
Happy Reading...
*****
Kalian mau buat prakarya apa, sih?" tanya Ibunya Robi.
"Mau buat bakiak, nanti dikumpulkan di sekolah buat lomba, terus mau buat rumah betawi juga dari stik es krim," jawab Siti.
"Oh... pantesan si Robi minta cariin kayu pohon duren dari kemarin," ucap wanita itu.
"Apaan, mana Babe belum ambilin kayunya katanya suruh ambil sendiri di kebon belakang," sahut Robi kesal.
"Ya udah kalau kalian mau ke kebon belakang ati-ati ye, terus cari yang kayu udah pada jatoh aja," ucap ibunya Robi.
"Maksud Ibu, eh Nyak itu ranting?" tanya Angel.
"Iye maksudnya itu, ya udah dah Nyak mau nyiapin ketan kuning dulu," ucapnya lalu masuk.
"Jadi, kita mau bikin model gimana, Ja?"
Siti langsung duduk di samping Raja yang langsung menghindar dengan menggeser bokongnya.
"Ini lagi mau digambar dulu mau kayak apa bentuknya," sahut Raja.
"Cari di internet kan ada contoh gambar dan cara pembuatannya," sahut Angel.
"Iya gitu, deh."
"Ke kebon yuk, jangan lupa nih pakai lotion anti nyamuk disuruh sama Nyak," ucap Robi.
Semuanya langsung memakai lotion nanti nyamuk itu dan kemudian, mereka melangkah menuju ke belakang rumah Robi. Hamparan kebun duren terpampang di depan para anak kecil itu.
"Wah, udah ada yang matang, Bi?" tanya Yogi.
"Belum sih kata Babe masih sebulan lagi, kayaknya," jawab Robi seraya memunguti ranting yang berjatuhan.
Raja terlihat memilih kayu yang sudah jatuh dan cukup besar untuk membuat bakiak. Siti selalu saja mengikuti anak itu sampai membuat Angel tertawa dan risih.
Kedua mata Anji menatap ke arah kubangan air yang biasa disebut empang itu. Airnya terlihat lebih jernih. Anak itu melihat banyak ikan kecil yang berenang di empang tersebut. Ia memiliki ide untuk menangkap ikan tersebut menggunakan botol bekas.
Anji melangkah menuju ke depan rumah Robi mencari botol bekas. Ia belah botol itu dengan pisau untuk dijadikan wajah ikan kecil tersebut. Anak itu memang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu karena dia tergolong dari keluarga mampu yang biasa tinggal di komplek elite dan bermain di mall besar.
Tanpa diketahui teman-temannya, ia kemudian memancing ikan kecil di empang tersebut. saat sedang asyik memancing, Anji tak sengaja menemukan sebuah topi warna hitam yang memiliki lambang tengkorak.
"Wuih, keren nih topi, punya siapa ya?" gumam anak itu.
Ia segera mengangkat topi tersebut dan mengibaskan air yang membasahi topi hitam itu.
"Bi, ini punya kamu bukan, apa punya ayah kamu?" tanya Anji seraya menunjukkan topi hitam itu.
"Aku enggak punya topi itu, mungkin punya orang yang suka nyari encu," jawab Robi.
"Encu itu apa?" tanya Angel yang mengerutkan dahi karena kata itu terdengar asing di telinganya.
Begitu juga dengan Raja dan lainnya. Mereka penasaran dengan kata "encu".
"Itu lho jentik nyamuk, mereka cari itu buat kasih makan ikan ******. Kadang juga mereka ke empang itu cari ikan kecil buat kasih makan arwana, atau kadang malah cari kecebong," jawab Robi menjelaskan.
"Hmmm... Aku bawa aja ya, nanti aku bersihin, misalkan ada yang nyari dan kehilangan nanti aku balikin," ucap Anji menuju belakang rumah Robi yang terdapat keran air.
Kemudian, mereka semua melanjutkan kegiatan membuat prakarya hari itu.
***
Malam itu tepat pukul tujuh malam, Anta bersiap dengan gaun yang baru saja dibelikan oleh Tasya. Gadis itu mengenakan wrap dress dengan bahan chiffon dengan panjang sampai selutut. Terlihat bagian atas gaun warna abu-abu tua itu berbentuk V neck dan double layer, sehingga akan membuat gadis itu tampak anggun saat memakainya.
Terlebih lagi di bagian atas yang merupakan layer dalamnya pun sangat cantik berhiaskan payet-payet indah. Di bagian perut, ada aksen kerutan yang makin membuat lekuk tubuh Anta lebih menonjol. Gaun itu juga mampu membuat gadis itu terlihat lebih ramping karena bahannya yang longgar.
"Wah, penampilan kamu di pesta nanti pasti akan sangat memukau!" seru Tasya.
"Anta malu, Tante..." sahut gadis itu.
"Ngapain sih malu, kamu tuh cantik banget, ya meski tetep cantikan Tante, hehehee..." sahut Tasya.
"Anta mending pakai baju pelayan aja bantuin Papa Andri," ucap Anta.
"Heh, kamu tuh tamu, lagian Andri juga enggak nyuruh kamu jadi pelayan, ada Raja sama Tante Dewi udah di sana bantuin, Tante juga mau ke sana juga bantuin," ucapnya.
"Kamu cari sepatu yang pas sana, Tante buka pintu dulu. Anta menganggukkan kepala mengiyakan.
Tasya membuka pintu dan melihat Arya sudah mengenakan kemeja warna biru laut dengan garis vertikal warna putih yang dimasukkan ke dalam celananya. Ikat pinggang berkepala kotak besar tampak membuatnya elegan. Pemuda itu juga mengenakan bawahan celana kulot hitam dan sepatu pantofel.
"Wuih keren banget, tapi itu sepatu siapa?" tanya Tasya.
"Sepatu ayah, hehehe..." jawabnya.
"Kenapa enggak pakai jas?"
"Enggak ah, ini juga kata ayah udah rapi," sahutnya.
"Anta siap...!" ucap Anta yang muncul di belakang Tasya.
"Itu siapa?" tanya Arya.
"Ini Anta lah, wuidih Arya keren banget, rambutnya juga di rapihin pakai gel ya?" tanya Anta.
Arya masih menatap tak percaya sampai mengucek kedua matanya berkali-kali.
"Tante Tasya, ini serius si cumi albino?" tanya Arya seraya menunjuk gadis itu.
Anta langsung menoyor dahi Arya dengan kesal.
"Duh, kalau kelakuannya begini, gue percaya dah ini Anta," ucap Arya.
"Anta cantik, kan, Ya?" tanya Tasya menggoda Arya.
"Biasa aja sih," jawab Arya berbohong padahal dalam hatinya ia sangat mengagumi penampilan Anta malam itu.
"Huh, mulutnya Arya kalau muji Anta pasti langsung gatel-gatel, udah ah Anta berangkat duluan ya, Tante," ucap Anta lalu pamit mencium punggung tangan Tasya.
Arya juga mengikuti gerakan Anta dan pamit. Akan tetapi, saat mereka hampir saja masuk lift, terdengar suara Tasya berseru.
"Anta...!"
Anta dan Arya menoleh bersamaan.
"Tante kenapa sih? Ada apa lagi?" tanya Anta.
"Tadi kan Tante suruh cari sepatu yang pas, terus kenapa pakai sepatu itu?"
Tasya menunjuk ke arah kaki Anta. Gadis itu mengenakan sepatu skecher warna abu-abu.
"Kata Tante suruh cari sepatu yang pas sama gaun ini, ya Anta pakai ini kan warnanya senada," ucap Anta.
Arya menertawai gadis itu karena baru sadar dengan sepatu yang dipakai Anta.
"Woi, liat sepatu gue, ini aja gue bela-belain pakai sepatu bokap gue biar rapi, nah elo malah pakai sepatu kayak mau ke mall," ucap Arya.
"Lha, terus Anta pakai sepatu yang mana?" tanya gadis itu.
"Hadeh... dasar ini anak, tunggu sini, Tante ambil sepatu heels Tante dulu yang muat sama kamu," ucap Tasya lalu berlari kecil ke dalam rumah.
"Harusnya mah biar aja sih, kan Anta nyaman pakai ini," ucap Anta.
"Ya enggak pantes, cumi... elo udah cantik kayak gitu masa sepatunya enggak sinkron," sahut Arya.
"Apa? Arya bilang Anta cantik?"
Gadis itu langsung menunjuk dirinya sendiri dengan tersenyum puas dan langsung membuat wajah Arya memerah.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni