
Happy Reading...
*****
Asap mulai menyelimuti rumah besar tersebut. Anta memapah tubuh Dita yang mulai terlihat lemas. Sementara Raja mencoba menyadarkan Anan.
"Bawa Yanda ke rumah sakit sekarang!" lirih Dita.
Mereka berusaha mencari jalan keluar halaman rumah besar yang dulunya milik Aji dan keluarganya. Kini, Anta berada di luar halaman dengan keletihan melanda. Anta menurunkan tubuh bundanya di tepi jalan dekat dengan mobil Anan.
Silla juga sudah sadar dan langsung sigap menolong. Dia juga
"Uhuk ... uhuk ... kamu nggak apa-apa kan, Nta?" tanya Arya yang menangkup wajah gadisnya.
"Aku nggak apa-apa, cepat bawa Yanda ke rumah sakit!" pinta Anta.
"Arya sama Raja angkat Om Anan, aku siapin mobil," ucap Arga.
Arga langsung menyiapkan mobil untuk membawa Anan dan Angel ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit, Dita berusaha menyadarkan Anan dengan menepuk pipinya. Namun, suaminya itu tak kunjung sadarkan diri. Kepanikan mulai melanda seiring dengan tangisan yang mengalir begitu saja dengan derasnya di kedua mata Anta dan Raja.
"Bagaimana ini, Bunda?" tanya Anta.
"Kita tunggu kata dokter," ucap Dita yang melihat para suster menyambut Anan dengan membawa kursi roda.
Tubuh Anan lalu dibawa ke dalam sebuah ruangan. Dita dan Anta menunggu di depan ruangan tempat Anan diperiksa oleh sang dokter. Sementara itu, Arya menuju ke kantin rumah sakit. Dia tau kalau Dita dan Anta pasti butuh banyak asupan setelah menjadi Ratu Kencana Ungu.
Raja dan Arga mengunjungi Angel di ruangan perawatannya dalam rumah sakit itu. Untungnya gadis itu baik-baik saja. Hanya saja dia masih merasa syok melihat para hantu yang mati mengenaskan dalam gudang bawah tanah. Apalagi dia juga merasa hampir mati.
Arya kembali membawakan beberapa botol minuman juga roti untuk Anta dan Dita. Tiba-tiba, Dita dan Anta melihat sosok Andri yang sedang membopong Tante Dewi. Darah masih mengucur deras dari kedua kaki wanita itu. Ibu dan anak yang sedang meneguk air teh manis dingin langsung menyemburkan air dalam mulutnya ke wajah Arya saking terkejutnya.
"Astagfirullah, apa yang terjadi?" tanya Dita langsung menghampiri. Dia serahkan botol minum itu ke dada Arya.
"Aduh, calon bini sama mertua gue kelakuannya," keluh Arya.
"Maaf ya, Ya, kita kaget," ucap Anta berusaha membersihkan wajah Arya.
"Tante Dewi kenapa?" tanya Dita.
"Nanti aja ceritanya, sekarang panggil suster!" seru Andri.
Tante Dewi tak sadarkan diri, di kedua kaki wanita itu mengalir darah segar. Tanpa menahan waktu Anta bergegas memanggil suster. Dua orang suster datang dan langsung meraih tubuh Tante Dewi untuk dibawa ke ruang instalasi gawat darurat.
Dita dan Anta saling berpandangan, entah kenapa perasaan mereka mulai kalut dan galau. Ada kesedihan yang langsung menghinggapi mereka kala menunggu dua orang tersayang yang berjuang di dalam ruangan itu.
"Aku mohon, bertahanlah Yanda," lirih Dita.
"Aku mohon kamu harus kuat ya, Dew, kamu pasti kuat," lirih Doni yang berdiri di samping Dita.
"Yaa Allah, semoga Yanda dan Tante Dewi nggak kenapa-kenapa, amin." Anta mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan setelah mengucapkan doa.
Arya juga mengikuti gadis itu berdoa. Ponsel pemuda itu lalu berbunyi. Tasya mengubunginya kala itu. Arya langsung menceritakan semua yang terjadi malam itu.
Ponsel Anta juga berbunyi, Arya langsung melirik ke layarnya. Ternyata Mike yang berada di kantor polisi bersama ibunya menghubungi Anta kala itu.
"Tuker, Nta, aku yang ngomong sama dia, kamu ngomong sama Bunda Tasya!" titah Arya menunjukkan rasa cemburu yang seperti biasa.
*****
To be continue...