Anta's Diary

Anta's Diary
Menemani Dion di Mall



Happy Reading...


*****


"Yang bikin Mbak gerah tuh karena dari tadi hantu itu ngikutin mbak terus," ucap Anta.


"Nah lho, cinta mati si Johan sama elu tuh, Win," sahut Mita.


"Huhuhu... terus gimana dong, gimana caranya gue buat dia pergi dari gue?" tanya Wina dengan paniknya.


"Dia meninggalnya bunuh diri ya, Mbak?" tanya Anta.


"Iya tuh," sahut Mita.


"Jadi, ceritanya gini. Johan tuh cinta banget sama aku, dia mau ngelamar aku, tapi aku enggak cinta sama dia. Nah, pas dia lamaran ke rumahku kan aku tolak, eh aku denger kabar kalau dia bunuh diri. Terus kenapa dia ngikutin aku terus, emang aku salah?" tanya Wina sambil menangis.


"Coba ya Anta tanya sama Mas yang di samping Mbak," ucap Anta.


Ia lalu mengibaskan tangannya di hadapan wajah hantu pria itu. Hantu itu masih saja menoleh ke arah Wina.


"Mas, namanya Johan ya? Kenapa ngikutin Mbak ini terus?" tanya Anta.


Hantu itu tak menjawab, ia hanya memandangi wanita yang dicintainya itu.


"Kayaknya bucin banget sama Mbak, dari tadi dipandangin mulu," ucap Anta menahan tawanya.


"Kalau yang mandang saya cakep kayak cowok itu mah saya rela banget dibucinin, lah ini yang bucin saya hantu," ucap Wina seraya menunjuk Dion.


"Lho kok jadi saya, sih," sahut Dion.


"Mas, woi! Kenapa ngikutin Mbak Wina?" tanya Anta lagi.


"Saya mau dicium sama dia," jawab hantu itu.


"Buahahaha, mesum banget itu hantu," ucap Dion.


"Kenapa sih?" tanya Wina.


"Mbak mau lihat lagi hantu tadi enggak?" tanya Anta.


"Enggak mau, enggak mau, ogah banget!" sahut Wina.


"Hmmm... gini deh, kata Mas Johan dia minta di cium sama Mbak," ucap Anta.


"Apa? Waktu jadi manusia aja dia gue tolak masa pas jadi hantu dia tetep mau cium gue, ogah!" sahut Wina.


"Win, turutin aja, daripada si Johan ngikutin elo terus, hiyyy serem banget lho!" sahut Mita.


"Gue enggak mau, elo aja yang gantiin gue situ!"


"Duh, kok gue? Ogah banget! Elo tanggung resikonya situ!" sahut Mita.


"Lagian rese banget sih, ngapain juga dia bunuh diri, cemen banget pemikirannya, huhuhu...!" sahut Wina.


"Mas, enggak ada permintaan lain apa? Masa mintanya kayak gitu sih?" tanya Anta.


Hantu pria itu menggelengkan kepalanya.


"Dih, parah banget tuh hantu," ucap Dion.


"Masih enggak mau, Mbak. Dia tetep minta kayak tadi," ucap Anta.


"Haduh, ya udah deh, nih pipi gue aja yang elo cium!" ucap Wina seraya menyodorkan pipinya dengan wajah kesal.


Sosok hantu itu lalu mencium pipi Wina dan tersenyum. Ia lalu pergi menghilang dan melambaikan tangannya seraya memberikan flying kiss pada Wina.


"Udah pergi Mbak hantunya," ucap Anta.


Wina yang masih memejamkan mata karena ketakutan dicium oleh hantu itu akhirnya membuka matanya. Ia lalu mengusap pipi yang bekas diberi kecupan tadi dengan tisu basah sambil menangis.


"Makanya lain kali jangan suka tebar pesona, giliran ketemu cowok bucin tapi elonya enggak suka aja entar begini lagi," ucap Mita berusaha menenangkan Wina.


"Udah deh kalau kayak gini, gue minta dikawinin sama pak ustaz deket rumah aja," sahut Wina.


"Mbak, belanjaan saya mana?" tanya Dion.


"Oh iya, sebentar saya siapkan."


***


Setelah Anta dan Dion keluar dari butik, ia memutuskan untuk menyantap makan siang di restoran cepat saji. Pemuda itu masih saja tertawa.


