Anta's Diary

Anta's Diary
Pertunjukan Wayang di Mulai



Jangan lupa Votenya... Happy Reading...


*******


"Haduh, kita kasih tau Arga nih, kita harus merencanakan sesuatu, nanti kalau dia makan korban lagi, gimana?" gumam Anta.


"Kenapa sih apa-apa Arga, kenapa gak coba minta pendapat aku?" keluh Arya dengan wajah cemberut menatap Arga.


"Kayaknya, Arya cemburu nih sama Arga," bisik Silla kepada Uli.


"Arya cemburu? Dia naksir Arga gitu?" tanya Uli dengan wajah polosnya.


"Pocong Oon!"


Silla menarik ikatan Uli dengan gemas.


"Baiklah adik - adik semuanya, sebelum acara dimulai, jangan lupa nanti saat pertunjukan wayang kulit, saya mau kalian catat cerita wayang tersebut sedetail mungkin sebagai bahan tugas kalian, mengerti?" tanya sang ketua panitia.


"Mengerti, Kak..." ucap semua anggota dengan kompak.


Acara pertunjukan pun dimulai, ada yang menampilkan tarian daerah, lagu daerah juga seperti tim Anta dan ada juga yang membuat mini drama. Sampailah tepat pukul sembilan malam, pertunjukan puncak wayang kulit digelar. Semua penonton terkesima dengan pertunjukan tersebut. Mereka menonton dengan cemilan lengkap di tangan seperti jagung rebus, kacang rebus, es teh, aneka jus, sate bakso atau sosis dan aneka cemilan lainnya.


Sementara itu, Arya sudah ketakutan dari tadi tapi ia bertahan demi tugas. Karena Mey duduk di sebelahnya, sesekali anak muda itu bersembunyi di bahu gadis itu. Pemandangan di atas panggung terlihat menyeramkan. Mey tersenyum melihat Arya yang seperti itu, kini paha kanan Mey dan paha kiri Arya bersentuhan karena duduk lebih dekat.


Di sisi lain Anta tepat duduk di belakang Mey dan Arya. Gadis itu malah sibuk mengamati para hantu tanpa kulit tersebut yang berdiri di samping panggung dan berbaris rapih. Anta menoleh ke arah Arga yang ada di sampingnya.


"Liat yang itu deh, gak ada kepalanya!" bisik Anta sambil menunjuk.


"Itu, kepalanya dipegang, Nta," sahut Arga yang agak takut memandang. Tapi, keahlian menggambar anak muda itu sudah lebih bagus. Bahkan Arga sekarang bisa menggambar sketsa para hantu di sketch book miliknya.


"Oh, itu kepalanya dipegang aku pikir dia pegang gendang buat ditabuh, taunya kepala habis botak sih, hihihi..." bisik Anta.


"Wah, Arga gambarnya jadi tambah bagus nih, keren lho," ucap Anta.


"Tangan aku sekarang refleks, Nta, tiap lihat hantu langsung gambar gini, jadi sekarang aku bawa note book di saku," jawab Arga.


"Sampe segitunya?"


"Daripada aku gambar di tembok apa muka kamu, mau?"


"Idih, ogah."


Tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang menangis menunjuk ke arah hantu Silla yang sedari tadi meraih kacang rebus yang sudah Anta kupas dan gadis itu letakkan di kursi kayu samping Anta duduk.


"Mama, itu ada kuntilanak huhuhu, dedek takut," rengeknya menunjuk Silla.


"Duh, nih bocah kenapa bisa lihat aku, sih?" tanya Silla.


"Mama itu ada pocong juga, ayo pulang!" ajaknya seraya menarik sang mama dan menangis makin keras membuat pertunjukan wayang terhenti dan dalang Ki Romo menoleh.


"Aduh, dia bisa lihat gue juga?" tanya Uli.


"Maaf ya, anak saya emang suka gini," ucap sang Mama.


"Udah malam, Bu, bawa pulang aja," pinta Anta.


"Tapi saya lagi jualan, Neng, dia gak ada yang jagain di rumah, dia emang suka gini kalau lagi sakit suka liat memedi," ucapnya.


"Mama, ayo pulang!" rengek anak yang berusia lima tahun itu.


"Lagian Bu, anak lagi sakit jangan dibawa dagang apalagi sampai malam gini," sahut Arya.


"Habisnya saya butuh duit, Den, kalau pameran gini banyak yang beli," jawab si Ibu.


"Ibu dagang kue, ya? Itu total berapa duit, Bu?" tanya Anta yang melirik ke arah Silla dan Uli agar bersembunyi dan menghilang sejenak. Anta juga menghalangi anak itu agar tak melihat ke arah hantu-hantu tanpa kulit di dekat panggung.


"Ini tinggal seratus lima puluh ribu, Non," ucapnya.


"Anta beli deh, Anta borong semuanya biar Ibu cepet pulang," ucap Anta.


"Baik banget si Anta," celetuk Arya yang mendengar pembicaraan Anta.


"Iya dong, Anta kan sehat jadi baik-baik aja enggak lagi sakit, sini bagi lima puluh ribu, Arga juga bagi lima puluh ribu, Iman sama Mey patungan juga sini!" pinta Anta.


"Nyesel gue bilang Anta balik, taunya kita dipalak," keluh Arya.


"Udah sih buruan kasian tuh adiknya nangis aja," ucap Anta.


"Gara-gara pocong sama kunti sial nih pakai keliatan segala," keluh Arya menyerahkan selembar uang kertas lima puluh ribuan begitu juga Arga.


"Iman, mana uang kamu, jangan makan doang bisanya," seru Anta.


"Dua puluh aja ya," sahut Iman.


"Ya udah gak apa, sini buruan!" pinta Anta.


Setelah uang terkumpul Anta juga meraih uang kertas lima puluh ribu dan menyerahkan pada si ibu tadi.


"Non, ini kebanyakan," ucap si Ibu penjual kue.


"Gak apa sisanya buat bantu berobat adek, Anta bantu ya beresin bakul dagangannya. Arga kamu tutupin mata si Adek biar gak liat yang aneh-aneh deket panggung," pinta Anta.


"Oh, iya beres."


***


Pameran kuliner dan pertunjukan wayang di sekitar bumi perkemahan itu akhirnya selesai.


"Duh, tadi Anta lupa ceritanya kayak apa karena bantu ibu tadi," ucap Anta.


"Tenang, tadi aku sama Arya bagi tugas buat mencatat, tapi aku catat setengah, si Arya setengah," ucap Mey.


"Bagus, kalian memang tim yang bisa diandalkan, coba lihat!" pinta Anta.


"Arga memangnya gak catat?" tanya Arya.


"Tadi, itu ummm anu, aku...."


Arga akhirnya menunjukkan buku sketsa miliknya.


"Kok, elo malah sibuk gambar bukan nyatet?" seru Arya.


"Sorry, gue juga gak ngerti tiap lihat hantu tangan gue gerak sendiri sekarang buat melukis mereka," ucap Arga.


"Udah sih, kita kan satu tim contek mencontek kan wajar saling bantu," sahut Anta.


"Huh...." Arya menjulurkan lidahnya pada gadis itu dengan kesal.


"Bentar deh, tulisan Mey masih bisa dilihat, ini tulisan Arya udah dikumpulin gini huruf-hurufnya tetep gak kebaca kenapa, ya?"


Anta mengibas-ngibaskan buku pemberian Arya.


"Sial luh! Emang tulisan gue jelek banget apa?" seru Arya mencoba menarik buku miliknya dari tangan Anta tapi disembunyikan di sela ketiak Anta seraya tertawa.


"Emang jelek, wleekkk!"


"Udah sini, jangan contek!" seru Arya yang mengejar Anta karena berlari berputar-putar meledek Arya.


Mey mengamati keduanya dengan raut sedih, tapi gadis itu mencoba untuk tersenyum dan memaksakan tawanya. Beda dengan Arga yang langsung tegas menghentikan permainan Anta dan Arya.


"Stop! Kayak anak kecil aja, nih! Sekarang aku mau tanya pada liat Iman, gak?" tanya Arga.


Kompak semua mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepala bersamaan.


"Waduh, kemana nih si gendut," gumam Arga.


******


Follow IG ku ya @vie_junaeni


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All...😘😘😘


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!