Anta's Diary

Anta's Diary
Datang Bulan



Sebelum membaca, jangan lupa Votenya. Bayar tulisan Vie pakai poin ya sayang-sayangnya Anta.


Terima kasih...


******


Sopir itu menghentikan laju mobil angkutan umum berwarna biru itu. Tiba-tiba ia menoleh ke arah Arga yang langsung terkejut memundurkan bokongnya sampai menabrak Arya.


"Aaaaaaaaa..!!!"


"Elo kenapa sih, lebay banget pakai nabrak gue?" pekik Arya.


"Sini duduk deket Kak Anta kalau mau lihat sopirnya kayak apa," ucap Raja menarik lengan Arya agar duduk di samping Anta.


"Apaan sih, lagian sopirnya kenapa tadi kan ada— lho sopirnya kemana?" tanya Arya.


Anta mencengkeram tangan kiri Arya yang langsung terdengar teriakan dari bibir laki - laki muda itu.


Sang sopir angkot yang duduk di kursi kemudi itu menoleh ke arah Anta, Arya, Arga dan Raja. Wajah sopir itu rusak mukanya penuh luka sayatan dan sisa-sisa pecahan kaca yang menempel di wajahnya. Ditambah lagi keningnya bocor mengeluarkan darah ke seluruh wajahnya. Terlihat juga bola mata bagian kirinya hilang sampai siapapun bisa melihat ada lubang besar hitam disebelah kiri bagian rongga mata sopir tadi.


Spontan saja Arya mundur dan jatuh ke lantai angkot. Apalagi saat sopir angkot itu berusaha naik dari kursinya. Ia merangkak perlahan untuk datang menghampiri Anta dan yang lainnya. Anta menggeser bokongnya mendekati Raja di sudut angkot. Sementara Arya yang sudah berasa di lantai menutupi wajahnya menggunakan tas ransel miliknya.


"Wuih keren mobil angkotnya jalan sendiri," celetuk Raja yang langsung diberi pukulan Anta di pahanya sampai terasa perih.


"Sakit, Kak Anta!" pekik Raja.


"Om, itu balik ke setir dulu, nanti kita menabrak lho," tunjuk Anta ke arah kemudi.


Sang sopir tadi malah tertawa menyeringai menatap Anta. Ia makin merangkak mendekat ke arah Anta sambil mengendus-endus hawa tubuh Anta. Gadis itu menarik tangan Raja agar bertukar tempat duduk.


"Gantiin Kak Anta, duduk sini!" pinta Anta.


"Gak mau ah, Raja di sini aja," ucap Raja.


Arga langsung memberanikan diri untuk melindungi Anta dengan berpindah tempat duduk.


"Kita baca ayat kursi aja, ya," ucap Arga.


Hantu tersebut perlahan mundur. Tiba-tiba laju mobil itu berhenti. Seorang kakek berkalung sorban berdiri di depan angkot tersebut.


"Jangan ganggu mereka, turunkan mereka!" hardiknya.


Tak ada jawaban dari si sopir.


"Mumpung berhenti angkotnya, ayo turun!" ucap Arya yang langsung turun dari angkot dan diikuti oleh lainnya.


"Eh bentar belum bayar," ucap Anta mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribuan.


Hantu sopir angkot itu menggeleng.


"Eh, enggak mau, Om?" tanya Anta.


Raja lalu menyerahkan beberapa lembar daun yang ia temukan di tanaman sisi jalan.


"Pakai ini bayarnya?" tanya Raja.


Hantu sopir angkot itu mengangguk lalu melajukan mobilnya menembus si kakek tadi lalu menghilang.


"Kakek gak apa-apa?" tanya Arga yang sempat panik melihat kakek tersebut ditabrak angkutan umum hantu tadi.


"Saya gak apa-apa, kalian bagaimana bisa sampai ke sini?" tanya si Kakek.


"Tadi kami habis dari rumah temen terus naik angkot itu," sahut Arya.


"Kalian gak boleh lama-lama ada di sini, ayo ikut Kakek!" ajak pria paruh baya itu.


Saat berjalan menyusuri jalan setapak mengikuti sang kakek, Arya melihat bercak noda darah di bagian belakang Anta.


"Rok kamu kenapa?" tanya Arya.


"Hah, aduh... ini kenapa bisa tembus sih," keluh Anta yang melihat ke arah rok belakangnya.


Arga dan Raja jadi ikut menyimak.


"Aku, ummm aku, duh gimana ya menjelaskannya, ini lho yang perempuan suka dibilang lagi dapet tiap bulan itu, yang di pelajaran IPA," sahut Anta.


"Oh, gue ngerti masa-masa perempuan siap bereproduksi dan punya anak ya kan, menstruasi ya bukan?"


"Iya, kata Ummi aku datang bulan namanya, yang tiap bulan perempuan itu suka berdarah, terus perutnya sakit, oh pantes aku liat Anta pegangan perutnya," ucap Arga.


"Iya dulu Mama aku juga gitu pernah nyuruh aku ke minimarket pas aku kecil cuma buat beli, itu apa namanya yang kaya popok bayi..."


"Pembalut, ada yang bersayap juga, buat siang buat malam juga ada tipenya katanya, itu pakenya gimana ya ad sayapnya hehhee..." potong Arga.


"WOI! ini kenapa kalian yang seru banget bahas aku lagi datang bulan?" Anta menoyor kepala Arga dan Arya bersamaan dengan kesal.


"Raja gak ngerti lho, Kak Anta mau didatengin sama bulan maksudnya? Mana bulannya?" celetuk Raja.


"Hahaha... bocah, bocah, masih kecil nanti kalau udah belajar juga paham," ucap Arya yang menertawai Raja bersama Arga.


"Arya, stop jangan ketawa lagi, liat tuh Anta!" Arga menyenggol siku Arya.


Di hadapan mereka seorang Anta sudah bertolak pinggang dengan kedua mata melotot menatap ke arah mereka. Arya langsung bersembunyi di belakang tubuh Arga.


"Ini sih bakalan lebih serem daripada lihat hantu," bisik Arya.


Seorang nenek mengenakan bawahan kain batik dan kebaya tempo dulu menepuk bahu Anta.


"Kyaaaaaaaa!!"


Teriakan Arga kompak dengan Arya terdengar bersahutan dengan Raja.


"Ya ampun Nenek, Anta kira foto model tempo dulu," ucap Anta.


"Ah kamu bisa aja. Kalian ditunggu sama Kakek di dalam rumah," ucapnya.


"Oh ya nama Nenek siapa?" tanya Anta.


"Nama saya Nenek Moyang," sahutnya.


"Namanya kayak lagu, nenek moyangku seorang pelaut, hehehe..." celetuk Raja.


"Kaga lucu, Ja!" seru Arya.


"Saya Anta, ini Raja, ini Arya, ini Arga," ucap Anta menunjukkan nama semuanya.


"Baiklah, kita masuk ke dalam!" ajak Nenek Moyang.


"Bentar, Nta. Kakinya gak napak..." bisik Arga.


"Waduh..."


*******


To be continue...


Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.


- Pocong Tampan


- With Ghost


- 9 Lives


- Kakakku Cinta Pertamaku


- Forced To Love


- Diculik Cinta


Vie Love You All...😘😘😘


Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE...!!!