
Happy Reading
*****
Tiba-tiba, perasaan Anta berubah
kalut. Ia merasa gelisah kala itu.
“Kamu kenapa?” tanya Dion.
“Perasaan Anta enggak enak,” ucap
gadis itu.
Ponsel Anta berbunyi, ternyata Raja yang menghubunginya.
"Ada apa, Ja?" tanya Anta.
"Kak, si Mey kabur dari rumah sakit dia lagi cari Kak Anta, dan barusan dia ke sini hampir membuat Mama dan Tante Tasya celaka," ucap Raja dari seberang sana.
"Apa? Mey kabur? Terus keadaan kalian gimana? Apa ada yang terluka?" tanya Anta.
Arya, Arya, Dion, Ria bahkan Pak Herdi mendekat saat gadis itu terdengar cemas.
"Papa bawa Mama ke rumah sakit karena belum sadarkan diri, Tante Tasya sama aku udah mendingan, kata Tante Kak Anta harus hati-hati. Kata Tante dia takut Mey menuju ke sana cari Kak Anta," ucap Raja.
"Ya udah kamu tenang aja, Kak Anta akan telepon polisi kalau dia datang ke sini," ucap Anta.
Ia langsung menceritakan kepada semuanya perihal kaburnya Mey.
"Enggak bisa dibiarin, ini bisa membahayakan semuanya. Saya akan hubungi polisi agar menjaga sekolah ini," ucap Herdi.
"Kok bisa ya Mey kabur?" gumam Arya.
"Nah, si Mey kan bucin banget sama Arya harusnya dia cari Arya, kenapa dia cari Anta?" tanya Ria.
"Jangan-jangan dia mau nyakitin Anta lagi, enggak bisa dibiarin ini," sahut Dion.
"Kita harus bergegas, kita lindungi dulu temen-temen kita di kelas, mereka pasti bakal heboh kalau liat Mey dan pasti akan nyamperin ke sini," sahut Arga.
"Ih, pujaanku gemes banget deh, masih perhatian banget sama temen-temen lainnya. Duh, enggak salah aku pilih kamu," ucap Ria.
"Apaan sih, enggak jelas banget si Ria!" sahut Dion.
"Biarin, Abang sirik aja!"
Namun, sebelum semua usaha yang akan mereka rencanakan dilakukan, ternyata rencana mereka sangat terlambat. Gadis yang ditakuti kedatangannya sudah hadir ke gerbang sekolah. Dengan kekuatan Nyi Ageng, dia menclok penjaga sekolah dan membuatnya terpental membentur dinding. Pria itu tak sadarkan diri kemudian.
"Pak Herdi, tolong selamatkan temen-temen lainnya, jangan kasih mereka keluar kelas, Anta takut ini bahaya!" pinta Anta berseru pada Herdi yang langsung mengiyakan dan berlari untuk menyelamatkan peserta persami kala itu.
Mey melangkah cepat sampai tiba di lapangan bagian tengah sekolah. Gadis itu berdiri seraya menatap ke arah Anta dengan tatapan tajam. Dia menantang semua yang ada di sana kala itu.
"Anta, sahabatku sayang, syukurlah kamu belum mati. Kemari Anta, peluk aku!" pinta Mey seraya merentangkan kedua tangannya.
Arya langsung menahan lengan Anta agar tak menghampiri Mey yang terlihat menyeramkan kala itu.
"Arya, kenapa kau tak pernah menganggap aku ada, bisakah kau berhenti menyukai dia dari pada aku?" bentak Mey menunjuk Anta.
"Enggak bisa, gue enggak bisa suka sama cewek jahat kayak elo. Kalau elo mau nyakitin Anta lagi, elo harus langkah mayat gue!" hardik Arya merentangkan tangan di hadapan Anta.
"Kamu juga harus melangkahi mayatku!" seru Arga yang kini merentangkan tangan di depan Arya.
"Elo juga harus melangkahi mayat gue!" seru Dion yang kini juga merentangkan kedua tangan di depan Arga.
"Aku juga ikut, Mey jahat! Aku enggak nyangka Mey sejahat ini, padahal aku tuh sayang banget sama kamu dan Anta, kita semua sayang sama Mey," ucap Ria.
Gadis itu memilih berdiri di belakang Dion.
"Kok, enggak di depan Abang?" tanya Dion.
"Enggak mau ah, Ria takut, di belakang Abang aja buat melindungi Arga, jadi Abang maju duluan," sahut Ria seraya meringis saat menoleh pada Arga yang berada di belakangnya.
"Hahaha... kamu bilang, semuanya sayang sama aku?" tanya Mey.
"Iya, Mey, Anta sayang sama kamu, kita semua sayang sama kamu," ucap Anta berseru dari barisan paling belakang.
"Gue enggak, Nta, biasa aja," sahut Arya menoleh ke arah Anta.
Mey tiba-tiba menangis seraya terduduk lemas di lantai.
"Huhuhu... Arya tak pernah sayang kepadaku, kalian bohong!" ucapnya.
"Mey, emang enggak ada cowok lain apa selain gue, misalnya si Arga gitu," sahut Arya.
"Heh, enggak boleh! Arga cuma punya Ria, titik!" sahut Ria menatap Arya dengan kesal sampai membuat Arga tersipu malu kala itu.
"Ya udah, tuh yang cakepan dikit si Dion, udah sama dia aja!" seru Arya.
"Kok gue, ogah amat, gue mah cuma mau sama Anta, titik!" sahut Dion.
"Huhuhu..." Mey makin menangis dengan kencang.
"Tuh kan, dia tuh cuma mau sama elo, dari SMP dia naksir elo, Ya!" sahut Arga.
"Kenapa jadi pada ribut sih!" seru Anta.
Gadis itu lalu mencoba menghampiri Mey yang sedang menangis.
"Anta, jangan gila deh, cukup dia aja yang gila, elo jangan!" ucap Arya.
"Sssttt... diem dulu, Anta yakin masih ada kebaikan di hati Mey, dia harus bisa melawan diri lepas dari sosok gaib di dalam tubuhnya itu," ucap Anta.
Gadis itu berjongkok dan meraih tangan Mey yang masih menangis.
"Apa cuma Arya yang selalu ada di pikiran kamu? Kamu lupa sama persahabatan kita, kamu lupa masih punya mama kamu yang sayang sama kamu? Kamu masih punya kita semua lho sebagai sahabat kamu," ucap Anta.
"Emang aku enggak pantas bahagia, Nta?" tanya Mey tatapan gadis itu sudah berubah seperti Mey yang dulu.
"Pantas Mey, semua orang berhak bahagia, tapi enggak juga dengan cara memaksakan kebahagiaan orang lain, Anta lebih baik kehilangan pacar daripada kehilangan sahabat lho," ucap gadis itu.
"Tapi kamu kan enggak punya pacar," sahut Mey.
"Hehehe... Mey kalau ngomong suka bener," celetuk Ria yang langsung diserang dengan tatapan tajam oleh Dion, Arya dan Arga saat itu juga.
"Anta enggak butuh pacar, perjalanan Anta masih jauh menuju wanita dewasa yang lebih baik. Dan Anta pastikan kalau Anta akan butuh sahabat, apalagi sahabat seperti Mey," ucap Anta.
Anta dan Mey lalu berpelukan. Keduanya saling menangis kala saling memeluk erat. Akan tetapi, sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Mey makin memeluk gadis itu dengan erat sampai Anta menjerit kesakitan.
"Aku akan menggunakanmu untuk menjadi media terbaruku," suara Mey berubah menjadi berat dan berniat mencelakai Anta.
Dion dan lainnya langsung berlari dan berusaha memisahkan Mey dan Anta tetapi tak bisa. Mereka semua terpental jauh karena kekuatan dari Nyi Ageng. Pancaran sinar hijau yang keluar dari telapak tangan sebelah kanan Mey kala memeluk Anta dengan erat itu menghunjani Arya dan yang lainnya.
"Duh, gue gatel banget nih," ucap Arya.
"Gue juga gatel," sahut Arga.
Begitu juga dengan Dion dan Ria yang saling bertatapan. Namun, sesuatu yang mengerikan terjadi. Mereka menggaruk lebih keras sampai permukaan kulit keempat sahabat Anta itu lecet dan mengelupas.
"Ja-jangan, jangan digaruk lagi, bertahanlah," ucap Anta yang mencoba melepaskan diri dari pelukan Nyi Ageng.
Nyi Ageng membawa wajah Anta menatap ke arahnya. Ia akan berpindah dari tubuh Mey ke tubuh Anta kala itu melalui rongga mulut dan hidung yang terbuka.
Anta mencoba bertahan tetapi Nyi Ageng sangat kuat. Mulut gadis itu itu sudah terbuka lebar meskipun ia berusaha menutupinya.
"Wahai Ratu Kencana Ungu, aku akan memiliki tubuh keturunanmu ini sebelum kau bisa kembali ke tubuh gadis ini," lirih Nyi Ageng.
Tiba-tiba makhluk kerdil yang tadi berada di dalam ruang kepala sekolah datang. Makhluk itu seperti layaknya kera tapi lebih kecil dari kera pada umumnya karena banyak ditumbuhi rambut dan memiliki ekor. Wajahnya terlihat seperti seorang anak perempuan dengan tubuh layaknya kera.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni