya Tasya.
"Tadi si Arya sama Anta kelihatan cemas gitu terus ngajak Neng Dita sama Pak Anan pergi ke galeri katanya."
Tasya menoleh pada Herdi.
"Coba kamu telepon Arya ada di galeri mana!" seru Tasya.
"Emang ada apaan, sih?"
"Enggak tau, justru ini mau cari tau. Udah sana hubungin si Arya!"
Tasya memberikan kotak pada Ibu Ari, "tolong bagikan semuanya ke anak-anak!"
"Baik, Neng."
Herdi selesai menghubungi Arya dan menceritakan semua penjelasan yang ia dengar dari anaknya itu.
"Kalau gitu kita harus bergegas ke sana, dan menghubungi polisi untuk mendapatkan bantuan," ucap Tasya.
"Ayo, Sya!"
"Kalian tunggu dulu!" Aiko berseru dari dalam rumah.
"Ada apa, Bu?" tanya Tasya.
"Berikan kalung ini pada Dita, saya mendapatkannya di kebun singkong dekat sumur, kata hantu penunggu sumur kosong itu, dia bilang Dita akan membutuhkan ini suatu saat nanti. Saya pikir ini saatnya saya berikan karena kalian terlihat cemas," ucap Aiko.
Tasya menerima kalung perak dengan bandul bulan sabit bertahta mahkota dengan kristal warna ungu itu.
"Baiklah, Bu, mungkin kalung ini nanti berguna untuk Dita. Terima kasih."
"Kalian hati-hati ya!" Senyum ketulusan terpancar dari wajah wanita itu yang sudah menganggap Dita sebagai anak sendiri.
***
Sementara itu di dalam galeri antik tempat Nyonya Karina.
"TIDAK...!" Lisna mencoba berteriak tetapi Mardi sudah membekapnya.
Gadis itu berusaha memberontak sekuat tenaganya. Mardi memegang belati di tangannya.
Semua mata terkejut melihat pria itu menyayat leher sang gadis. Darah segar langsung jatuh dengan sendirinya ke dalam cawan perak yang terletak di bawah ranjang batu pemujaan itu.
"Kurang ajar kau, dasar bajingan...!" seru Arga.
Bug!
Sumi memukul Arga sampai tak sadarkan diri lalu menutup mulut pemuda itu dengan kain yang disumpalkan ke mulut. Ria yang sudah menangis histeris melihat kengerian di depan matanya itu makin berusaha untuk berontak lepas dari ikatan tersebut.
"Kalian nanti urus tamu kita yang ini, biar aku selesaikan tugasku di sini !" perintah Mardi pada rekannya Sumi.
"Lepaskan aku!" teriak Ria sebelum mulutnya dibekap.
"Lepaskan? kau pikir aku akan membiarkan kalian lepas hahaha. Kau ini hebat juga ya bisa masuk ke sini. Oh iya aku harus bersiap untuk menyiapkan ruangan yang lain bagi Nyonya Karina," ucap Sumi.
"Aku sepertinya pernah melihat gadis ini sebelumnya, tapi di mana ya?" Harjuna mencoba menelisik ke arah Ria dengan saksama.
Ria hanya bisa melotot dengan tajam memandang orang-orang jahat di hadapannya.
"Tuh kan bener perasaan saya pernah lihat anak ini, ternyata kamu anaknya Nyonya Mia," ucap Harjuna menunjuk ke arah Ria.
"Nyonya Mia istrinya Tuan Hartono?" tanya Sumi.
"Iya benar, lihat saja mata dan bibir gadis itu mirip kan sama Mia!"
Betapa terkejutnya Ria kala mendengar nama orang tuanya disebut. Mungkinkah sang ibu terlibat dan mengenal dengan orang-orang jahat ini?
Mardi mendekatkan belati di tangannya ke pipi Lisna. Ia mulai menyayat dan menguliti wajah gadis yang sudah tak bernyawa itu.
"Wah, aku suka dengan gadis ini, kulitnya halus sekali pasti dia rajin melakukan perawatan," lirih Mardi. Setelah itu, ia menyobek perut Lisna dengan belatinya. Pria itu membersihkan organ dalam tubuh gadis tersebut.
"Hahahhaha aku suka itu!" pria di samping Sumi tertawa dengan puas .
"Kau sungguh kejam Mardi, kau benar-benar pria yang ku kagumi dan ternyata berhati iblis."
Sumi tersenyum menyeringai.
"Hei sudah ku bilang kan, di balik sikapku yang seperti pria idiot akan ada sikapku yang sangat kejam, karena kekejaman hanya ada padaku hahahaha." Mardi tertawa puas.
"Aku boleh bawa darah gadis ini ya?" pinta Sumi.
"Tentu saja, sayangku."
Harjuna tertawa geli melihat kelakuan kedua orang itu.
"Aku akan kembali menemui Karina, kalian bersenang-senanglah!" sahut Harjuna lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kita bersihkan tempat ini, aku mau membawa daging ini untuk dimasak!" seru Mardi.
"Bagaimana dengan dua orang pemuda itu?"
"Kita berikan pada Nyonya Karina, siapa tau nyonya besar butuh darah perjaka tambahan saat pemujaan nanti. Kalau gadis itu, hmmm... biarkan ia jadi santapan aku selanjutnya."
"Oke, kalau gitu kita tinggalkan dua orang itu di sini sampai rombongan Nyonya Karina memakai tempat ini ya."
Sumi lalu membantu Mardi merapikan tempat tersebut.
***
Mobil Anan tiba di Galeri Antik yang sangat ramai pengunjung dari kaum muda mudi di depan halaman mendengarkan live musik dari grup band lokal. Aneka makanan disiapkan untuk menemani para pengunjung yang mulai membeli barang-barang antik di tempat itu.
"Kita berpencar buat cari Arga sama Ria," ucap Arya.
"Ya udah, kalian hati-hati ya. Yanda sama Bunda ke bagian sebelah kiri, kalian ke bagian kanan," ucap Anan.
Semuanya mengangguk bersamaan mengiyakan lalu mulai berpencar. Arya dan Anta bertemu dengan Joko si ketua OSIS.
"Lihat Arga sama Ria, enggak?" tanya Anta.
"Tadi mereka ada kok lagi berduaan, jangan-jangan lagi pada mojok kali terus cium cium pegang-pegang huaaaa hahaha..." jawab Joko.
"Masa sih? Pikiran elo kotor banget!" Arya menoyor kepala Joko dengan kesal.
"Udah, Ya, cuekin aja, kita ke dalam sana aja!" ajak Anta menarik tangan Arya.
"Cie... Mau mojok juga tuh!" seru Joko meledek Anan dan Arya yang langsung menoleh menatap tajam dan mendengus kesal ke arah Joko yang langsung menunduk.
Pandangan mereka teralihkan kala melihat Fani sedang mendorong pria di belakang galeri tersebut.
"Tadi kan Lisna sama Elo, terus sekarang kemana?" hardik Fani dengan berteriak ke arah pemuda yang tampak mabuk karena habis menghisap lintingan daun ganja di tangannya.
"Gue enggak tau ya, jadi jangan dorong gue, dasar cewek sialan!" seru pria itu mendorong tubuh Fani sampai jatuh.
Anta langsung berlari menolong Fani karena kepala gadis itu berdarah terantuk dengan tepi tajam tiang rumah galeri di bagian belakang tersebut.
"Kakak enggak apa-apa?" tanya Anta.
"Duh, ngapain sih elo nolongin gue, enggak liat kepala gue berdarah gini pake nanya enggak apa-apa," sahut Fani.
"Eh, udah ditolongin malah sewot!" sahut Arya menunjuk Fani.
"Bodo amat!"
Gadis itu berdiri lalu menjauh pergi menuju mobil yang terparkir di halaman depan.
"Sialan nih si Lisna, jangan-jangan nemu cowok cakep apa om om baru terus ngajak dia pergi lagi ke hotel, huh!" keluh Fani seraya melangkah menuju mobilnya.
Sementara itu di ruangan kamar Karina, setelah semua anggota yang berjumlah delapan orang itu berpakaian kembali, mereka bangkit berdiri. Karina mengendus sesuatu dan tersenyum senang kala itu.
"Akhirnya, akhirnya yang kita tunggu-tunggu sedari tadi datang juga. Hahaha... nah kawan-kawanku yang berbahagia, mari kita sambut kedatangan Nyi Ageng...!"
****
To be continue...
Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰
Selamat menjalankan ibadah puasa.