
Happy Reading...
*****
Anan meletakkan Silla tak jauh dari pepohonan besar. Di sana ada bangsa genderuwo seperti Lee yang sedang menghisap cerutu.
"Gila, gaya banget luh untung nggak hisap gele, luh!" seru Anan seraya meletakkan Silla.
"Kalian siapa? Kenapa bisa ada di wilayah ini?" tanyanya.
"Nama gue Anan, gue titip Silla. Nanti kalau tenaga dia udah balik juga bisa bangun sendiri," ucap Anan.
"Loh, bukannya dia hantu? Kenapa bisa pingsan?" tanya makhluk besar dan menyeramkan itu.
"Kalah tempur tadi, gue titip dia ya, gue mau balik dulu lawan nenek lampir," ucap Anan lalu melangkah meninggalkan Silla bersama makhluk genderuwo itu.
***
Sosok Jamin menyerang Arga dan membuatnya terpukul. Arya berusaha menghadang. Namun, tubuh pria itu sangat kuat dan mampu melawan dua pemuda itu sekaligus.
"Duh, ini gimana si Nyi Ageng?" gumam Anta.
"Kenapa sayang ... apa kau siap menyerahkan dirimu ke padaku?" tanya Nyi Ageng yang datang mendekat.
"Idih, pede banget Anda. Tau gitu waktu kamu dalam botol, Anta bakar aja deh bukan sekedar di kocok!" keluh Anta.
Nyi Ageng makin mendekat. Iblis wanita itu mulai mencekik Anta. Ratu Sanca kembali dan menyerang dengan lilitan ekornya pada leher iblis itu. Namun, Nyi Ageng lebih kuat dan melempar ular itu sampai mengenai tubuh Anan. Pria itu jatuh terbaring di tanah dengan tubuh Ratu Sanca berada menutupi wajah dan dadanya.
"Astagfirullah! Mimpi apa gue ketiban ular begini?" keluh Anan.
"Ma-maafkan saya, kali ini saya tidak bisa lagi melawan Nyi Ageng," ucap Ratu Sanca.
"Yanda!" Raja mendekat dan mengangkat tubuh Ratu Sanca dan memindahkannya ke samping tubuh Anan.
"Kamu udah panggil polisi, Ja?" tanya Anan yang bangkit berdiri.
"Kak Ria sama Kak Mike yang lapor polisi buat bongkar makam para korban. Kak Anta mana?" tanya Raja.
"Le-lekas, lekas kalian tolong Anta!" pinta Ratu Sanca.
"Aku tak apa, aku akan tetap di sini, lekas tolong Anta!" pinta Ratu Sanca lagi.
Anan dan Raja saling bertatapan lalu menganggukkan kepala satu sama lain. Pria itu menarik ikat pinggang berkepala besi dari celana yang dia kenakan. Kedua mata Raja mencoba memutari sekitar sampai dia menemukan balok kayu yang biasa digunakan untuk kayu bakar. Raja meraihnya dan bersiap bersama sang ayah masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kita hajar nenek lampir itu!" seru Anan.
"Bukannya lawan kita Nyi Ageng? Kok nenek lampir, Yanda?" tanya Raja.
"Ya, mirip lah sama nenek lampir yang lawannya sembara itu," ucap Anan.
"Oh, nenek lampir yang di misteri gunung berapi yang ditonton Tante Dewi waktu itu? Iya sih mirip," sahut Raja.
"Bisakah kalian bergegas!" seru Ratu Sanca pada Anan dan Raja.
"Oh iya iya, kelamaan ngobrol di sini," ucap Anan lalu bersama Raja mantap melangkah menuju ke dalam rumah tersebut.
Sesampainya di dalam, Arya dan Arga tengah berkelahi melawan sosok pria dengan banyak kepribadian itu. Mereka langsung panik kala melihat Anta sudah dicekik oleh Nyi Ageng.
"Heh, Nenek Lampir! Lepaskan putriku!" seru Anan.
Nyi Ageng hampir saja menghisap aura tubuh dalam diri Anta. Namun, ketika dia mendengar seruan Anan, sosok itu langsung menoleh.
"Pergi dari sini jika ingin selamat!" ancam Nyi Ageng.
"Elo berhadapan dengan keluarga yang salah, elo harusnya sadar diri! Lawan gue sini!" tantang Anan.
"Iya, sini kalau berani. Hadapi Yanda!" Raja ikut beseru dari belakang Anan.
"Kirain bakalan ngomong, sini hadapi aku, ujung-ujungnya sini hadapi Yanda, hadeh ...." Anan menoleh ke arah Raja sekilas.
"Kan tuaan Yanda, jadi aku harus ngalah sama Yanda," lirih Raja seraya meringis.
*****
To be continue ...
Dear para readers tercinta, terima kasih atas dukungannya pada cerita Anta's Diary. Karya ini berhasil menjadi juara 2 lomba cerita horor di Noveltoon, yeayyyy alhamdulillah... Pokoknya lophe lophe sekebon sama kalian.