Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Trio Tampan



Happy Reading...


******


Namun, saat Anta melangkah, gadis itu tak sengaja terantuk kaki meja dan hampir hilang keseimbangan, tetapi Mike dengan sigap menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh.


"Waduh, bakalan terjadi perang dunia ketiga ini mah," gumam Ria saat menatap Arya.


Arya langsung menarik Anta dan membawa ke belakang tubuhnya. Ia menghampiri dan menarik kerah kemeja Mike yang tingginya hampir sama dengannya.


"Arya, jangan norak kayak gitu!" cegah Anta.


"Dia harus aku kasih pelajaran biar nggak deketin kamu terus!"


"Gue nggak deketin Anta ya, gue cuma mau nolong. Lagian sifat posesif elo ini malah bikin diri elo punya hubungan toxic tau, nggak!" Mike menepis tangan Arya dari kerahnya.


"Ada apaan, sih?" Arga yang baru sampai di kelas 11 C untuk menghampiri Ria langsung terperanjat melihat adegan Arya dan Mike.


"Rebutan Anta," bisik Ria.


"Udah deh jangan kayak anak kecil! Mau elo jagain si Anta kayak apapun kalau ujung-ujungnya dia jodoh elo ya nggak usah takut, Ya!" Arga hadir di antara kedua pemuda itu untuk menengahi.


"Duh, harus diabadikan ini momen tiga cowok ganteng berdiri sejajar," gumam Rina yang berdiri di belakang Ria dan bersiap mengambil foto ketiga pemuda tampan itu.


"Yang tengah punya Ria, loh. Awas kalau niat mau ambil, nanti aku santet kau Rina!" ancam Ria menoleh ke arah Rina.


Ternyata bukan hanya gadis itu saja yang sedang mengambil gambar Arya, Arga dan Mike, beberapa gadis di kelas dan yang berada di luar kelas juga melakukan hal yang sama.


"Hadeh... dijadiin trio boyband laku keras kali ya album mereka, Nta," ucap Ria.


"Tau amat lah, Anta laper mau ke kantin keburu jam istirahat habis, nanti Anta nggak bisa nambah bakso Mang Ujang."


Anta menarik tangan Ria dan melangkah menuju ke kantin.


"Ini orang rese banget, Ga, masa baru sehari sekolah di sini aja udah gangguin si Anta, ya kan–" Arya menoleh ke arah Anta yang ternyata sudah menghilang.


"Cewek gue ke mana, Rin?" tanya Arya pada Rina.


"Ke kantin sama Ria," sahut gadis itu.


"Ah, gara-gara elo nih Mikey Mouse!" Arya menunjuk Mike seraya melangkah meninggalkan pemuda itu.


"Halah gue juga ditinggal si Ria, gara-gara elo juga, nih!" Arga ikut menunjuk ke arah Mike.


"Udah pada gila tuh dua orang," gumam Mike.


***


Di sekolah Raja.


"Robi mana, Nji, kok nggak bareng sama kamu?" tanya Raja kala melihat Anji keluar dari kelas sendirian tanpa Robi seperti biasanya.


"Si Robi nggak masuk," jawab Anji.


"Kenapa emangnya dia nggak masuk?"


"Lho, tadi kamu nggak denger pengumuman ya kalau mamanya Robi meninggal," ucap Anji.


"Apa? Mamanya Robi meninggal? Inalillahi waa innailaihi rajiun. Memangnya tadi ada pengumuman?" tanya Raja menoleh pada Aldi teman sekelasnya.


"Ada pas jam terakhir, tapi kamu pules," sahut Aldi.


"Raja Raja, masih aja suka tidur di kelas," gumam Anji.


"Aku mau ke rumahnya sekarang, yuk!" ajak Raja.


"Nggak bisa, tadi aku udah telepon babenya Robi, katanya masih di rumah sakit lagi urus jenazahnya. Paling sore dikuburnya."


"Ya udah kalau begitu, kita ketemu di rumah Robi nanti sore," ucap Raja.


Anak itu sudah melihat mobil Tasya yang menjemput dirinya di gerbang sekolah. Di dalam mobil itu sudah ada Ria, Anta, dan Arya.


"Kenapa mukanya kok sedih?" tanya Tasya ketika Raja masuk dan duduk di kursi depan di sampingnya.


"Kenapa sih aku punya kemampuan bisa lihat orang mau meninggal?" Raja sudah menitikkan air matanya.


"Siapa yang meninggal, Ja?" tanya Anta dari kursi belakang.


"Kak Anta ingat cerita aku tentang mamanya Robi? Nah, hari ini mamanya meninggal, Kak."


Secara bersamaan semua yang ada di mobil Tasya langsung mengucapkan kalimat tarji bersamaan.


"Kamu yang sabar ya, kamu yang kuat menerima takdir dari Allah yang seperti itu."


Tasya mengusap kepala Raja dengan lembut. Anta menyerahkan selembar tisu pada adik tersayangnya itu.


*****


To be continue...