Anta's Diary

Anta's Diary
Peluk



Happy Reading...


*****


Eh, enggak boleh ngintip, sembarangan aja!" sahut Anta.


Ia menggeser kepala hantu perempuan tadi dengan ujung sepatunya. Kepala itu menggelinding keluar akhirnya. Gadis itu lalu keluar dan baru saja sampai di depan cermin lalu ia terjatuh lantaran tersandung sesuatu. Setelah mencari tahu apa yang membuatnya tersandung, Anta terperanjat saat melihat yang membuatnya tersandung adalah tubuh seorang wanita yang tidak memiliki kaki dan tangan.


Ngerinya lagi hantu wanita tersebut menatap Anta dengan tatapan kosong tanpa ekspresi apa pun. Bola matanya hanya mengikuti kemana gerakan tubuh gadis itu pergi. Hantu kepala terpenggal tadi menggelinding menghampiri gadis itu.


"Kau tak takut pada kami?" tanya hantu kepala itu.


"Enggak, itu ibunya diem aja begitu enggak pindah-pindah?" tanya Anta.


"Mau pindah gimana, tangan sama kaki aja enggak punya," sahut si kepala.


"Lha, kamu bisa pindah menggelinding gitu, kenapa ibu itu enggak?" tanya Anta lagi.


Hantu wanita tadi hanya tersenyum menyeringai menatap Anta.


"Dia mah enggak bisa mikir, kan dia rada-rada stress, makanya gampang dibodohi sama dokter bedah. Dia dijadikan bahan percobaan akhirnya mati deh," ucapnya.


Hantu wanita tadi tertawa lagi cekikikan.


"Lha, kalau kamu mati kenapa?" tanya Anta.


"Kegencet lift, badan aku hancur, kepala aku kepotong eh gelinding ke sini terus nemenin dia deh, eh kenapa aku jadi curhat sama kamu ya?"


"Oh, begitu. Ya udah kalau gitu Anta pamit dulu, dadah semuanya!"


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang masuk ke dalam toilet wanita.


"Eh, ada orang kirain sepi, halo!" sapa wanita dengan setelan jas dan sepatu hak tinggi. Ia tak sengaja menendang hantu wanita tanpa lengan dan kaki tadi.


"Halo!" sapa Anta.


"Aduh, itu apa ya barusan?" gumamnya, lalu masuk ke dalam bilik toilet yang ada di sudut.


Anta lalu keluar dari kamar mandi tersebut. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan wanita tadi. Setelah berusaha untuk melihat dengan jelas, ia lantas terkejut karena melihat sepotong kepala wanita berambut panjang tergeletak di atas meja tersebut. Ngerinya, wajah dari wanita itu tampak tersenyum dengan tatapan tajam ke arah wanita itu sambil tertawa cekikikan. Ia langsung kaget dan tubuhnya lemas dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia pun bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan tergesa-gesa.


Namun, baru saja sampai di depan cermin tadi, ia terjatuh lantaran tersandung sesuatu. Setelah mencari tahu apa yang membuatnya tersandung, ternyata ia semakin ketakutan lantaran yang membuatnya tersandung adalah tubuh seorang wanita yang tidak memiliki kaki dan tangan.


Wanita itu pun segera bangun dan bergegas lari meninggalkan toilet tadi. Ia melihat Anta yang menatapnya bingung. Wanita itu lantas menarik lengan gadis itu hingga akhirnya ia menabrak satpam yang tengah bertugas.


"Eh, kenapa Mbak?" tanya satpam.


"Iya nih, main tarik Anta aja, ada apa sih?" tanya Anta.


Satpam tersebut kaget melihat kondisi wanita tadi dengan wajah yang sangat pucat sambil gemetar ketakutan. Ia tak menjawab.


"Wah, kayaknya si Mbak ketakutan nih, habis liat hantu kayaknya nih?" tanya satpam itu.


"Kayaknya iya dia lihat hantu," ucap Anta.


Wanita itu benar-benar terlihat syok dan ketakutan. Anta dan Pak Satpam membawa wanita itu ke ruang tunggu pasien. Gadis itu mengambilkan air minum untuk wanita itu. Setelah diberi minum, wanita bernama Rani itu menceritakan kejadian yang barusan dialaminya. Mendengar cerita darinya, sang satpam itu pun mengiyakan dan menjelaskan bahwa ruangan di samping toilet tersebut merupakan bekas instalasi bedah umum dan sudah lama tidak digunakan.


"Sekarang ruangan sebelahnya ditutup," ucap Pak Satpam.


"Oh, pantesan tadi Anta pikir tembok biasa tapi kok tipis taunya bekas ruangan," ucap Anta.


"Emang kamu tadi enggak lihat hantunya?" tanya Rani pada Anta.


"Lihat, eh enggak lihat," sahut Anta berbohong.


"Wah, ternyata emang bener ya, di situ emang angker. Banyak yang bertemu dengan hantu menyeramkan atau potongan tubuh manusia," ucap satpam itu.


"Tapi bukannya tadi tu hantu ada di toilet perempuan?" tanya Anta.


"Enggak, enggak kok Anta enggak lihat, kan tadi Mbak yang ngomong," sahut Anta menutupi kemampuannya.


"Oh iya iya, duh saya masih takut nih, mana masih mules belum kelar," ucapnya.


"Ke toilet lantai satu aja, Mbak!" sahut satpam itu.


"Takut kebobolan, duh kuat enggak ya?" gumam Rani.


"Idih, Mbaknya tinggal nongkrong aja sih di sana, daripada kebobolan, bau entar," sahut Anta seraya pamit pada kedua orang itu


***


Anta bertemu dengan Arya dan Raja serta Pak Herdi di depan ruang ICU menatap kondisi Jorji.


"Lho, kok pada ke sini, emang enggak sekolah?" tanya Anta.


"Darimana luh?" Arya menyerangnya dengan tatapan sinis.


"Dari kamar mandi, emangnya kenapa?" tanya Anta lagi.


"Kenapa enggak ngabarin gue, kenapa harus telepon Ria, mana enggak jelas itu bocah kasih taunya, gue khawatir sama elo tau!" seru Arya seraya memeluk gadis di hadapannya itu.


Keheningan tercipta di antara keduanya, sampai Pak Herdi menarik Raja menjauh.


"Mau kemana sih, Om?" bisik Raja.


"Anterin cari kamar si Mark, kayaknya Tante Tasya ada di kamar Mark, saya takut Tasya sama Mark kayak gitu," bisik Herdi.


"Ah, nyebelin nih, aku kan mau liat adegan sinetron Kak Anta sama Kak Arya," sahut Raja mendengus kesal.


"Eh, anak kecil! Siapa yang ngajarin nonton sinetron, enggak pantes tau!" seru Herdi makin menarik tangan Raja menjauhi Anta dan Arya.


"Mama Dewi nonton sinetron sih jadi aku kan ikutan, lagian rame kok," ucap Raja.


"Astaga, si Dewi kasih tontonan gitu amat."


Herdi dan Raja lantas menanyakan kamar Mark pada suster di bagian meja pelayanan di lantai itu.


Sementara itu, Arya masih memeluk Anta dengan erat. Gadis itu berusaha untuk melepaskan pelukan pemuda itu, tetapi ia malah mendengar isak tangis dari pemuda yang memeluknya itu.


"Arya, kamu nangis?" tanya Anta.


"Enggak, cuma pilek," sahut Arya berbohong seraya menyeka air matanya. Ia juga mengusap punggung Anta dengan lembut.


"Arya meper bekas ingus dong di bahu Anta?" seru Anta bertanya pada pemuda itu.


"Enggak Anta, biarin gue kayak gini. Biarin gue peluk elo kayak gini," ucap Arya.


"Malu tau, Ya... lepasin Anta sih!" gadis itu berusaha memberontak.


"Enggak mau, gue enggak mau lepasin elo! Gue khawatir banget tadi pas tau kalau elo di rumah sakit, gue takut elo kecelakaan tau! Lain kali kabarin gue, ya..." ucap Arya menahan isak tangisnya.


"Ini kenapa lebay banget sih, lepasin Anta dong!" pinta Anta masih mencoba untuk lepas dari pelukan Arya.


"Enggak mau, pokoknya biarin kayak gini dulu!" pinta Arya.


Keheningan tercipta lagi kemudian. Kedua tangan gadis itu lurus tak merespon pelukan Arya. Namun, entah kenapa rasanya gadis itu ingin membalas pelukan pemuda itu. Perlahan-lahan kedua tangannya mulai naik untuk membalas pelukan Arya. Hampir saja ia membalas pelukan pemuda yang sudah lama menyukainya itu, tiba-tiba seseorang berseru menyentak keduanya.


"Heh, kalian pada ngapain itu?"


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni