Anta's Diary

Anta's Diary
Mey Sadar



Happy Reading...


*****


Bone menangis saat menceritakan kisah hidupnya di rumah sakit itu. Ia ingin mati saja dengan tenang. Ia tak mau terus-terusan berada di tubuh jelek itu.


"Kamu enggak boleh ngomong gitu," ucap Anta.


"Aku malu sama diriku sendiri, Kak, aku malu kayak gini terus, huhuhu..." ucap Bone.


"Anta mau jadi temen kamu, Anta juga punya adik, dia pasti mau temenan sama kamu," ucap Anta.


"Aku juga mau temenan sama kamu, ya kan, Nan?" Dita menoleh pada Anan.


"Mau kok, aku juga mau lebih dari temen kalau sama kamu, Ta," sahut Anan.


"Hahaha... so sweet banget si Yanda," sahut Dita.


"Tau nih, gombal banget," sahut Dita.


"Hehehehe... udah kalian pada tidur aja gih, istirahat dulu. Aku mau nonton bola ya," ucap Anan.


Pria itu lantas duduk di sofa dan menyalakan tv di kamar Anta dengan suara yang pelan. Setelah semuanya terlelap, Anan yang hendak berteriak gol saat salah satu pemain favoritnya mencetak gol ke gawang lawan, ia langsung menahan teriakannya. Ia juga menahan berjingkrak-jingkrak agar Anta dan Dita tak terbangun.


***


Seminggu berlalu dari peristiwa kebakaran di SMA Satu Jiwa. Kini, mereka menumpang di SMA Karya Bangsa, gedung sekolah yang bersebelahan dengan sekolah Raja, para siswa tersebut. menempati kelas sekitar jam setengah satu siang dan pulang pukul setengah 6 sore. Mereka harus menunggu sekitar enam bulan sampai satu tahun saat sekolahnya di renovasi kembali.


Bone berteman dengan Raja, bahkan makhluk kerdil itu begitu menyukai anak ini. Namun, ketika Raja ke sekolah, Bone dilarang ikut dan harus tetap tenang berada di rumah.


Hanya saja, makhluk besar yang seperti kera memiliki bertanduk itu bisa datang kapan saja dan meminta tumbal. Kedua orang tua Bone kabur ke luar negeri demi setelah tak terbukti melakukan pembunuhan dengan menjadikan korbannya tumbal.


Polisi tak akan percaya karena kematian korban yang ditumbalkan tersebut sangatlah wajar dan diaggap kecelakaan semata. Namun, karena ketakutan kehilangan Bone, mereka lantas pergi ke luar negeri. Mereka tak peduli dengan keadaan putrinya tersebut.


Sore itu sepulang sekolah, ponsel Anta berbunyi. Ia siap masuk ke dalam mobil milik tanya. Sementara Raja yang ikut menjemput Anta dengan Tasya malah bertemu dengan beberapa kawan perempuannya yang tinggal tak jauh dari sekolah. Ia terlihat asik menerima banyak kiriman makanan seperti es krim, susu kotak, cokelat dan roti dari para penggemarnya.


"Kenapa, Ma?" tanya Anta yang menerima sambungan dari Dewi.


"Mey sadar dan dia manggil kamu, gimana nih?" tanya Dewi dari seberang sana.


"Mey, dia cari aku?" tanya Anta.


"Iya, dia juga mau ketemu sama temen-temen lainnya, menurut kamu gimana? Kayaknya ini permintaan terakhir dia deh, Nta," ucap Dewi.


"Permintaan terakhir? Maksud Mama apa sih?" tanya Anta tak mengerti.


"Dokter Rina yang merawat Mey bilang kalau gadia itu tak akan hidup lebih lama lagi, kondisinya mengenaskan dan Mey mulai kesulitan bernapas," ucap Dewi.


"Anta nanti ke sana, deh. Anta ajak yang lainnya juga," ucap Anta.


"Kenapa, Nta?" tanya Tasya.


"Mey, dia cariin Anta sama yang lainnya, katanya Mama Dewi bilang hidup Mey enggak akan lama lagi," ucap Anta.


"Ya udah, kamu suruh temen-temen kamu susul kita ke rumah sakit, tapi dia masih dalam pengawasan polisi, kan?" tanya Tasya.


"Masih, ada dua polisi yang jaga di depan ruangannya," ucap Anta.


"Ya udah, ayo ke sana. Raja... ayo buruan! Udahan jumpa fans-nya!" seru Tasya memanggil anak itu untuk masuk ke dalam mobil.


Anak laki-laki itu langsung menganggukkan kepala dan melangkah menuju mobil. Di tangannya menjinjing tas kanvas berisi hadiah makanan yang diberikan teman perempuannya tadi.


