
Happy Reading...
******
Sementara itu saat Dita memasuki kamar mandi, ia melihat sekelebat bayangan melintas di belakangnya.
"Siapa itu?" tanya Dita.
Tak ada jawaban lalu sesuatu menyentak wanita itu kala ia mencuci tangan dan menatap cermin pada dinding wastafel.
"Aaaaaaa...."
Dita jatuh tak sadarkan diri kemudian.
***
Dita terbangun di sebuah kamar. Ibu Munah bersama Bu Desi menggotong tubuhnya lalu merebahkan di atas ranjang berkasur kapuk.
"Kamu kenapa, Ta?" tanya Bu Desi seraya membaluri wanita itu dengan minyak angin.
"Ta-tadi, tadi aku lihat perempuan di kaca kamar mandi," ucap Dita.
"Perempuan? Itu bayangan kamu kali," sahut Bu Desi.
"Bukan, Bi, wajahnya ada darahnya. Duh, pedes, Bibi, jangan ke muka juga kasih minyak anginnya," protes Dita.
"Oh, maaf ya kebablasan."
"Mungkin Mbak Dita capek jadi berhalusinasi, Bu."
Bi Munah membawakan segelas teh manis hangat untuk Dita.
"Nah, bisa jadi itu. Ya udah kamu istirahat dulu, apa perlu nanti makanan kamu dibawa ke sini juga?" tanya Bu Desi.
"Enggak usah, Bi, nanti aku ke ruang makan aja."
Bu Desi dan Bu Munah pergi meninggalkan Dita. Wanita itu masih merenung memikirkan wajah perempuan tadi. Sosok perempuan dengan rambut kepang dua itu mengenakan seragam putih abu-abu. Perempuan itu menatap ke arahnya dengan tatapan kosong serta wajah pucat.
Lalu, tiba-tiba wajah perempuan itu penuh darah sampai mengejutkan Dita. Ia memang sering melihat penampakan para hantu tetapi hanya sekilas saat di kampungnya dulu. Namun, kali ini terlihat berbeda, sepertinya perempuan itu ingin berkomunikasi dengannya.
Wanita itu mencoba bangkit dan menuju ke kamar mandi kembali. Tak lupa ia lantunkan doa masuk kamar mandi agar tidak diganggu oleh para hantu seperti tadi. Dita pun mandi dengan tenang dan tak terganggu lagi.
***
Keesokan harinya, empat sekawan itu mengikuti kegiatan pengenalan ekstrakurikuler di sekolah. Dion dan teman-teman satu grup band beraksi di atas panggung. Semua murid perempuan bersorak kegirangan memandang wajah tampan anak muda itu. Ditambah lagi suara pemuda itu terdengar merdu.
"Seru kan dengerin lagu gue?" tanya Dion dengan lantang dari atas panggung.
"SERU...!" ucap semua murid perempuan bersamaan dengan kompaknya.
"Nah, yang mau ikut ekskul grup band dan vocal grup bisa gabung sama gue, yang mau daftar silahkan ke meja depan kelas 11C di ujung sana," ucap Dion.
"Yang mau daftar sama gue, ya...!" seru Fani dengan lantangnya membalas seruan Dion agar semua mata tertuju kepadanya.
"Oke, Fan, good job! Lagu selanjutnya gue mau persembahkan buat..."
Fani menyerahkan buku pendaftaran pada Lisna sahabatnya, ia segera melangkah ke dekat panggung menghampiri Dion seraya mengacungkan tangan kanannya.
"Pasti buat gue," ucap Fani penuh percaya diri.
"Lagu Jet Lag dari Simple Plan, gue persembahkan buat elo, cewek yang lagi belepotan makan es krim, hahaha...!"
Dion menunjuk ke arah Anta lalu ia mulai memainkan melodi gitar sebagai pembuka musiknya kemudian. Fani menoleh pada gadis itu dengan tatapan sinis.
"Eh, maksud dia Anta?" tanya gadis itu pada Mey dan Ria seraya mengusap bekas noda es krim dengan tisu.
"Cie... Anta... kayaknya Abang gue naksir nih sama elo," ucap Ria menggoda Anta.
Gadis itu tersenyum bersamaan dengan Mey.
"Dia ngomong apa barusan? Baru bawain musik kayak gitu aja udah belagu, liat nih gue bakal main musik dan nyanyi lebih bagus dari dia," sahut Arya yang menghampiri Anta.
"Halah, emang elo bisa nyanyi, bisa main musik?"
Arga menepuk punggung Arya.
"Beuh... gue mana bisa, entar gue belajar," sahut Arya.
Ucapannya barusan sukses membuat yang lainnya tertawa. Pandangan Arga tiba-tiba menoleh pada pohon asem besar di dekat kantin. Ia merasa melihat seorang kakek memakai pakaian adat jawa serba hitam menatap ke arahnya.
"Itu hantu apa bukan, ya, jangan-jangan penguasa kuntilanak di pohon asem lagi," gumam Arga.
"Katanya kamu jangan lihat ke pohon itu terus, kenapa diliatin?"
Anta menegur Arga yang masih bengong menatap pohon itu.
"Kamu lihat kakek di sana itu?" tanya Arga.
"Mey?"
"Iya, tapi diem-diem aja, udah jangan bahas apa-apa dulu."
"Hayo, pada ngomongin apa? Ngomongin gue, ya?" Arya menghampiri.
"Idih pede banget, udah ah Anta mau ke kamar mandi bibir Anta lengket."
"Mau dibantuin bersihin enggak, Nta?" tanya Arya sambil memonyongkan bibirnya.
"Heh, jangan modus luh, maksudnya apa bantuin bersihin terus mulut elu maju gitu?"
Arga yang sewot langsung memukul kepala belakang Arya.
"Gue bersihin pakai air lah, air ludah gue hahahaha...!"
Pletak!
Sebelum Arga menjitak kepala Arya, ternyata Anta sudah sigap duluan memukul anak muda yang iseng itu.
"Duh, sakit tau, Nta..." keluh Arya.
"Sukurin!"
Anta dan Arga kompak mengucap bersamaan. Gadis itu menarik lengan Mey menuju kamar mandi sementara Ria masih asik mengambil foto dengan kameranya.
"Duh, serem banget," ucap Ria.
"Serem gimana?" tanya Arya yang mendengar ucapan gadis itu barusan.
"Ummm... Kalian percaya hantu?" tanya Ria.
"Hantu? Ini samping gue lebih serem dari hantu," ucap Arya menoleh pada Arga.
"Kampret!" sahut Arga.
"Hehehe... gini aku mau cerita, tapi jangan bilang-bilang ya, kamera aku ini bisa menangkap gambar para hantu," ucap Ria.
"Masa sih, coba lihat!" pinta Arga.
Ria menunjukkan kertas polaroid hasil kamera tersebut. Terlihat dua sosok kuntilanak berdaster warna - warni sedang bergaya dengan tanda membentuk huruf V di tangan para hantu itu.
"Tuh, ini hantu kan? Tapi hantunya bergaya banget," ucap Ria.
"Hantu zaman now, lebay banget kayak gini, ya?" gumam Arya.
"Jadi, kamu percaya hantu?" tanya Ria.
Arya menjawab dengan anggukan kepala.
"Di sebelah gue ini si Arga dari bayi dia udah temenan sama hantu," ucap Arya.
"Ah, sialan luh!" maki Arga.
"Wah, keren... berarti cocok ya sama aku kalau lagi ngedate terus kita cari-cari penampakan dan ambil foto para hantu dengan kamera ini," ucap Ria tersenyum antusias.
"Otak elo di mana sih, masih utuh kan kaga berceceran?" tanya Arya.
"Apaan sih Arya ngomongnya kok gitu?"
"Kalau otak lo normal mana ada cewek yang pengen kencan ke sarang hantu terus cari penampakan, ya Ga?"
Arya menoleh pada Arga yang sedari tadi menahan tawa.
"Dih, kalian itu enggak bisa ya peka sama cewek cantik dan langka macam aku," sahut Ria.
"Kirain yang langka Anta doang, ternyata ada juga yang mirip Anta kelakuannya rada gesrek," ucap Arya tersenyum berangkulan bersama Arga.
"Idih, gue kenapa sok deket gini sama elo!" seru Arga tersadar kedekatan yang berbeda bersama Arya.
"Najis, gue juga ogah deket-deket sama elo, kaga sadar aja tadi gue!" sahut Arya bersungut-sungut.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni