
Jangan lupa bayar cerita ini dari poin kalian buat VOTE ya, terima kasih semuanya...
******
Setelah tindakan aborsi terhadap Lala dilakukan, ternyata gadis itu tak pernah kembali sadar. Gadis itu mengalami pendarahan hebat dan membuat nyawanya tak tertolong lagi. Sontak saja Ibu Desi menghubungi Heru yang telah pergi begitu saja pulang ke rumahnya.
"Ya udah kalau dia enggak selamat, emang lagi sial tuh anak, kubur aja di kebun singkong sama bayinya," ucap Heru memberi perintah pada Ibu Desi.
"Tapi kalau pihak keluarga dia nanti mencari dia bagaimana, Heru?" tanya Ibu Desi dengan nada panik.
"Nanti saya urus keluarganya, saya akan buat berita dia kabur sama pacarnya karena hamil, udah Ibu tenang aja, nanti saya bayar dua kali lipat dari biasanya," ucap Heru mematikan sambungan ponselnya.
Sejak itu Lala menjadi hantu penasaran yang bergentayangan di sekitar panti asuhan tersebut. Ia ingin menuntut balas pada Heru dan membuat pria itu bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan padanya.
***
"Kak Anta, ngapain di situ?" seruan Raja menyentak Arya dari penglihatannya tentang masa lalu Lala.
Hantu Lala telah menghilang saat Anta membuka kedua matanya.
"Tadi, tadi Kakak lihat—"
"Lho, katanya Raja kamu lagi cari Mey, sekarang mana anaknya?" tanya Tasya yang muncul dari belakang Raja.
"Astaga, iya si Mey, dia pingsan masuk sumur kosong, Tante," sahut Anta dengan nada panik.
"Waduh, kok bisa, panggil Andri sama Pak Ustad ayo kita tolong!" seru Tasya bergegas masuk ke dalam panti asuhan bersama Anta dan Raja.
***
Tak butuh waktu lama lagi, rombongan Anta dan bala bantuan lainnya sampai di sumur tua tersebut.
"Waduh, si Anta bawa Pak Ustad, kabur Tante Kiki bisa di doain kita nanti kepanasan, yuk!" ajak Arya yang mulai panik ketakutan melihat rombongan Anta dari kejauhan.
"Yuk, bawa aku ke manapun kau mau, aku rela, kok," sahut Kiki.
"Idih, gue geli!"
Arya langsung bersembunyi menjauh dari area tersebut bersama hantu Kiki.
Andri berhasil membawa Mey naik ke permukaan, gadis itu masih tak sadarkan diri saat dibopong menuju panti asuhan.
"Kenapa sih kok bisa-bisanya dia masuk sumur?" tanya Dewi dengan nada panik dan penuh keingintahuan.
"Anta juga enggak tau, dia tiba-tiba lari ke kebun singkong, terus kata Arya dia mau bunuh diri masuk sumur, karena enggak ada airnya dia kepentok terus pingsan," jawab Anta.
"Bunuh diri? Masa sih, yang bener kamu, Nta?" tanya Tasya.
"Ya enggak tau juga tadi kan Anta bilang cuma katanya, coba tanya Mey kalau dia sadar nanti," sahut Anta.
"Apa jangan-jangan dia sedih banget ya karena mamanya meninggal terus papanya enggak mau terima dia?" gumam Dewi berbisik di samping Tasya.
"Sssttt, nanti kalau Mey denger gimana?" sahut Tasya.
Setelah diberi minyak angin dan minyak kayu putih untuk menyadarkan gadis itu, akhirnya Mey sadar juga. Ibu Desi membawakan gadis itu segelas teh hangat.
"Coba minum dulu ini," ucapnya menawarkan.
Anta membersihkan lengan dan kaki Mey dengan handuk yang dicelup ke air hangat. Luka di dahi gadis itu juga sudah dibersihkan oleh Tasya.
"Duh, pusing..." keluh Mey seraya menyentuh dahinya.
"Iyalah pusing, orang kepentok," celetuk Raja.
"Raja..."
Ketiga wanita kesayangan Raja sudah menatapnya dengan tatapan tajam bagai singa betina yang mau melahap mangsanya.
"Iya, maaf," ucap Raja lirih.
"Aku, aku tadi, enggak sengaja jatuh ke sana tadinya aku seperti melihat ada sesuatu di dalam sana," ucap Mey.
"Ada setannya kali terus ngejorokin Kakak Mey," sahut Raja.
"Ah, masa sih ada hantunya? Nanti anak-anak panti di sini pada ketakutan lho kalau denger ada hantu di sekitar sini," sahut Ibu Desi.
"Siapa tau, Bu, coba tanya Pak Ustad," ucap Raja mencoba menunjuk ke arah Pak Ustad tapi sudah tak ada karena pria itu udah pamit pulang sedari tadi.
"Eh, udah pulang, ya, aku lupa," ucap Raja.
"Ya udah gini aja, karena Mey sudah sadar, sebaiknya kita pulang, biar kita semua bisa istirahat, udah terlalu malam soalnya," ucap Dewi yang melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Semuanya menyetujui saran wanita itu. Mereka juga sudah merasa lelah dan mengantuk. Akhirnya Dewi dan yang lainnya pada Ibu Desi.
Anta, Mey, dan Raja masuk ke dalam mobil Tasya.
"Kamu kan tadi sama Mama Dewi, kok masuk sini?" tanya Anta.
"Oh iya lupa, hehehehe... Oh iya, Tante Tasya enggak denger suara bayi pada nangis?" tanya Raja.
"Udah deh, cuekin aja! Tante capek nih, ngantuk banget," sahut Tasya.
"Raja, ikut mobil Mama apa Tante?" seru Tante Dewi.
"Ikut Mama, di sini sempit," sahut Raja lalu melangkah menuju mobil Dewi dan Andri.
"Tadi juga ada hantu perempuan namanya Lala, " ucap Anta pada Tasya yang mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Udah deh, Nta, kamu tulis di buku harian kamu aja, nanti Tante baca," sahut Tasya tak sengaja keceplosan. Padahal ia selalu mengintip catatan buku harian Anta tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Apa? Jadi, selama ini Tante suka lihat buku catatan harian Anta?" seru Anta seraya bertolak pinggang.
"Hehehe... ya maaf, habis Tante penasaran kamu nulis apa aja, udah gitu enggak ada soal cowok lagi, emang belum pernah ngerasain jatuh cinta, ya?" tanya Tasya fokus menyetir.
"Enggak."
"Udah."
Anta dan Mey menyahut bersamaan dengan jawaban berbeda.
"Wah, Mey udah jatuh cinta, sama siapa?" tanya Tasya melirik Mey dari kaca spion.
"Sama Arya," ucap Mey menujuk ke samping tempat duduknya.
Gadis itu yakin kalau Arya duduk di sampingnya karena Anta duduk di kursi depan di samping Tasya.
"Mana Arya?" tanya Tasya karena ia tak melihat sosok Arya di samping Mey.
"Lho, memangnya enggak ada di samping aku?" tanya Mey lagi.
"Astaga, Arya ketinggalan di kebun ingkong," sahut Anta menepuk dahinya sendiri.
"Hahaha ada gitu pocong ketinggalan, udah lah entar juga nyamperin kita atau malah udah sampai apartement," ucap Tasya.
"Enggak bisa, Tante, dia hantu baru rada dongo gitu belum bisa melayang, menghilang, pokoknya masih oon, mana pengecut banget, masa hantu takut sama hantu," ucap Anta.
"Waduh gawat, bisa diamuk sama Pak Herdi nanti kalau kita ninggalin Arya," ucap Tasya yang baru menyadari soal ayahnya Arya.
Tasya langsung memutar balik arah mobilnya kembali ke panti asuhan tadi.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.