Di dalam mobil, Anta mengirimkan pesan berantai ke Ria, Arga dan Arya agar datang ke rumah sakit menemui Mey. Mereka pun menyetujuinya dan membuat janji temu di rumah sakit pukul tujuh malam.


***


Sesampainya di rumah, Raja menyerahkan hadiah-hadiah tadi ke Bone. Sosok itu sedang berada di kaca jendela dan melihat ke arah taman.


"Kamu lagi apa di situ?" tanya Raja.


"Aku pengen deh main ke luar, main di sana, di taman itu," tunjuk Bone ke arah taman yang terlihat kecil dari jendela rumah Dewi.


"Enggak apa, Ja, aku di sini aja, daripada aku bikin malu kamu sama yang lainnya," ucap Bone dengan raut wajah sedih.


"Masalahnya bukan karena malu. Aku enggak peduli sama bentuk kamu, tapi kata mama Dewi kamu itu unik, nanti kalau ketemu orang jahat kamu malah diculik dan diperjual belikan," ucap Raja.


"Emang ada yang mau beli aku, terus buat apa?" tanya Bone.


"Nih, kemaren Kak Anta juga kasih tau beritanya di hape, bentar aku cariin," ucap Raja.


Ia lalu mencari sesuatu di mesin pencari ponsel pintarnya lalu setelah ketemu, ia tunjukkan pada Bone kala itu.


"Kamu lihat kan, ada anak gendruwo, ada jenglot, ada ular kepala manusia, hiu berwajah manusia, buaya yang kakinya kayak manusia, juga ada makhluk kayak kamu yang rata-rata korban pesugihan. Kamu mau diculik orang kayak gini dan dijadikan tontonan banyak orang?" tanya Raja.


Bone menggeleng, ia juga takut jika harus selamanya dijadikan layaknya hewan sirkus yang dipertontonkan dan selalu dikurung di dalam jeruji besi seperti yang Raja tunjukkan. Akhirnya makluk itu mengerti kenapa keluarga Raja begitu melindunginya.


"Terima kasih ya, Ja, kamu dan yang lainnya mau melindungi aku," ucap Bone.


"Sama-sama, nih makanin aja, kamu pilih aja mana yang kamu mau, aku mau pergi lagi ya ke rumah sakit mau ikut Kak Anta," ucap Raja.


Bone tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.


"Seandainya saja aku berwujud normal, aku akan bilang sama Raja kalau aku suka sama dia, dan dia pasti enggak malu kalau jalan sama aku," gumam Bone.


***


Arga membawa Arya ikut serta dalam mobilnya. Kebetulan saat mobilnya sampai di parkiran rumah sakit, mereka bertemu dengan Anta yang harus saja tiba bersama Raja dan Tasya. Tak lama kemudian ada mobil Dion yang tiba di parkiran karena mengantar Ria ke sana.


"Aduh... kenapa sih, si kutu kupret pake ngikut segala," gumam Arya.


"Nganterin Ria kali," sahut Arga.


"Ya harusnya tadi elo yang jemput, jadi si Dion kaga ngikut kemari," seru Arya.


"Ogah amat gue jemput dia, emang gue pacarnya apa?" sahut Arga dengan nada kesal.


"Heh, pada ribut aja sih. Berarti kalian pacaran, dong?" celetuk Raja yang mencuri dengar perdebatan Arya dan Arga.


"Eh, bocah ingusan! Main nyeletuk aja pakai bilang kita pacaran," ucap Arya menjitak kepala Raja dengan gemas.


"Katanya kalau jemput-jemputan berarti pacaran, berati kalian pacaran, wleek!" Raja meledek kedua pemuda itu sambil berlari menjauh.


"Wah, kalau bukan adiknya Anta, udah habis gue injek itu bocah," ucap Arya seraya meninju telapak tangannya sendiri.


"Ho oh, makin gede makin bertingkah juga si Raja, belum pernah kita kasih pelajaran tuh bocah," sahut Arga.


"Emang si Raja mau diajarin apaan?" tanya Anta yang sudah muncul di belakang kedua pemuda itu.


"Ummm... Anu, anu itu, Nta, belajar anu," ucap Arga yang saling dorong bahu dengan Arya.


"Belajar matematika maksudnya, si Arga kan pinter," ucap Arya yang buru-buru mencari alasan seraya merangkul Arga.


"Oh... begitu jadinya. Eh, daripada di Arga ngajarin Raja matematika, kenapa enggak kamu aja yang diajarin sama Arga, nilai matematika kamu kan selaku di bawah kkm," ucap Anta tersenyum meledek seraya melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit bersama Tasya. Dion dan Ria terlihat menertawai Arya kala itu.


"Kok, jadi gue yang kena bully, awas ya si cuma albino," ucap Arya bersungut-sungut.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Vie punya cerpen baru, yuk mampir


"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon


Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.


Follow IG : @vie_junaeni