
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
"Udah enggak usah takut ada Anta di sini, ada Tante Tasya juga tuh, terus juga ada Arya," ucap Anta.
"Arya, mana Arya?" Mey langsung melepas pelukan Anta dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Arya.
"Ada di mobil Tante Tasya, memangnya apa yang terjadi, Mey?" tanya Anta.
"Itu, ummm... pacar Mamaku dia mabuk dan bertengkar dengan Mama lalu ia mencoba membunuhku dan Mama. Semuanya terekam dalam cctv rumah yang sudah dibawa polisi."
Mey menjelaskan pada Anta dengan wajah yakin karena memang dia tak sadarkan diri dan tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Lalu kamu akan tinggal di mana, apa Papa kamu enggak datang jemput kamu?" tanya Anta.
"Aku tadi hubungi Papa aku dia ada di luar negeri sama istri barunya, tampaknya dia enggak mau terima aku, dia cuma kirim uang untuk pemakaman Mama dan uang jatah bulananku," ucap Mey.
Wajah gadis itu terlihat sedih, merasa terbuang dan tak diinginkan lagi oleh Ayahnya.
"Kamu tinggal aja sama aku," sahut Tasya yang sudah muncul dari kerumunan warga dan mendengar pembicaraan Mey dan Anta.
"Benarkah Tante, nanti aku bayar biaya bulanan ya seperti uang kos sama Tante," sahut Mey dengan wajah berbinar.
"Tenang aja, sih, gratis, yang penting kamu mau bantu-bantu bereskan rumah dan bebenah," ucap Tasya.
Wanita itu memeluk Mey dengan erat.
"Tante turut berduka cita, ya," ucap Tasya.
"Terima kasih Tante."
"Permisi, Ananda Meylani Chtistian Hadi, apa ada keluarga yang datang untuk mendampingi kamu ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan?" tanya salah seorang polisi wanita itu.
"Begini, Pak, Papa saya tidak bisa pulang, jadi..."
"Kami keluarganya, Pak, nama saya Tasya, saya sudah menganggap anak ini seperti keponakan saya sendiri," sahut Tasya.
"Iya, Anta juga udah anggap Mey seperti saudara kandung juga," sahut Anta.
Mey menoleh pada Tasya dan Anta sampai terpana mendengar penuturan kedua perempuan di hadapannya itu.
"Baiklah kalau begitu, mari ikut kami!" pinta polisi wanita itu.
Anta menemani Mey berada dalam mobil polisi, sementara Tasya mengikuti mobil polisi itu dengan mengendarai mobilnya. Arya datang dan duduk di samping Anta.
"Geser, sempit banget sih, kayaknya badan elo tambah gede, deh," tukas Arya.
"Ih... nyebelin dari tadi ngajak ribut mulu," ucap Anta menarik ikatan pocong di kepala Arya.
"Anta, kamu bicara sama siapa?" tanya Mey menoleh pada Anta.
"Oh iya, kamu mau ketemu Arya, kan?"
Mey mengangguk dengan yakin dan bertanya,
"apa itu Arya?"
"Iya, tapi jangan kaget ya, soalnya dia jelek banget," ucap Anta.
Arya langsung menoyor kepala belakang gadis itu sampai rambut Anta tersibak menutupi wajahnya jatuh ke depan.
"Ngomong tuh dijaga jangan main jeplak aja," ucap Arya.
"Emang jelek, sih!" Anta menoleh pada Arya.
"Udah, Nta, mana aku mau lihat Arya," pinta Mey sudah tak sabar.
"Oke, geser sini tukeran tempat duduk!"
Kini posisi Mey berada di samping Arya. Anta meraih tangan gadis itu dan memperlihatkan sosok yang dibungkus kain kafan itu pada sahabatnya.
"Nah, inilah bungkus permen," ucap Anta seraya tertawa.
Mey menoleh ke arah tubuh bagian bawah Arya yang terbungkus kain kafan. Mey paham jika memakai kain kafan seperti ini dengan ikatan berarti sosok Arya itu menjelma seperti hantu pocong. Perlahan kedua matanya beranjak naik ke bagian atas, lalu ia susuri lagi sampai ke wajah Arya.
"Aryaaaaaaaa!"
Mey langsung memeluk Arya, akan tetapi gadis itu tak dapat menyentuh sosok Arya. Dia malah menjatuhkan kepalanya membentur pintu mobil bagian dalam.
"Ada apa, ya?" tanya polisi wanita tadi yang duduk di kursi depan.
"Oh, saya pikir kenapa."
Polisi wanita itu lalu kembali menoleh ke arah depan.
Mey langsung menggenggam tangan Anta.
"Anta, kok aku enggak bisa lihat Arya lagi?" tanya Mey dengan berbisik.
"Karena aku belum mempersilahkan kamu ketemu dia, harus ada persetujuan batin Anta dulu dong," bisik Anta.
"Ya udah, perlihatkan aku lagi," pinta Mey.
"Emang kamu enggak takut, Mey, dia kan hantu udah jadi pocong lagi?" tanya Anta.
"Ya enggak takut, lah, lagian kan aku yang panggil dia ke dunia ini," sahut Mey tak sengaja mengakui kebenaran yang padahal ingin dia simpan.
"Hah, maksud kamu?" tanya Anta.
Arya juga langsung menyimak dengan saksama penuturan yang Mey ucapkan barusan.
"Ummm... maksud aku, ya mungkin aja karena aku selalu berdoa dan berharap Arya kembali jadi dia benar-benar kembali," ucap Mey buru-buru memberi alasan yang dusta tapi bisa diterima dan masuk akal.
"Oh, bisa jadi sih, kuat banget ya berarti doa kamu sampai bisa bawa Arya kembali hehehe...."
"Ya udah tolong perlihatkan Arya lagi," pinta Mey.
"Ini cewek nge-fans banget kali ya sama gue?" celetuk Arya.
"Dih, pede banget jadi pocong!" cibir Anta.
Gadis itu meraih tangan Mey kembali dan memperlihatkan sosok Arya. Gadis di samping Anta itu sangat bahagia melihat Arya. Meskipun Ibunya baru saja meninggal, tapi dia malah tak merasa sedih ketika sudah melihat Arya.
"Mey, udah ya, Anta mau ngupil nih, hidung Anta gatel, masa pegangan gini mulu," ucap Anta memelas seraya mencoba menggaruk hidungnya dengan bahu sebelah kanan yang ia dekatkan ke wajah.
"Iya, Mey, gue risih juga kalau elo tatap kayak gitu," sahut Arya.
Tapi aku maunya tetep bisa lihat kamu terus karena Ini yang aku inginkan, ini tujuan aku sampai melakukan ritual gaib demi kamu.
Mey masih melihat ke arah Arya dengan melayangkan senyum manis.
"Mey, udahan! Udah sampai tuh kita harus turun!" Anta melepas tangannya dari Mey dan sosok Arya langsung menghilang.
Wajah Mey tampak lesu saat menuruni mobil polisi untuk masuk ke dalam kantor polisi. Di dalam hatinya ia berusaha merencanakan sesuatu agar dapat melihat sosok Arya tanpa bantuan Anta. Bahkan gadis itu ingin sekali daoat menyentuh Arya.
"Si Mey aneh, ya, gue ngeri sama dia, rada-rada gimana gitu, terlalu terobsesi sama gue, mungkin gue ganteng banget kali, ya?" bisik Arya di samping Anta.
Gadis itu menoleh dan menatap tajam pada Arya.
"Berisik banget ih, sok cakep!"
Anta bersiap menarik ikatan pocong Arya tapi Tasya hadir di antaranya.
"Udah jangan pada berantem aja nanti pada saling suka repot lho," ledek Tasya.
"Idih, najis!"
Arya dan Anta berucap bersamaan.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta