
Happy Reading...
******
Martha datang ke gudang kosong tempat Raja dan Herdi diculik. Dua ajudannya itu disuruh mengikutinya ke sebuah sumur tua yang ada di belakang gudang kosong itu. Wanita itu memberikan makanan lezat dari restoran cepat saji pada anak buahnya tersebut.
"Makasih banyak ni, Bos, sering-sering aja begini," ucap si kepala botak.
"Oh, tentu saja, kalian bisa makan sepuasnya setiap hari, hahaha..." tawa wanita itu.
Wajah Martha terlihat menyeringai seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan dari dua anak buahnya itu. Ia duduk di sebuah kursi seraya membaca majalah mode yang baru saja ia beli.
"Bos, enggak makan?"
"Enggak, saya udah makan tadi," jawab Martha.
Setelah kedua pria itu menyantap makanan tersebut sampai habis, mereka merebahkan diri di sebuah kursi karena kekenyangan. Tak lama kemudian keduanya tertidur tak sadarkan diri.
"Bagus, dasar para pria jelek yang bodoh," gumam Martha.
Ia bangkit dari kursinya menuju ke sudut ruangan. Sebuah samurai tajam sudah ia siapkan di sana. Ia meraih senjata tajam itu dan membawa samurai itu ke samping sumur.
Martha menuju salah satu pria ajudannya. Ia menarik tubuh berat pria itu dengan susah payah, lalu dibaringkan di samping sumur.
"Hmmm... ku rasa mereka cukup untuk dijadikan persembahanku," ucap Martha.
Wanita itu menarik sarung samurai tajam tersebut. Ia mengarahkan pada leher si pria botak. Tak butuh waktu lama, kepala si ajudan sudah terpisah dari tubuhnya. Darah segar sampai menyembur ke wajah Martha.
Raja mendengar sesuatu dari luar tempat Martha sedang menghabisi kedua anak buahnya. Ia mengintip dari celah jendela yang sudah diberi penghalang kayu itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang sedang dilakukan wanita itu. Anak itu segera menghampiri pak Herdi yang sedang duduk sambil tertidur. Bahu bidang milik pria itu diguncang agar terbangun.
"Om, ayo bangun, cepetan!" seru Raja.
Pak Herdi menyeka kedua matanya dengan lengan kanan seraya menguap.
"Ada apa sih, Ja?" tanya Pak Herdi.
"Tuh, si Tante jahat habis misahin kepala orang," ucap Raja seraya menunjuk ke arah luar tadi.
"Maksud kamu?"
"Lihat sendiri deh, Om," ucap Raja.
Pak Herdi langsung bangkit dan berdiri. Ia melangkah mengikuti tarikan lengan milik Raja. Anak itu memerintahkan pria tersebut untuk mengintip. Benar-benar mencengangkan, wanita itu seperti iblis kejam tanpa ampun.
Pak Herdi melihat Martha sedang menenteng kedua kepala para anak buahnya sambil tersenyum. Wanita itu meletakkan dua kepala itu di atas tepi sumur. Dia lalu membaca mantra yang ia lantunkan dari bibirnya.
"Apa yang wanita itu sedang lakukan?" tanya Herdi dengan suara lirih.
"Serem kan, Om, apa kita bakal berakhir seperti itu?" tanya Raja.
"Tenang aja, Ja, enggak akan saya biarkan kalau wanita itu mau apa-apain kita," ucap Herdi dengan tegasnya.
***
"Ini cowok ngapain tidur begini?" tanya Anan.
"Oh, ini Dion, dia dimasuki sama Arya ketuker gotu, kalau roh dia bisa Anta panggil supaya dateng," ucap Anta.
"Jangan, Nta, ribet! Biar gue yang kendalikan tubuh dia," sahut Arya yang langsung memasuki tubuh Dion.
"Hmmm... gantian dia sih sama elo," ucap Anan menoyor dahi Arya yang sudah masuk ke dalam tubuh Dion.
"Cakep saya lah, Om, siwer matanya," gumam Arya.
"Elo ngomong apa tadi?"
Anan mencengkeram kerah kaos Arya.
"Enggak Om, enggak ngomong apa-apa, cuma ngedumel ini kaki saya siwer," sahut Arya ketakutan.
"Kaki elo siwer? Mata elo kali siwer!"
"Heh, buruan yuk, ke tempat Raja diculik!" ajak Tasya.
Akhirnya mereka semua memasuki mobil dan menuju ke alamat yang diberikan Martha. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Anta membahas para hantu yang tak utuh tubuhnya bersama Dita dan Anan.
