
Happy Reading...
******
"Duh, kasian banget mana cakep lagi warna putih, bulunya bagus, lembut juga, bawa ke dokter hewan aja yuk!" ajak Dita. Ia masih tak berani menatap ke hantu anak kecil tadi.
"Boleh, yuk!" sahut Anan.
"Om... Tante... Tolong saya..." lirih suara hantu anak kecil itu terdengar memilukan.
Anan menoleh pada hantu anak kecil dengan luka gorokan di leher itu.
"Nan, ayo kita pergi aja!" pinta Dita ketakutan.
"Kasian, Ta, mana kedinginan gitu," ucap Anan.
"Serem, Nan..." lirih Dita.
"Om, anterin saya pulang, saya mau pulang," ucapnya.
"Rumahnya emang di mana?" tanya Anan.
"Duh, pake nanya rumah segala lagi," ucap Dita yang masih bersembunyi di balik punggung Anan.
"Di sana Om, aku mau pulang, aku kangen mama aku," ucapnya.
"Kasian, Ta, anterin pulang dulu ya?" pinta Anan.
"Duh, kok kamu sama banget sih sama Anta, suka enggak tegaan sama hantu," ucap Dita mencubit pinggang Anan.
"Eh, geli Ta, kasian ini kucingnya jadi tambah lemes gara-gara aku kegelian," ucap Anan.
"Apa hubungannya?" Dita melirik Anan.
"Enggak ada sih, yang aku mau tuh kalau ada hubungannya tuh kita gitu," sahut Anan.
"Ih, enggak jelas!"
Anan menoleh lagi pada hantu anak laki-laki tadi.
"Om, mau nolongin anak kucing ini dulu, ya, nanti balik lagi ke sini, kalau enggak percaya sama Om, kamu pegang ktp aku nih," ucap Anan.
"Nan... masa gitu sih sama hantu ninggalin ktp," sahut Dita.
"Dari pada dia ngikutin kita gara-gara enggak percaya," sanggah Anan.
"Aku ikut mobil Om aja di belakang mobil situ," ucapnya.
"Yah, percuma kamu nawarin KTP tetep dia mau ngikut kita," keluh Dita.
"Biarin aja deh, yang penting enggak ganggu," sahut Anan lalu melangkah menuju mobilnya. Ia tadi menghentikan mobil di seberang jalan karena melihat Dita.
"Kata kamu enggak ganggu? Diikutin setan enggak ganggu? Pikiran kamu kemana sih?" keluh Dita.
"Pikiran aku tuh cuma ke kamu, enggak ke mana-mana," sahut Anan seraya mengedipkan satu kelopak matanya dan menyerahkan anak kucing pada Dita.
"Pegangin dulu, aku mau nyetir, masa nyetir sambil megang kucing," pinta Anan.
Dita hanya terdiam dan menurut. Ia duduk di samping kursi kemudi seraya memegang anak kucing di pengakuannya.
"Tau aja ya lagi dipangku cewek cakep langsung anteng gitu. Jadi pengen gantian," ucap Anan seraya fokus melajukan mobilnya.
"Nan, jago banget sih gombalnya, pantes aja si Dina sampai ngejar-ngejar kamu gitu," ucap Dita.
"Hmmm... Aku mah males dikejar-kejar udah biasa. Aku maunya ngejar kamu, kamu mau enggak aku kejar?" tanya Anan, sesekali ia melirik ke arah Dita sambil tersenyum.
"Anan....!" seru Dita.
"Iya, sayang...."
"Anan!" Dita menepuk bahu Anan.
Pria itu masih saja tertawa lalu menyalakan musik di radio mobilnya.
"Nan, itu ada pet shop yang ada praktek dokter hewannya!" tunjuk Dita ke sebuah toko makanan hewan yang lengkap dengan grooming dan dokter hewan.
Mereka berhenti kemudian di sebuah toko bernama Jaya Vet. Setelah masuk ke dalam dan mendaftarkan kucing berbulu putih itu. Dita masuk ke dalam ruang Vet alias dokter hewan.
Kondisi kucing itu hanya lemas dan mengalami patah tulang di kaki bagian depan. Akhirnya Dita memutuskan untuk memelihara kucing tersebut. Ia membeli kandang dan peralatan makan serta makanan untuk kucing baru yang diberi nama Boni itu.
"Nan, hantu anak tadi mana?" tanya Dita.
"Tuh, pules ketiduran di balik terpal yang suka aku pakai buat nutupi ikan," sahut Anan.
"Ya udah anterin aku pulang ya, biar kucing ini bisa istirahat. Makasih ya kamu udah antar aku ke sini buat nolongin kucing ini," ucap Dita.
"Nan...."
"Ya, Ta...."
"Tau ah, kamu mah begitu terus."
"Sini kandang kucingnya aku taruh di belakang. Nanti aja buka lipatan kandangnya di rumah, aku yang pasang," ucap Anan.
"Rumah siapa?" tanya Dita.
"Rumah kita, eyaaakkk... panti asuhan kamu lah," sahut Anan.
Dita jadi merasa malu dan tersipu lama-lama karena Anan terus menggodanya. Entah kenapa, ia merasa sering mendapat perlakuan ini dari Anan. Lebih parahnya lagi ia malah suka mendapat perlakuan seperti itu dari pria ini.
"Baby... Tuh kan bener itu kamu, aku cari-cari kamu kata nenek kamu ke pasar eh tau di pet shop sini," teriakan Dina terdengar dari dalam mobil taxi online yang ia tumpangi itu.
"Ta, naik buruan, enggak mau kan dikejar sama nenek lampir!" seru Anan langsung menaruh kandang di belakang mobil pick up miliknya. Lalu ia naik ke dalam mobil diikuti Dita.
"Baby... kamu mau ke mana? Tunggu aku!" Dita terlihat turun dari taxi dan hendak membayar ongkos taxi yang ia pesan itu.
Anan langsung melajukan mobilnya menjauh dari Dina.
"Baby... tungguin aku! Pak, kejar mobil itu sekarang!" pinta Dina yang naik kembali ke dalam mobilnya.
Anan berhasil melajukan mobilnya dan bersembunyi di belokan samping pabrik yang merupakan jalanan buntu. Mobil taxi yang Dina tumpangi ternyata tak melihat karena sempat terhalang lampu merah. Mobilnya masih saja lurus mengikuti jalan raya itu.
"Hahaha... emang enak!" seru Anan.
"Gila, Astagfirullah kamu ngebut banget bawa mobilnya," ucap Dita.
"Maaf ya, soalnya biar cepet menghindari nenek lampir itu," ucap Anan.
"Nan, tapi di atas pohon itu kayaknya nenek lampir beneran deh lagi ngeliatin kita," bisik Dita melirik ke atas pohon tapi tak berani melihat lagi.
Bantu seorang nenek yang menggunakan kebaya lusuh dan kain batik yang compang-camping terlihat duduk di atas ranting pohon. Rambut putihnya berantakan menutupi wajahnya. Kakinya penuh darah yang terlihat masih menetes.
"Hmmm... kebiasaan ada aja yang gangguin, hebat juga tuh nenek bisa sampai di atas pohon tinggi gitu," ucap Anan.
"Anan, jangan bercanda lah, udah ayo pulang!" ajak Dita.
"Iya, kita pulang, eh tapi kalau dipikir-pikir sereman Dina ya daripada nenek lampir itu, hahaha...." ucap Anan lalu melajukan kembali mobilnya menuju panti asuhan Dita.
***
"Kak Jorji, jangan ikutin Anta terus apa," sahut Anta mencoba protes.
"Aku takut, tau Nta, dari tadi lihat hantu serem terus, mana akrab banget sama kamu," ucap Jorji.
"Mereka baik kok, Anta seneng temenan sama mereka," ucap Anta.
"Kamu enggak takut ya, Nta? Aku aja ketakutan terus kalau lihat mereka, lihat tuh mereka kan serem," ucap Jorji.
"Nanti juga biasa," ucap Anta.
"Kak Anta, ada Kak Arya tuh!" ucap Raja yang sedang bermain di rumah Tasya karena Dewi belum pulang malam itu. Kedua orang tua asuhnya itu sedang pergi memenuhi undangan klien.
"Arya mau ngapain ke mari?" gumam Anta.
"Mau nemuin kamu kali, mau ngajak kencan, hehehe..." ledek Jorji.
"Apaan sih Kak Jorji, enggak lucu!"
"Siapa yang ngelawak, orang aku cuma menduga, kok. Lagian Arya juga lumayan ganteng," ucap Jorji.
"Tau amat!" seru Anta lalu menuju ruang tamu menemui Arya.
"Kenapa, Ya?" tanya Anta.
"Cobain nasi goreng buatan aku, tadi aku lupa mau kasih kamu sampai bau di tas aku."
"Terus itu nasi goreng tadi pagi?" tanya Anta.
"Bukanlah, aku buat lagi barusan," jawab Arya.
"Cie... Aku kamu," ledek Raja.
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni