
Hai semua,
sebelum membaca, bayar tulisanku dengan poin kalian, pokoknya jangan lupa
VOTE…!
Terima kasih…
******
Anta yang
mengenal Dion langsung turun dari mobil dan membantu anak itu. Ia berusaha
melewati kerumunan para warga yang melihat kecelakaan tersebut. Tasya segera
menghubungi ambulans untuk membawa anak muda itu ke rumah sakit terdekat.
Dion yang
mengendarai sepeda motor ke sekolah, hari itu mengalami kecelakaan karena
tertabrak oleh pengendara mobil yang mabuk sehingga membuat kepala anak itu
terbentur trotoar dan tak sadarkan diri.
“Anta kamu naik
ke ambulans temenin dia, Tante sama Mey ikut di mobil belakang sekalian cari
tau keluarga dia yang bisa dihubungi,” tegas Tasya.
“Oke, Tante.”
Sementara itu,
si pengendara mabuk yang menabrak Dion, diamankan oleh pihak kepolisian untuk
dimintai pertanggung jawaban.
***
Dion dilarikan
ke Rumah Sakit Keluarga milik keluarga Arjuna dulu. Anak itu langsung ditangani
karena Anta merupakan anak dari ketua yayasan di rumah sakit itu yaitu Mama
Dewi.
“Udah cari
keluarga dia ada di mana?” tanya Mama Dewi.
“Tante Tasya
tadi bawa kartu pelajar Dion, terus mau cari alamatnya berdua Mey,” jawab Anta.
“Ya udah kalau
begitu, kamu makan siang dulu, yuk!” ajak Mama Dewi.
“Tapi, Dion
gimana?”
“Dia kan lagi
dioperasi, Nta, pasti butuh waktu lama, mending makan dulu, kamu pasti belum
makan siang, kan?”
“Belum.”
“Ya udah, ayo
ikut!”
Mama Dewi
menarik tangan Anta agar beranjak pergi dari ruang tunggu depan ruang operasi.
***
Tasya dan Mey
yang mencari keluarga Dion melalui alamat yang tertera di kartu pelajar sampai
disebuah rumah besar berbentuk klasik berpagar warna putih. Cat dinding rumah
besar itu juga terlihat sangat lusuh.
“Selamat siang,
ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya seorang kakek tua penunggu rumah itu.
“Begini, apa
benar ini rumahnya Dion Haryadi Indraguna?” tanya Tasya.
“Betul, tapi,
Den Dion belum pulang.”
“Memang belum
pulang, Pak, saya juga tau, hanya saja saya ke sini mau ketemu keluarganya,
ada?”
“Memangnya ada
apa, ya, apa Den Dion berulah lagi di sekolah?” tanyanya.
“Dion mengalami
kecelakaan, dan sekarang berada di rumah sakit, saya ke sini mau memberikan
kabar kepada pihak keluarganya,” ucap Tasya.
“Astagfirullah,
Den Dion kecelakaan, mari masuk!”
Tasya dan Mey
mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu.
“Silakan duduk
di sini, saya panggil Nyonya Mia dulu,” ucapnya.
“Apa itu ibunya?”
tanya Tasya.
“Bukan, itu adik
dari ibunya, kalau Nyonya besar sudah meninggal satu tahun yang lalu,” ucap
pria itu lalu masuk ke dalam.
“Bener udah
meninggal, hantunya lagi ngeliatin kita, Mey,” bisik Tasya.
Sosok perempuan
seusia Tante Dewi dengan rambut pendek seleher sedang menatap ke arah Tasya.
Wajah pucat itu terlihat sangat sedih. Ia memakai pakaian tidur yang terlihat
lusuh dan bersimbah darah di bagian perutnya seperti terkena tusukan.
Mey langsung
mendekat ke samping Tasya seraya menguatkan diri untuk melihat hantu tersebut.
“Kamu bisa
lihat, Mey?” bisik Tasya.
“Bi-bi-bisa,
Tante.”
“Sejak kapan?”
“Ke-kemarin di
pohon asem sekolah aku-“
“Kenapa di pohon
asem sekolah?”
“Aku jatuh terus
kepalaku terbentur, nah, dari situ aku bisa lihat penampakan,” ucap Mey
berbohong.
“Oh, gitu.”
TIba-tiba, hantu
wanita itu mendekat ke hadapan Tasya.
“Haduh, perasaan
ini kaki udah sampai depan aku aja,” bisik Tasya.
“Iya, Tante,
coba tanyain ada keluhan apa,” bisik Mey.
“Emangnya pasien
sama dokter pakai tanya ada keluhan apa,” sahut Tasya ketus.
Wanita itu
mencoba menoleh perlahan dari ujung kaki sampai ke wajah si hantu. Akan tetapi,
hantu itu maju perlahan menyentuh wajah Tasya dengan kedua tangannya yang
pucat. Tangan hantu wanita itu terasa kasar dan berbau menjijikkan saat
menyentuh pipi perempuan yang duduk di samping Mey.
“A-an-anda, mau
apa?” tanya Tasya dengan penuh kegugupan merasuk ke raga wanita itu.
“Tolong, tolong
bantu anak saya,” ucap hantu wanita itu lirih dan terdengar suara serak yang
parau.
“To-tolong
si-siapa, Dion?”
Hantu wanita itu
menganggukkan kepalanya.
“Memang tadi
Hantu wanita itu
menggelengkan kepalanya, seolah bukan itu maksud dari permintaan tolongnya.
“Tolong jaga
jiwa anak saya,” ucapnya.
Namun, sebelum
Tasya bertanya kembali apa maksud perkataan wanita tersebut, hantu itu telah
menghilang dari pandangan karena penjaga rumah tadi sudah hadir membawa seorang
perempuan bernama Mia.
“Tadi kata Mang
Wahyu, kamu bilang keponakan saya kecelakaan, bener dia namanya Dion?” tanya
wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu.
“Iya, Bu, ini
saya bawa kartu pelajarnya,” ucap Tasya menyerahkan kartu pelajar milik Dion yang
dia ambil dari dompet anak tadi.
“Iya, ini bener
Dion, sebentar saya panggil Ria,” ucap Mia.
Tak lama
kemudian, Ria datang menuruni anak tangga langsung menuju ke arah ibunya.
“Kenapa, Mah?”
tanya Ria.
“Ria?”
Mey bangkit dari
kursi dan memandang ke wajah anak gadis yang ia kenal itu.
“Kamu, Mey,
temannya Anta, kan?” tanya Ria seraya menunjuk ke arah Mey yang menjawab dnegan
anggukan kepala.
“Jadi, kalian
satu sekolah? Berarti ini benar dong temannya Dion?”
Nyonya Mia
menelisik ke arah Tasya dan Mey.
“Emangnya, Abang
Dion kenapa, Mah?” tanya Ria.
Kedua wanita di
hadapan Tasya menoleh padanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan Ria
barusan.
“Dion,
kecelakaan. Dia ditabrak sama pengendara mabuk, sekarang ada di Rumah Sakit
Keluarga,” jawab Tasya.
“APA?”
Ria dan ibunya
berucap bersamaan dengan raut wajah terkejut.
***
Setelah
menyantap mie ayam dan jus jeruk yang dibelikan oleh Mama Dewi, Anta kembali ke
ruang tunggu. Setelah menunggu sampai Dion selesai operasi, pasien itu
dipindahkan ke ruang perawatan.
“Tasya udah
ketemu sama keluarga pasien ini, belum?” tanya Mama Dewi pada Anta.
“Enggak tau deh,
Ma, soalnya hape Anta mati,” jawab anak gadis itu.
Mama Dewi lalu
menyerahkan ponsel oada Anta.
“Hubungi Tante
Tasya!”
“Oke.”
Anta mencari
nama Tasya di kontak ponsel milik Mama Dewi. Setelah tersambung, Tasya
menuturkan tentang pertemuannya dengan Ria dan ibunya, Nyonya Mia. Mereka akan
segera menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Dion.
“Tante Tasya
udah ketemu sama keluarga Dion lagi pada menuju ke sini,” ucap Anta.
“Bagus kalau
begitu. Kamu di sini dulu, ya, Mama mau ke ruangan dulu balik kerja, nanti
kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan kamu ke ruangan Mama, ya,” ucap wanita
itu.
“Oke, Mama
tenang aja,” ucap Anta.
Gadis itu lalu menuju
ke ruang perawatan Dion. Namun, setibanya ia di sana kedua matanya terperanjat
melihat sosok pria muda berdiri di samping Dion. Ia mengenakan baju seragam
yang sama dengan sekolahnya.
“Kamu siapa?”
tanya Anta.
Pria muda itu
menoleh pada Anta.
“Elo bisa lihat
gue?”
“Hah, Kak Dion?”
“Iya, gue Dion,
elo bisa liat gue? Soalnya tadi dua suster yang bawa gue ke sini enggak bisa
lihat gue, terus yang bikin gue heran kenapa badan gue lagi tiduran di sana,
Nta?” tunjuk Dion ke arah tubuhnya yang masih terbaring lemah dengan bantuan
beberapa alat-alat mesin.
Anta tak menjawab pertanyan Dion, karena
sejujurnya ia juga bingung dengan apa yang terjadi dengan diri pemuda di
hadapannya itu.
“Anta, woi! Gue
udah mati belom, sih?” tanya pemuda itu seraya menoyor dahi Anta.
Gadis itu tersentak dengan perlakuan Dion barusan yang mengejutkannya.
“Ih, mana Anta
tau, sih!”
“Nah, gue bukan
setan, kan? Buktinya gue masih hidup terbaring di sana, tuh!” tunjuk Dion.
“Anta juga
enggak ngerti, Kak Dion, bentar ya Anta panggil temen Anta,” ucap Anta.
“Temen yang
mana?”
“Udah diem aja,
jangan berisik, sebentar lagi juga dateng,” ucap Anta.
“Ngapain elo
panggil gue?”
Sosok Arya sudah
berdiri di belakang Dion mengejutkan anak muda itu.
*******
To be continue…
Jangan lupa
kepoin “POCONG TAMPAN” biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih
semuanya… Vie Love You All…
Follow IG :
@vie_junaeni
Dan mampir juga
ke novelku lainnya.