Layaknya sebuah keluarga yang sedang berekreasi di kebun binatang. Hanya bedanya bukan para hewan yang mereka lihat, tunjuk, amati dan bahas, melainkan para hantu yang tubuhnya sudah tak lengkap. Arya dan Arga yang duduk di kursi belakang makin menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara hantu Desta memilih pindah di mobil Andri. Anan juga memerintahkan Sahid untuk berada di mobil tersebut agar jauh dari Dita. Padahal mengingat kondisi mereka yang bisa cepat sampai ke tempat Raja, harusnya mereka bisa menghilang dan segera pergi ke sana. Akan tetapi, Anta tak mau itu terjadi. Ia ingin lebih lama bersama kedua orang tuanya.
"Keluarga macam apa ini sih, masa demen banget ngelawak kalau lihat hantu, kalau keluarga normal mah ya takut sama hantu," bisik Arya di samping Arga.
"Elo juga salah mikir, elo liat doang Tante Dita sama Om Anan siapa sekarang, mereka raja sama ratu kencana ungu, bukan keluarga normal, makanya anaknya wajar kayak Anta sama Raja," sahut Arga dengan berbisik juga.
"Tapi elo normal bisa lihat hantu juga berati eli dari keluarga lebih nggak normal alias gila hahaha..."
"Geli sama takut itu beda, Onta!"
Arya menoyor kepala Arga dengan kesal. Mereka lanjut saling berbalas sampai mencengkeram rambut masing-masing.
"Heh, ini yang duduk di belakang mesra amat sih?"
Anan menoleh ke arah mereka, begitu juga dengan Dita dan Anta. Sementara Tasya mencoba melirik dari kaca spion seraya fokus menyetir.
"Siapa yang mesra, Om, idih najis banget, orang nyebelin kayak gini perlu diberi pelajaran," sahut Arya.
"Elo yang nyebelin!" sahut Arga.
"So sweet banget sih, gue demen nih liatnya," ucap Anan.
"Mirip siapa gitu kalau liat mereka kayak gini ya, Yanda?"
Dita buka suara seraya menahan tawa.
"Maksud Bunda?" tanya Anan.
"Kayak si tempe hangus sama...."
"Haisss beda ini mah, itu benar-benar bertarung ini mah mesra," sahut Anan.
"Pada ngomong apa, sih?" tanya Anta yang sedari tadi bergantian menengok ke Bunda dan Yanda-nya.
"Ini ngomongin dua orang ini," tunjuk Anan.
Arya dan Arga masih saling menjambak ala emak-emak di sinetron yang memperebutkan seekor ayam satu-satunya di tukang sayur.
"Heh!"
Seruan Anan membuat Arya dan Arga berhenti. Kedua anak muda itu menoleh pada ayahnya Anta.
"Kalian ngerebutin anak saya, ya?" tanya Anan langsung menuju intinya.
"Ih, Yanda ngomong apa, sih? Emangnya Anta barang apa direbutin!" protes Anta.
Dita tertawa mendengarnya, begitu juga dengan Tasya.
"Kayaknya sih iya," sahut Tasya dari kursi depan.
Arya dan Arga saling menatap satu sama lain. Wajah mereka terlihat bersemu dan tampak malu.
"Eh, sampe nih!" ucap Tasya.
Sepuluh menit berlalu, mereka akhirnya sampai di sebuah gudang kosong tempat Raja dan Herdi diculik. Arya dan Arga merasa bersyukur karena tak jadi menjawab pertanyaan Anan barusan.
"Kok berhenti di sini?" tanya Anan.
"Katanya si penculik cuma mau Andri dan Tante Dewi," jawab Tasya.
"Lah itu si Sahid mau ngapain turun?" tanya Anan.
Belum juga pertanyaan pria itu dijawab Tasya, Sahid sudah bergegas berlari menuju mobil mereka.
Sahid masuk ke mobil Tasya dan duduk di kursi samping wanita itu. Sementara mobil Andri masih melaju memasuki pekarangan gudang kosong itu.
"Ayo Bunda kita ikut ke dalam!" ajak Anan.
"Kalian semua di sini, ya, jangan ada yang turun dari mobil, karena aku ngerasain hawa yang sangat jahat di area sini dan sangat berbahaya," ucap Dita dengan wajah cemas.
"Tapi, Bunda..."
Anta berusaha menahan wanita itu pergi bahkan ia tetap ingin mengikuti kedua orang tuanya masuk.
"Jangan Anta, nanti Bunda kabari kalau kalian sudah boleh masuk dan aman," ujar Dita.
Ia menoleh pada Anan dan saling menganggukkan kepala. Mereka segera masuk menyusul mobil Andri.
******
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni