Anta's Diary

Anta's Diary
Tali Pocong



Happy Reading...


*****


Malam itu, Pak Herdi sedang berada di sebuah mini market untuk membeli stok mie instan yang saat itu habis. Dia bertemu Tasya yang sedang membeli pembalut.


"Duh, enak yang cooling apa yang sirih, ya?" gumam Tasya.


"Emang bedanya apa?" tanya Pak Herdi yang mendadak di belakang wanita itu tanpa disadari.


"Kalau yang cooling fresh itu rasanya adem berada dikipasin, tapi kalau yang sirih mengurangi gatel, enak yang mana, ya?"


Tasya langsung tersadar dan menoleh ke arah Pak Herdi yang tertawa.


"Ya ampun, sejak kapan Bapak di situ?"


Tasya menepuk bahu Pak Herdi.


"Dari tadi perhatiin kamu lagi bingung pilih itu," jawab pria itu yang masih terkekeh.


"Ah... Kan aku jadi malu."


"Ngapain malu, emang kamu pakai itu di depan saya, enggak kan?"


"Ih... nyebelin!"


Tasya meraih pembalut yang ia mau lalu memasukkan ke dalam keranjang.


"Mau makan mie ramen, enggak?" tanya Pak Herdi.


"Ummm... Ya udah," jawab wanita itu.


Keduanya memutuskan setelah selesai berbelanja untuk makan mie ramen dalam kemasan cup di depan mini market itu.


"Gimana kerjaan kamu?" tanya Pak Herdi.


Dia tau kalau Tasya sekarang sering ke restoran untuk membantu Andri dalam mengatur pembukuan keuangan di sana.


"Bagus, lancar kok, Pak Herdi sendiri gimana kerjanya?"


Tasya balik bertanya.


"Panggil saya Herdi aja enggak usah, Pak."


"Kebiasaan soalnya hehee..."


Tiba - tiba dari kejauhan Herdi melihat sosok pocong dengan kain kafan putih yang masih terlihat baru itu melompat di sekitar jalanan depan mini market tersebut.


"Itu pocong yang suka ada di apartemen kamu apa bukan, ya?" tanya Herdi seraya menutupi wajahnya dengan kemasan mie.


Tasya menoleh ke arah belakang. Ia perhatikan sosok pocong itu dengan saksama.


"Kayaknya bukan deh," ucap Tasya.


Kedua mata wanita itu akhirnya bertemu pandang dengan sosok pocong yang baru berkeliaran di wilayah itu.


"Duh, pake ngeliat ke sini lagi," ucap Tasya buru-buru menundukkan kepala.


Herdi juga mengikuti wanita itu menundukkan kepala. Namun, sayangnya pocong itu sudah melompat mendekat ke arah mereka.


"Tenang, Pak, eh Herdi, enggak usah liat, kita pura-pura nggak bisa lihat dia," bisik Tasya.


"Oke, paham," jawab Herdi dengan nada berbisik juga.


"Kayaknya mereka tadi lihat aku, deh," gumam pocong wanita berwajah merah itu.


Sosok itu melompat-lompat mengitari Herdi dan Tasya.


"Gimana rasanya, pedes enggak?"


Tasya berusaha mengalihkan suasana.


"Pedes, kamu mau nambah minum, enggak?" tanya Herdi.


"Enggak usah, cukup ini airnya," ucap Tasya.


"Halo, kalian bisa lihat saya, kan?" tanya pocong itu.


"Enggak."


Pak Herdi dan Tasya tak sadar menjawab bersamaan. Lalu, keduanya langsung mengusap wajah masing-masing menyesali perkataan barusan.


"Nah kan, kalian bisa lihat saya," ucap pocong itu menunjuk Herdi dan Tasya.


"Duh, keceplosan kita."


Tasya menghela napas berat lalu memberanikan diri menoleh pada pocong tersebut.


"Kamu siapa, mau apa, ngapain ganggu kita?" tanya Tasya


"Aku Bella, yang tinggal di rumah nomor 15 komplek belakang apartemen," jawabnya.


"Terus kamu mau apa ganggu kita?" tanya Pak Herdi masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.


"Gini, Mas, aku mau minta tolong, barusan kuburan aku ada yang gali, dia curi tali pocong aku," ucap Bella.


"Mas, mas, sembarangan aja kalau manggil, jangan panggil Mas!" ucap Herdi.


"Bentar, bentar, tali pocong kamu dicuri?" tanya Tasya.


"Iya, huhuhuhu... jadi aku gentayangan kayak gini," ucap Bella.


"Terus kamu mau apa dari kami?" tanya Tasya.


"Kan ada penjaga kuburan, nanti juga tau kalau kuburan kamu digali."


"Pencuri itu lihai, dia rapikan lagi kuburan saya, kan saya baru saja mati kemaren, jadi kuburannya masih tanah belum di ubin," jawabnya.


"Tapi, ini udah malam, besok aja, ya?" tanya Tasya.


"Enggak mau! Aku maunya sekarang!"


Pocong Bella mendekatkan wajahnya.


"Duh, merah banget itu muka, serem tau!"


"Ini gara-gara saya jadi korban skincare luar negeri yang taunya palsu dan abal-abal terus aku kena kanker kulit sampai meninggal, mana mahal banget belinya kayak harga asli tapi aku ketipu," keluh Bella.


"Ckckckc demi cantik yang belum tentu cantik, sampai bela-belain banget beli kosmetik," gumam Herdi.


"Hmmm... oke kita besok ke rumah kamu, jangan sekarang ya, keluarga kamu juga pasti udah tidur," ucap Tasya seraya melirik jam arloji di tangannya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh.


Akhirnya Bella menurut. Ia mengikuti Tasya dan Pak Herdi pulang ke apartemen kala itu. Sesekali keduanya menoleh ke arah pocong tersebut dan saling berpandangan. Meskipun keduanya masih merasa takut, tetapi mereka sudah mulai kuat dengan sosok penampakan.


"Kalian pacaran, ya?" tanya Bella.


Tasya dan Herdi menggeleng bersamaan.


"Oh, kirain pacaran, habisnya cocok."


Tasya dan Herdi kembali menatap satu sama lain dan tersenyum.


Keduanya memasuki lift, tetapi saat itu Herdi tak turun di lantai 10. Ia malah mengikuti Tasya sampai ke lantai apartemennya.


"Kok, enggak turun?" tanya Tasya.


"Saya antar kamu sampai pulang, terus balik lagi nanti," jawab Herdi.


"Uuhhhh manis banget, sih," ledek Bella.


Wajah Tasya langsung merona dan tersipu malu. Sesampai di depan pintu apartemen wanita itu, Herdi langsung pamit dan kembali masuk ke dalam lift.


"Kamu sini aja, ya, enggak usah masuk, besok baru saya ke rumah kamu kasih tau tentang pencurian tali pocong kamu itu," ucap Tasya.


"Oke."


Tasya lalu masuk ke dalam apartemen dan menceritakan perihal Pocong baru yang ia temui itu pada Anta.


Sementara itu, Silla yang sedang melintas menghentikan langkahnya dan menatap hantu Pocong Bella.


"Kamu siapa, anak baru, ya?" tanya Silla.


Pocong Uli mendadak hadir di belakang Silla.


"Eh, ada anak baru," ucap Uli.


Bella akhirnya berkenalan dengan Silla serta Uli. Ia lantas menceritakan tentang kisahnya sampai ia gentayangan seperti itu dan bertemu dengan Tasya.


Silla menatap dengan saksama.


"Muka kamu merah banget, kalau si Uli kan mukanya hitam karena gosong," ucap Silla menunjuk Uli.


"Biasa aja kali, enggak usah nunjuk juga!"


"Ini karena kosmetik palsu, aku sebel banget deh," jawab Bella.


"Hmmm makanya jangan mau ketipu beli yang palsu!"


"Aku beli mahal, kok, tapi ya bener ketipu," ucap Bella.


"Oke deh kalau gitu, aku mau pergi ke sekolah hantu dulu, ya," ucap Silla seraya pergi menghilang menuju sekolah hantu.


Pocong Uli bukannya menyusul, ia malah masih bertahan dan mencoba menggoda Bella.


"Kalau diliat - liat cakep juga ya elo," ucap Uli


"Ah bisa aja, kamu juga lumayan, ada ganteng - ganteng dikit gitu," sahut pocong Bella.


"Gimana kalau kita jalan - jalan, nanti sekalian aku kasih tau tempat - tempat bagus di sini, mau ikut?" tanya Uli.


"Oh, boleh banget, eh kenapa kamu bisa meninggal?" tanya si Bella sambil melompat bersamaan bersama Uli.


Kedua pocong itu akhirnya melompat bersama mengelilingi apartemen. Uli menunjukkan seluk beluk tempat kesukaan para hantu di gedung tersebut.


Mereka juga bertemu dengan hantu Susi dan Tomo yang masih asik berpacaran. Di hadapan mereka terlihat menu cicak dan telur cicaknya yang sedang disantap sebagai cemilan.


"Hai, ada anak baru nih!" tegur Susi.


Dia langsung menahan tangan Tomo agar tak usah berkenalan dengan Bella. Hantu perempuan itu takut kekasihnya kepincut dengan hantu baru itu.


"Tenang, Beb, aku selalu setia kok sama kamu," ucap Tomo.


"Halah, gembel! Udah jadi hantu aja masih playboy kaga jelas!" cibir Uli.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin "DERING"


Novel baru aku di Noveltoon ya...


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni