
Happy Reading.
*****
"Kamu udahan belum belanjanya?" tanya Tasya pada Dita.
"Belum, memangnya kenapa?"
"Aku mau antar kamu pulang, aku penasaran sama yang namanya Aiko, semoga aja bukan orang yang aku pikirin," ucap Tasya.
"Memangnya Aiko yang Tante pikirin siapa?" tanya Anta.
"Nanti Tante ceritain di mobil sambil nganter Dita pulang," ucap Tasya.
Setelah Dita selesai berbelanja sayuran dan bahan sembako lainnya, ia akhirnya menyetujui tawaran Tasya untuk mengantarnya pulang. Anta juga tak tega jika harus membiarkan Bundanya itu membawa banyak barang bawaan.
Selama perjalanan ke panti asuhan, Tasya menceritakan sosok Aiko yang ia kenal. Seorang wanita yang kemungkinan reinkarnasi dari ibunya Anan. Seorang wanita yang memiliki dua karakter dalam dirinya. Satunya memiliki karakter jahat, yang satu baik.
"Berarti, ada kemungkinan itu neneknya Anta?" tanya Anta.
"Bisa jadi, tapi kalian tetep waspada ya, terutama kamu Ta," ucap Tasya.
"Dia baik kok, aku enggak tega, kasian gitu pas ibu Ari bawa dia ke rumah katanya tersesat dan enggak punya uang karena kecolongan," sahut Dita.
"Hmm... Semoga aja ya dia benar-benar orang baik, dan semoga juga dia bukan Aiko yang aku kenal," ucap Tasya sambil fokus menyetir.
Sesampainya di panti asuhan, wanita bernama Aiko itu terlihat sedang bercanda dengan beberapa anal panti asuhan.
"Itu yang namanya Ibu Aiko," tunjuk Dita saat ke luar dari mobil Tasya.
"Hmmm... mukanya sama lagi, duh... kenapa enggak Doni aja sih reinkarnasi biar aku dapet jodoh lagi," gumam Tasya.
"Cantik ya, mirip banget sama Yanda," ucap Anta.
Mereka akhirnya berkenalan dan saling berbincang. Kemudian, Tasya dan Anta menantu Dita mempersiapkan makan malam untuk anak panti asuhan. Ibu Ari yang mulai tinggal di panti asuhan tak sengaja menjatuhkan piring sampai pecah.
"Duh, maafin Ibu ya," ucapnya.
Anta membantu membereskan pecahan piring tersebut.
"Hati-hati, Bu, nanti kalau berdarah gimana," ucap Anta.
"Ibu suka kaget, Non, kalau denger suara bayi nangis, hiyyy bikin merinding, padahal di sini enggak ada anak bayi," ucapnya.
"Ibu rumahnya di mana memangnya, kok mau kerja di sini?" tanya Anta mencoba mengalihkan pembicaraan soal bayi-bayi itu.
"Ibu rumahnya di kampung sebelah, tapi karena suami saya kawin lagi, saya enggak punya uang buat bayar kontrakan, ya udah saya ditawarin salah neng Dita buat tinggal di sini sama anak saya si Siti," ucapnya.
"Anak Ibu yang mana?" tanya Anta.
"Noh, yang pakai kaca mata itu," tunjuk Ibu Ari pada anaknya yang bernama Siti.
"Masih sekolah?" tanya Anta.
"Masih Neng, kelas empat SD di Sekolah Karya Bangsa."
"Lha, itu mah sama ama sekolah adiknya Anta," ucapnya.
Perbincangan keduanya usai dan mereka melangkah menuju beranda depan untuk mendengarkan kisah dari Ibu Aiko. Anta merebahkan bokongnya di samping Tasya.
Ternyata Ibu Aiko pergi ke Indonesia karena mencari anaknya yang hilang. Anak itu disembunyikan oleh sang suami. Sayangnya, saat dia baru saja tiba, ia malah ditipu oleh dua orang pria yang kelihatannya baik ternyata malah menipunya. Untungnya ia bertemu dengan Ibu Ari yang membawanya ke sini.
"Ibu bahasanya udah lancar, ya?" tanya Anta menimpali perbincangan saat mereka bersantap sore kala itu.
"Saya pernah tinggal di sini selama lima tahun, lalu menikah dengan suami saya," ucapnya.
"Nama anak ibu siapa?" tanya Dita.
"Namanya Manan," ucapnya.
Tasya langsung terbatuk sampai matanya merah dan tersedak. Nama yang disebutkan Aiko itu adalah saudara kembar Anan yang pernah diceritakan oleh Dita dulu.
"Kamu enggak apa, Sya?" tanya Dita.
"Keselek aku, maaf ya," jawab wanita itu.
Ia jadi berpikir keras dan mencoba mencari tau tentang Anan dari Nenek Darma. Ia merasa kalau anak yang hilang itu bisa juga Anan. Tasya dan Anta lalu pamit pulang setelah tak ada lagi yang harus dibicarakan.
"Anta ngerasa Ibu Aiko tadi baik deh, enggak kelihatan jahat," ucap Tasya saat berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
***
Anan berada di rumah langganannya bersama Nenek Darmi. Mereka baru saja berkabung karena anak yang dilahirkan baru satu bulan itu telah meninggal. Ternyata mereka berada di wilayah rumah Robi kawan dari Raja.
"Sudah Robiah, ikhlasin dedek bayinya, kalau kamu enggak ikhlas nanti dedek bayinya bakal sedih disana, dia itu kan nanti penolong kami buat masuk surga," ucap nenek Darma mencoba menenangkan Robiah, kakaknya Robi dengan mengusap punggungnya.
"Baru aja sebulan, Nek, saya gendong dia, hiks hiks."
Raja datang bersama Mama Dewi untuk berbela sungkawa. Mereka bertemu dengan Anan dan Nenek Darma.
"Halo, saya ibunya Raja, saya turut berduka cita atas apa yang menimpa keponakannya Robi," ucap Mama Dewi seraya memberikan uang dalam amplop cokelat pada ibunya Robi.
"Terima kasih, Bu, sudah repot-repot mau datang ke sini," ucap wanita itu seraya tersenyum hangat.
"Memangnya dedek bayi sakit apa?" tanya Mama Dewi.
"Semalam cucu saya mengalami suhu badan yang tinggi banget, mana nangis mulu sampai susah tidur, udah tiga hari ini padahal udah ke dokter. Kalau siang juga anteng, tau-tau cucu saya tambah parah keadaanya. Ubun-ubun cucu saya juha cekung banget, mana tubuhnya semakin kurus, hingga barusan nih akhirnya meninggal, huhuhu... hiks hiks..."
Kedua wanita ibu dan anak itu saling menangis berpelukan di depan Mama Dewi dan Nenek Darma.
"Harusnya kamu tuh enggak ninggalin anak kita sendirian, lagian udah gue bilang bawa ke rumah sakit!" seru Udin sang suami dari Robiah.
"Tapi pas di rumah sakit dokter bilang anak kita baik-baik aja enggak panas juga badannya," sanggah wanita itu.
"Lha itu buktinya pas di rumah sakit lagi, harusnya biarin aja minta dirawat tuh si Lili sama dokter," ucap Udin.
"Iya, maafin aku, maafin aku, Bang... kalau aja waktu bisa aku putar kembali, aku akan nurutin perintah Abang," sahut Robiah masih menangis dan terisak.
"Iyalah, sekarang belakangan baru nyesel, namanya penyesalan pasti di belakang, coba kalau di awal namanya pendaftaran!"
Udin menatap sang istri dengan kesal.
Raja dan Robi saling bertatapan dan menahan tawa entah kenapa ucapan Udin barusan malah terdengar lucu.
"Nah, aku bingung banget itu tau-tau tuh anak ketutupan selimut, masa selimutnya pindah sendiri," ucap Robiah mencoba menceritakan keganjilan pada kematian anaknya yang baru dikubur di belakang rumah itu.
"Terus elo pikir itu selimut ada setannya jalan sendiri?"
Robiah terdiam tak mampu menjawab, hanya isak tangis yang masih terdengar dari bibir wanita itu.
"Udah, Din, kasian Robiah, kalau elo omelin apalagi pake bahas - bahas yang kemaren, enggak akan balikin anak elo!" ucap Ibunya Robiah menenangkan sang mantu.
Sementara Nenek Darma masih berada di kamar Robiah, Anan memandang kebun belakang di rumah Robi. Ia sangat menyukai buah duren, dan aroma duren itu terasa menggiurkan. Sayangnya belum matang. Raja mengikuti pria itu ke belakang rumah.
Anan mendekati makam si bayi seraya menaburkan bunga. Ia tersentak saat melihat Raja sudah berdiri di sampingnya.
"Ada yang aneh ya sama empang itu, Yanda?" tegur Raja mengejutkan Anan.
"Eh, Ja, kamu kenal sama orang rumah ini?"
"Iya, si Robi temen aku sekolah. Kemarin pas aku kerja kelompok di sini, si Anji menemukan topi tengkorak di empang, dan taunya ada penunggunya, hantu itu buat beberapa temen sekolahku kerasukan masal," ucap Raja.
"Hmmm... Aku juga nangkap ada yang aneh sama tempat itu, di wilayah deket empang itu kayak ada sesuatu yang nyeremin," ucap Anan.
"Yanda, lihat itu!"
Raja menunjuk ke arah sesuatu yang muncul di balik pohon durian dan melayang bersembunyi.
"Kayak perempuan tapi kepalanya doang, itu perempuan apa hantu ya, Ja?" tanya Anan.
Ia tak sadar kalau Raja sudah masuk lebih dalam ke dalam kebun mengejar sosok itu.
"Raja! Ampun dah ini bocah demen banget ngejar hantu!"
Anan segera menyusul Raja ke dalam kebun durian itu.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni