
Jangan lupa di Vote ya Kakak, terima kasih sebelumnya, dan Happy Reading...
****
Saat Anta memasuki tenda kempingnya, terdengar sayup-sayup suara gamelan yang berasal dari kejauhan. Anta mencoba menghampiri arah suara tersebut. Saat dia mengarah ke bukit kecil di bumi perkemahan itu, gadis itu melihat sosok Arya dan Iman yang sedang berdiri mengamati juga.
"Itu apaan, Ya, hantu apa manusia yang main wayang?" tanya Iman dengan suara pelan dan berbisik.
"Manusia kayaknya, mereka lagi latihan, tapi kok malam banget, ya?" gumam Arya.
"Heh, pada ngapain di sini!"
Seseorang menepuk bahu Iman dan Arya, lalu sontak saja keduanya berteriak bahkan mereka mengompol berbarengan saling ketakutannya.
"Ih, jorok! Anta gak suka lihatnya, kalian pada ngapain, sih, di sini?" tanya Anta.
Arya menutupi bagian celananya yang basah, lalu kemudian, Arya saling menatap bersamaan dengan Iman.
"Nih, gara-gara Iman, dia nyuruh gue ke sini gara-gara denger suara gamelan, paling juga orang denger musik wayang jam dua pagi gini," sahut Arya menunjuk Iman.
"Tapi bener kok, kalian juga pada denger kan ada suara gamelan dari arah sana," sahut Iman.
"Ya, habisnya Elo pikir dong, masa jam dua pagi gini ada wayang kulit," tukas Arya.
"Tapi kalian denger, kan, kalau ada suara gamelan?" tanya Iman lagi menegaskan.
"Bentar tunggu sini, Anta mau lihat," ucap Anta.
Kemudian Anta mendekat dan mengamati ke arah yang tadi ditunjuk Arya.
"Ssttt jangan berisik!" ucap Anta berbisik dengan meletakkan telunjuknya pada bibir mungilnya itu.
Arya dan Iman menurut, lalu betapa terkejutnya Anta kala melihat ada seorang dalang yang sedang memainkan wayang kulit dan dilihat oleh penonton yang terdiri dari beberapa hantu yang sudah tidak mempunyai kulit tubuh lagi.
"Astagfirullah serem banget sih itu hantunya nggak pada punya kulit gitu, ih..." gumam Anta.
Rumah kayu yang terlihat di bawah bukit dari balik semak-semak dan pepohonan tempat Anta mengintip itu terlihat seorang dalang sedang bermain wayang kulit. Di belakang dalang itu terdapat enam hantu yang menatap ke arah dalang tersebut. Akan tetapi para hantu itu tak mempunyai kulit. Terlihat daging penuh darah dan benang - benang saraf yang terlihat mengerikan seperti patung yang digunakan untuk praktek biologi di sekolah.
"Masa sih, Nta?" tanya Arya mencolek bahu Anta.
"Lihat deh, Ya, kalau kamu gak percaya!"
"Gak mau ah, entar pada nengok sini lagi hantunya, balik aja lah gue ganti celana. Ayo, Man, ikut gue!" ajak Arya menarik tangan Iman untuk kembali ke tenda.
Arya sempat menabrak pocong Uli dan ditertawakan karena mengompol.
"Woi, manusia! Kalau jalan tuh yang bener, masih punya mata, kan? Dipake tuh mata buat fokus liat jalan!" seru Pocong Uli lalu melompat menjauhi Arya.
"Dasar pocong, bikin tambah sial aja, luh!" ucap Arya mendengus kesal.
"Elo, ngomong sama siapa, Ya?" tanya Iman.
"Sama hantu bungkus, udah jelek dia item lagi, ih jangan lihat deh, entar elo nyesel," celetuk Arya tapi dia ketakutan juga dengan melangkah cepat karena takut pocong Uli mendengar ucapannya barusan.
Iman menoleh ke arah yang dilihat Arya tadi, tapi sayangnya ia tak bisa melihat penampakan apapun di sana. Padahal ia masih ingin sekali melihat penampakan hantu tersebut.
"Itu beneran wayang hantu, ya?" gumam Anta menanyakan pada Silla.
"Mereka sih hantu, tapi kelihatannya Pak Dalang itu manusia, deh," sahut Silla.
"Sepertinya hantu itu... apa aku salah terus, ya?"
"Salah terka gimana?"
"Ya takut salah aja, mungkin gak sih kalau dalang itu menggunakan kulit mereka buat jadi wayang?" tanya Silla yang masih mengamati dengan saksama.
"Astagfirullah tega banget tuh dalang, tapi coba kita tanya sama Om Buto Item, kali aja dia tau mengenai keberadaan dalang tersebut," ucap Anta.
"Kamu tidur aja, Nta, kan jam empat harus sudah bangun nanti, kalau kamu ngantuk kecapean nanti sakit," ucap Silla.
"Ih, Tante Silla baik banget, deh, perhatian sama Anta, tapi Anta kepo penasaran pengen tahu," ucap Anta.
"Aku aja nanti yang cari tau sama Uli buat ke sana sekarang kamu tidur dulu, ya," pinta Silla.
Anta akhirnya menyerah dan menganggukkan kepalanya. Ia menuruti perintah Silla untuk kembali ke dalam tenda dan beristirahat lagi.
"Duh, keibuan banget, sih, gue jadi tambah sayang sama elo, Silla," ucap Uli memuji Silla seraya menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
"Apaan, sih, lebay banget kamu! Tuh, ada tugas kita harus mengintai rumah itu, kita cari tau soal dalang itu, yuk!" ajak Silla mencoba menggapai sesuatu karena ingin menarik tangan Uli, tapi dia lupa kalau tangan pocong itu posisinya sedekap di balik kain kafan lusuh itu.
"Tangan kamu yang mana, sih? Kan, repot kalau nanti aku sampai salah pegang," ucap Silla.
"Gak apa-apa kok, Silla, mau salah pegang yang mana juga boleh apalagi yang bawah nih kaya belalai," ucap Uli menggoda Silla.
"Ngomong gitu sekali lagi ngegodain gue mulu entar gue gampar nih, gue tarik tuh iketan biar pindah ke kaki, mau?" ancam Silla.
"Uhhh... dah pandai ngomong gue elu, jadi makin suka, nih."
"Mau ikut, gak?"
"Iya, iya, mau, tungguin dong kan lama gue lompat-lompat dulu," ucap Uli.
"Capek deh, terbang aja woi, gak usah lompat!" seru Silla.
"Oh, iya, lupa gue hehehe," sahut Pocong Uli lalu menyusul Silla.
******
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!