
Happy Reading...
*****
Cobain nasi goreng buatan aku, tadi aku lupa mau kasih kamu sampai bau di tas aku."
"Terus itu nasi goreng tadi pagi?" tanya Anta.
"Bukanlah, aku buat lagi barusan," jawab Arya.
"Cie... Aku kamu," ledek Raja.
"Bodo amat!" sahut Arya menjulurkan lidahnya pada Raja.
"Anta mau ke panti asuhan sama Ria, ini jadwal Anta buat ngajar anak-anak di sana," ucap Anta.
"Udah mau malam gini, aku antar ya?" pinta Arya.
"Kak Dion mau anter kok, dia yang antar Ria ke sini, jadi sekalian antar ke panti," ucap Anta.
"Hah, ada Dion? Aku ikut ya," pinta Jorji.
"Aku juga ikut, aku enggak mau kamu deket-deket sama Dion," sahut Arya.
"Ya udah lah, terserah! Raja kamu nanti bilang Tante Tasya kalau Kak Anta pergi ke panti ya," ucap Anta.
"Oke, kalau gitu sini nasi gorengnya buat Raja," ucap Raja.
"Udah kasih aja ke Raja, daripada enggak dimakan," sahut Anta.
"Tapi aku buat nasi goreng itu untuk kamu," ucap Arya.
"Ya udah besok buat lagi," Anta menarik lengan Arya ke luar dari apartemen Tasya. Pria itu begitu terpana saat melihat tangan yang digandeng Anta itu saat menuju lift.
"Uwuuu... Arya terpesona tuh, kesenangan digandeng sama Anta kayak truk gandeng aja digandeng," ledek Jorji.
Anta yang baru sadar menggandeng tangan Arya langsung melepaskan tangan pemuda itu.
"Maaf, Anta enggak sengaja," ucap Anta.
"Enggak apa, Nta, sering-sering aja enggak sengaja, aku suka kok," ucap Arya.
"Huuu... modus! Sini aku aja yang gandeng!" sahut Jorji.
Namun, keanehan terjadi, Jorji tak bisa menyentuh Arya meskipun ia coba berkali-kali. Berbeda ketika ia menyentuh Anta.
"Kok aku cuma bisa pegang Anta ya, kenapa aku enggak bisa pegang Arya?" tanya Jorji.
"Bagus kalau begitu, gue juga ogah dipegang-pegang sama elo, huh!" sahut Arya.
Anta menahan tawanya kala melihat keduanya bertengkar seperti itu.
***
Sepanjang perjalanan, Dion terus saja terlihat jengkel kala melihat Arya mengikuti Anta. Begitu juga dengan Arya, ia selalu melirik kesal ke arah Dion yang sedang menyetir di sampingnya itu. Sementara itu, Ria menunjukkan foto hantu dalam ruang lab pada Anta di kursi belakang.
Mereka akhirnya sampai di panti asuhan. Anta melihat mobil Anan yang masih terparkir.
"Wah, ada Yanda nih," ucap Anta dengan senangnya kala melihat mobil Anan.
Namun, sesuatu terlihat bergerak dari balik terpal itu di belakang mobil pick up Anan.
"Anta, itu apa?" tanya Arya mulai ketakutan. Di samping pria itu juga ada Jorji yang sedang ketakutan juga.
Hantu anak laki-laki itu muncul dari balik terpal dengan posisi duduk.
"Waaaaa!" Jorji dan Arya berteriak bersamaan.
"Pada liat apa, sih?" tanya Ria.
"Elo yakin mau liat?" tanya Arya.
"Oh maksudnya itu, enggak mau!" ketus Ria lalu masuk ke dalam panti asuhan. Anta mengikuti di belakangnya. Dion dan Arya saling menatap tajam satu sama lain.
"Apa?"
Arya langsung menghalangi jalan Dion untuk masuk. Pemuda itu segera masuk terlebih dahulu.
"Bunda sama Yanda lagi apa?" tanya Anta di rumah samping panti asuhan.
"Aku punya kucing baru, tuh kandangnya lagi dipasang sama Anan," ucap Dita.
"Oh, kucing. Hatchi... hatchi...!" Anta langsung menjauh seraya mengucek hidungnya.
