
Happy Reading...
*****
Perlahan kemudian, Mike terbatuk-batuk dan tersadar dari pingsannya. Arya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu skets putih miliknya.
"Kok, hidung gue gatel ya, mana bau terasi gitu?" Mike mengerjap-ngerjapkan kedua matanya seraya menggosok-gosok ujung hidungnya dengan punggung tangan
"Kamu kenapa bisa pingsan gitu?" tanya Anta.
"Gue dengar suara Mikha, pas gue mau mendekat ke sana, ada bayangan yang nembus gue terus gue pingsan," aku Mike.
"Dari arah mana kata elo?" tanya Arga memastikan.
Mike bangkit dan mengajak semuanya ke sebuah tempat. Tempat yang dipenuhi dengan daun singkong, tetapi Arya melihat ada kayu seperti pintu yang terlihat.
"Kok, gue ngerasa itu pintu masuk, ya?"
"Gue juga ngerasa gitu, Ya," sahut Arga.
"Ah, elu mah ngikutin gue mulu!" cibir Arya.
Arga lantas merangkul bahu Arya dan menjitak kepala pemuda itu. Arya balas dengan memberikan telapak tangan miliknya yang dia tempel terlebih dahulu ke ketiak basahnya. Keduanya saling bergelut tanpa suara kemudian.
"So sweet banget ya mereka, seneng liatnya kalau akur," ucap Ria.
Anta membalas ucapan Ria dengan usapan kesal di wajahnya. Gadis itu lantas menarik telinga Arya dan Arga yang mengaduh tanpa suara. Kedua pemuda itu masih mengerti untuk tak membuat kegaduhan supaya tak ketahuan dengan Pak Aji.
"Akur dari mana?" tanya Mike yang menggaruk kepalanya kembali.
"Akur lah, aku sering lihat mereka begitu, seneng banget liatnya," ucap Ria.
"Gesrek nih otaknya gue rasa!" cibir Mike.
"Fokus! Berhenti sayang-sayangannya! Coba lihat pintu itu!" pinta Anta.
"Elu sih yang mulai duluan, sayang gue marah, kan!" keluh Arya.
"Elu juga yang duluan ngajak ribut," bisik Arga.
Anta kembali menarik ujung daun telinga kedua pemuda itu.
"Iya, ampun Anta sa—" Arga melihat Arya yang sudah menatapnya tajam.
"Sahabatku yang terbaik," ucap Arga buru-buru meluruskan agar Arya dan Ria tak marah.
Kedua pemuda itu lantas perlahan menggeser tumpukan daun singkong di atas pintu kayu menuju ruang bawah tanah. Tangisan beberapa gadis terdengar bersahutan.
"Itu suara Mikha," ucap Mike.
Pemuda itu langsung menuruni anak tangga menuju sebuah ruangan di bawah tanah. Ruangan yang kerap digunakan untuk menghabisi korban oleh sosok Aji, Ari dan Jamin.
***
Anan dan Raja sampai di depan rumah Pak Aji. Namun, mereka tak menemukan mobil milik Arya dan Arga karena mereka menyembunyikan mobil dan terparkir cukup jauh dari halaman rumah tersebut.
"Sepi nggak ada siapa-siapa, kamu beneran nih tau rumahnya di sini?" tanya Anan pada Raja.
"Tadi kan kita nanya salah satu warga katanya rumah Pak Aji di sini, rumah yang deket sama rumahnya tante bau singkong," jawab Raja.
"Iya juga, sih, tapi sepi ya? Anak-anak pada ake mana coba?" gumam Anan.
"Kita turun aja Yanda, jangan-jangan mereka semua disekap sama Pak Aji terus diikat di kursi satu-satu, terus diancam mau dibunuh. Atau salah satunya udah ada yang disiksa, yang lainnya pada ngeliatin, atau—"
Anan langsung menoyor kepala Raja menghentikan ocehannya.
"Kebanyakan nonton film psycopath kayak gitu tuh kamu, makanya Yanda nggak suka kamu nonton film kayak gitu, belum cukup umur juga," tegas Anan.
"Habisnya seru tau, Yanda," jawab Raja.
"Udah ayo turun, kita samperin rumahnya!" ajak Anan.
"Ngucap salam nggak, Yanda?" tanya Raja.
"Sekalian bawa buah apa oleh-oleh, ketok pintunya juga, kita bertamu sekalian!" Anan mulai sewot menatap Raja dengan tajam.
"Bercanda, Yanda ...."
*****
To be continue...