"Kenapa sih, Kak?" tanya Anta.


"Lucu aja sama hantu tadi, masa dia penasaran cuma gara-gara bucin pengen cium si Mbak tadi, kocak banget kan hahaha..."


"Anta mau makan ayam goreng sama kentang, sama lemon tea, sama nasi yang organik ya, Kak," pinta Anta.


"Oke, tunggu di sini ya!"


Dion segera menuju antrean di depan meja pemesanan. Sementara Anta duduk di salah satu kursi pengunjung restoran cepat saji itu.


"Hai, Nta!" sapa pocong wanita yang suka bergentayangan dalam mall itu.


"Hai, Kak Pocong, kayaknya punya pacar baru nih udah move on," sahut Anta.


"Iya dong, aku harus berpikir ke depan, jangan inget hubungan yang udah lama kelar itu," sahutnya.


"Cowok itu pacar kamu? Ih, cakep tau gemesin," tutur pocong itu.


"Bukan kok, kita cuma temenan," sahut Anta.


"Kayaknya sih dia enggak anggap managemen deh, tapi lebih dari teman. Ketauan lho dari sorot matanya," ucap hantu itu.


Fani dan Lisna mengamati Anta dari kejauhan.


"Gue bakal kerjain nih, gue mau siram si Anta itu pakai minuman ini," ucap Fani yang bersiap menumpahkan minuman bubble tea di tangannya.


Gadis itu melangkah mendekati Anta, ia akan berpura-pura terantuk kaki meja, tapi hantu pocong itu tau dan mendorong Fani kursi di dekat gadis itu sampai gadis itu jatuh dan menumpahkan semua minuman di dalam gelas karton itu ke lantai. Semua mata menatap ke arah Fani dan menahan tawa. Ada juga yang tertawa.


"Kak Tania ngapain?" tanya Anta.


"Elo berenang, Fan, di situ?"


Dion meletakkan makanan yang ada di baki tangannya di atas meja seraya menegur Fani.


"Ih, Dion bukannya tolongin gue!" keluh Fani.


"Elo bisa bangun sendiri kan? Ya udah bangun sendiri!" seru Dion.


Lisna menghampiri Fani lalu membantunya untuk bangkit. Mereka melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan pakaian Fani.


"Kak Pocong ngapain sih gituin Kak Fani?" bisik Anta.


"Dia tuh mau nyiram kamu tau enggak, udah dari jauh bisik-bisik enggak jelas sama temennya, maka dari itu, aku buat dia kena batunya," sahut hantu itu.


"Oh begitu, sukurin deh!" sahut Anta.


"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Dion.


"Mau Anta kasih lihat, enggak?"


"Enggak usah deh kalau yang dikasih lihat yang begituan kayak tadi. Makasih banyak enggak usah!" sahut Dion seraya mengunyah ayam goreng di tangannya.


***


Arya berada dalam busway, ia berniat menyusul Anta berdasarkan gps yang Anta bagikan. Hanya saja saat itu ponsel milik Anta mati dan membuat Arya kehilangan arah. Posisi peta berhenti di suatu tempat.


"Masa Anta ada di sini sih?" gumam Arya setelah turun dari busway dan malah berada di depan halaman sebuah galeri yang menjajakan benda-benda antik.


"Mau cari apa, Dek?" tanya seorang pria berkacamata dan memiliki kumis pada Arya.


"Saya mau cari temen saya, Pak," jawab Arya.


"Teman kamu?"


"Iya, saya tadi ngikutin gps dia malah sampai sini," sahut Arya.


"Oh, kalau begitu masuk dulu aja, siapa tau ketemu temennya di dalam," ucap pria itu.


Arya melihat beberapa pengunjung yang sedang mengamati dalam galeri tersebut.


"Hmmm... mungkin kali ya si Anta ada di dalam, " ucapnya.


Tanpa curiga sama sekali, Arya masuk ke dalam galeri tersebut dan melihat-melihat bersama pengunjung yang lain.


Pria tadi menghampiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan kebaya dengan bawahan batik.


"Bilang sama Nyonya Karina, kita kedatangan persembahan yang cocok untuknya," ucap pria itu.


"Baik, Pak Mardi."


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Kalau masih versi lama nanti enggak dihitung.


Selamat menjalankan ibadah puasa.