
Jangan lupa di Vote ya Kakak sebelum membaca... Happy Reading...
******
"Stop! Kayak anak kecil aja, nih! Sekarang aku mau tanya pada liat Iman, gak?" tanya Arga.
Kompak semua mengangkat kedua bahu dan menggelengkan kepala bersamaan.
"Waduh, kemana nih si gendut," gumam Arga.
Anta, Arya, dan Mey menoleh bersamaan.
"Lah, si gendut ke mana ini, ayo cari!" sahut Arya.
"Mey, kamu gak usah ikut ya, nanti kalau dalam satu jam kita belum balik, kamu lapor ke Bu Lesti," ucap Anta menepuk bahu gadis itu.
"Ya udah, kalian hati-hati, ya."
Ketiga anak itu mengangguk. Lalu, mereka pergi memcari Iman. Anta tau ke mana ia harus pergi jika tak menemukan sosok Iman di sekitar perkemahan itu.
***
Seseorang menepuk bahu Iman saat ia sedang menyantap sate kelinci di tangannya itu.
"Wah, Pak Dalang tadi, ya," sapa Iman.
Pria itu tersenyum lalu menyerahkan sebuah cokelat pada Iman. "Mau?" tanyanya.
"Mau, dong, Pak." Iman meraih cokelat batangan itu dari tangan Ki Romo.
"Kamu suka wayang?" tanya Ki Romo?"
"Suka dong!"
"Mau lihat cara pembuatan wayang kulit, nanti saya kasih yang bentuk gantungan kunci, gratis buat kamu," ucap Ki Romo.
"Wah, keren, mau lah, Ki."
"Ayo, ikut ke rumah nanti tak kasih tau wayang yang bagus di sana," ajak Ki Romo.
Awalnya Iman ragu, tapi karena dia pikir letak rumah Ki Romo tak jauh dari perkemahan, akhirnya ia mengikuti pria paruh baya tersebut.
***
Setelah mencari Iman di sekitaran para pedagang, akhirnya Anta memutuskan untuk mengajak Arga dan Arya ke rumah Ki Romo. Mereka mengikuti Silla dan Uli yang kemarin malam dari sana.
"Beneran nih, gak bilang Bu Lesti dulu?" tanya Arga.
"Nanti telat, aku takut Iman kenapa-napa," sahut Anta.
"Gue balik, deh," ucap Arya.
"Eits... Gak bisa, kepalang tanggung, kamu kan bisa lihat para hantu di sana, jadi bisa bantu-bantu," ucap Anta menarik kaus Arya.
"Tapi, gue takut, nih... Kalau gue ngompol gimana?"
"Tinggal ganti celana, beres!" sahut Arga menahan tawanya.
"Huuuu..."
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Jalanan di depan sana sangat gelap, nyaris minim pencahayaan dari lampu jalanan. Tampak berbeda dengan jalan sebelumnya yang telah mereka lewati. Di sana tampak beberapa pohon kamboja terlihat dari kejauhan. Pohon-pohon itulah yang membuat Arya menjadi sangat panik. Kalau buat Anta dan Arga mungkin sudah biasa jika ada pohon kamboja, karena mereka yakin kalau tak jauh dari sana pasti ada kuburan di bawah pohon tersebut.
"Ya, ampun kenapa harus ada kuburan, sih?" suara Arya terdengar gemetar.
"Jadi, gimana nih, mau lanjut apa balik ke kemah?" tanya Arga yang suaranya juga terdengar bergetar sebenarnya.
"Balik, ayo kita balik aja!" pekik Arya yang sudah mendengar suara cekikikan kuntilanak sedari tadi.
"Apaan sih, baru kuntilanak doang juga, tuh sama aja sama Silla bentuknya," ucap Anta.
"Tapi itu kenapa perutnya bolong biasanya kan punggung yang bolong," tunjuk Arya.
"Coba tanya!" sahut Anta.
"Udah sih jangan pada berisik, coba liat baik-baik perut tuh Kunti!" tunjuk Silla.
"Emang ada apaan, sih?" tanya Arga yang mengarahkan cahaya senter di tangannya ke arah hantu kuntilanak yang ditunjuk Silla.
"Hei, silaw tau hihihihi!" pekik hantu perempuan itu di selingi tawa cekikikan khas hantu kuntilanak.
Tiba-tiba lubang di perutnya itu muncul sebuah kepala anak kecil yang botak lalu perlahan menampakkan wajahnya yang seperti tengkorak sedang tersenyum meringis menatap ketiga anak muda itu.
"Ciluk... Ba... cini akak main sama aku!" ajak hantu anak kecil itu.
"Waduh, ogah dah kalau gitu bentuknya mending kabur, yuk!" ajak Arga menarik tangan Anta.
"Ih, lucu tau dedeknya gemesin," sahut Anta yang tak mau beranjak.
Arya membantu Arga menarik tangan Anta agar segera beranjak dan berpindah dari kuburan tersebut.
"Somplak nih cewek otaknya geser ya lihat hantu serem gitu dibilang gemesin," ucap Arya bersungut-sungut.
jalan menuju kuburan itu makin lama makin menyempit. Mungkin memang hanya sengaja untuk dilewati oleh kendaraan roda dua saja. Suasana malam itu makin mencekam. Cengkeraman tangan Arya di area pinggang Anta semakin terasa menyakitkan gadis itu. Anta sampai mengeluh dan melotot ke arah pria muda itu.
"Bisa lepas eggak, sih!" pekik Anta kesal.
"Iya, maaf, gue takut nih..." ucap Arya.
Terlihat keringat dingin bercucuran di pelipis anak muda itu, sementara kedua kakinya sudah benar-benar kebas dan gemetar. Sejauh mata memandang hanya natu nisan yang mereka lihat. Terlihat beberapa di antaranya masih berupa kayu, dan itu pertanda bahwa baru saja ada orang yang dikebumikan di sana.
Anta, Arga dan Arya berusaha tak menoleh ke kiri dan kanan kembali. Kini, mereka hanya fokus mengikuti hantu Silla dan Uli saja karena mereka tidak ingin lagi melihat sesuatu penampakan yang lain.
"Guys, tungguin gue!" ucap Uli yang mulai tersusun oleh langkah ketiga anak itu. Pocong itu kini berada di belakang mereka dan sesuatu menahannya.
"Om Uli, kenapa tuh?" tanya Anta menoleh ke belakang ke arah Uli.
"Kaki gue ada yang nahan nih," ucap Uli yang terlihat susah menarik kakinya sampai ia memaksa melompat dan jatuh terjerembab dengan wajah mencium tanah kuburan yang masih basah itu.
Tiba-tiba bau busuk tercium menyeruak sampai membuat semuanya menutup hidung. Sosok seorang anak perempuan muncul dari dalam gundukan tanah kuburan di samping Uli. Rupanya ia menahan tangan Uli agar tak bisa bergerak.
Sosok anak perempuan itu memakai baju serba putih menyerupai baju tidur. Hantu itu menundukkan kepalanya, hingga rambut hitam panjang miliknya menutupi seluruh bagian wajah hantu perempuan itu. Dia tidak bergerak saat tubuhnya sudah ke luar semua dari gundukan tanah tersebut. Ia hanya berdiri saja di samping Uli seolah sedang menyambut kedatangan mereka.
"Haduh, perasaan gue gak enak nih, pasti mau minta tolong," gumam Arya.
"Ya, gitu deh, tapi masalahnya kita mau nolong Iman kan ke rumah Ki Romo dalang semprul itu," sahut Arga.
"Bentar, tanya dulu dia mau apa," ucap Anta yang mendekat ke arah anak perempuan yang sepertinya memilih usia yang sama dengannya.
"Halo, namaku Anta," sapa Anta.
"Ga, perasaan baru ini nemu cewek gesrek demen banget nyapa hantu," bisik Arya.
"Hooh, gue juga heran, demen banget dia main sama hantu dari dulu," sahut Arga.
******
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mohon dukungannya, mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta
Vie Love You All...😘😘😘
Pleaseeeeee Jangan lupa VOTE buat dapatkan GA pulsa 20K tiap bulannya, semangat...!!!