"Kayaknya sekarang Anta udah alergi sama buku kucing deh, apalagi kucing kecil," sahut gadis itu.
"Eh, ya udah jangan kalau gitu, kita ketemu anak-anak aja yuk!" ajak Dita.
"Ta, kopi aku habis nanti buatin lagi ya," pinta Anan.
"Beres."
"Bunda, ada hantu di mobil Yanda, udah tau?" tanya Anta.
"Oh, anak itu, tadi ketemu di gorong-gorong pas aku nolongin kucing tadi, dia minta dianterin pulang sama Anan," ucap Dita.
"Memangnya pulang ke mana?" tanya Anta.
"Nah itu belum tau pulang ke mana," sahut Dita.
"Besok aja aku antar pulang itu hantu, tuh kandangnya udah rapi, tapi kopinya belum nambah masa," ucap Anan.
"Oh, tunggu bentar ya," ucap Dita.
"Itu begundal dua ngapain pada ke sini?" tanya Anan sambil menunjuk ke arah Arya dan Dion. Kedua pemuda itu juga terlihat saling rebutan mendapatkan tangan Anan untuk salim.
"Tumben amat pada sopan gini langsung salim ama gue, hahaha..." ucap Anan.
"Om kan ayahnya Anta, saya percaya kok kalau Om ayahnya Anta jadi kita harus menghormati gitu," ucap Arya.
"Ya, bener Om kayak gitu," sahut Dion.
"Ah, ikut-ikutan aja luh!" seru Arya.
"Hmmm... bagus-bagus kalau paham sopan santun sama orang tua," ucap Anan.
"Tapi kok tangan Om Anan rada bau gitu ya?" gumam Arya seraya mengendus tangannya.
"Kok, gue juga ngerasa gitu ya," sahut Dion.
"Oh, maaf ya, itu kucing rada mencret, tadi gue lagi ngajarin itu kucing ee di bak pasir, tangan gue kayaknya kena, bentar ya gue cuci tangan dulu," sahut Anan dengan santainya tersenyum sambil bersiul meninggalkan Arya dan Dion.
"Pantesan bau ee kucing, idih...!" Arya mengusap tangan kanannya di bahu Dion begitu juga dengan Dion yang membalas kelakuan Arya.
"Eh, bukannya pada cuci tangan sana!" seru Anta.
***
Setelah selesai mengajar dan makan malam, Anta dan yang lainnya mau pamit pulang. Akan tetapi, karena Aiko dan Dita sedang memasak kue bolu, akhirnya mereka menunggu agar bisa mencicipi bolu tersebut. Dita juga ingin Anta memberikan pada Raja setibanya di rumah nanti.
"Yanda, emang tau rumah dia di mana?" tanya Anta menunjuk hantu anak kecil itu.
"Enggak tau, coba kamu tanya, jadi besok aku tinggal antar dia pulang aja," ucap Anan.
"Hmmm... yang kayak gini ditawarin nanya hantu ya dia maju," ucap Arya.
Benar saja, Anta sudah maju menghampiri hantu anak laki-laki itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Anta.
"Aku Feri," jawabnya.
"Kamu kenapa bisa meninggal?" tanya Anta lagi.
"Takdir, Nta, dia mati ya karena takdirnya mati," sahut Arya.
Anan langsung memiting kepala Arya dengan gemas.
"Bisa diem dulu, enggak!" ancam Anan.
"Iya, Om. Ampun Om, ampun Om!" seru Arya.
Tiba-tiba, Anta menyentuh hantu anak laki-laki itu dan melihat sekelebat cuplikan peristiwa saat anak itu meninggal. Di sebuah gorong-gorong selokan, Anta melihat seorang pria sedang membopong tubuh Feri kala itu.
Anta melihat pelaku memaksa menyimpan mayat korban saat dimasukan ke dalam gorong-gorong . Supaya tersembunyi ke dalam gorong-gorong itu, pelaku mendorong mayat korban pakai salah satu kaki mencapai jarak dua meter dari mulut gorong-gorong itu.
"Hentikan, hentikan itu!" Anta berusaha untuk berteriak dan menghentikan si pelaku.
Namun, suaranya tak terdengar, gadis itu juga tak bisa menyentuh si pelaku tersebut.
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni