Anta's Diary

Anta's Diary
Nasi Goreng



Happy Reading...


*****


"Oh... begitu jadinya. Eh, daripada di Arga ngajarin Raja matematika, kenapa enggak kamu aja yang diajarin sama Arga, nilai matematika kamu kan selaku di bawah kkm," ucap Anta tersenyum meledek seraya melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit bersama Tasya. Dion dan Ria terlihat menertawai Arya kala itu.


"Kok, jadi gue yang kena bully, awas ya si cumi albino," ucap Arya bersungut-sungut.


Anta dan yang lainnya sampai di depan ruang ICU tempat Mey dirawat. Tangan gadis itu berusaha bergerak dan menggapai para kawannya yang sedang menatapnya dari luar.


"Sebenarnya kalau mau masuk satu-satu ya, maksimal berdua deh," ucap suster Irma.


"Yah, enggak bisa masuk semua nih?" tanya Anta.


"Hmm... oke deh, tapi jangan lama-lama, nanti aku dimarahi, buruan ya," pinta suster Irma.


Setelah memakai pakaian tamu ICU, keempat anak muda itu masuk ke dalam ruangan. Tasya, Raja dan Dion menunggu di depan ruangan tersebut.


"Hai, Mey!" sapa Anta.


"Hai, Mey! Kita semua datang ke sini mau lihat kamu, cepet sembuh ya," ucap Ria.


Arya dan Arga juga menyapa gadis itu.


"Ma-maafkan, maafkan aku, ya," ucap Mey.


"Udah jangan dibahas lagi, jangan ngomong apa-apa, nanti kamu tambah sakit," ucap Anta.


Gadis itu mendekat dan mencoba menyentuh tangan Mey yang memiliki luka bakar. Anta sampai tak tega saat menyentuh tangan gadis itu. Ia yakin rasanya sakit sekali untuk dilalui sahabatnya itu.


"A-ar-arya..." lirih Mey.


Arga menepuk punggung Arya seraya berbisik, "maju, Ya, turutin aja dan dengerin aja dia ngomong apa."


Arya menoleh pada Arga lalu menganggukkan kepalanya. Ia menghampiri Mey dan berdiri di samping ranjang gadis itu.


"Maafkan aku, ya," pinta Mey.


"Iya, Mey. Aku udah maafkan kamu, kita semua juga maafin kamu," sahut Arya.


"Maaf, dua orang keluar dulu yuk!" ucap suster Irma membuka pintu ruangan itu sedikit.


"Kita keluar yuk, Ria!" ajak Arga. Ia mengerti kalau yang dicari Mey untuk minta maaf lebih dalam adalah Arya dan Anta.


Ria menurut dan mengikuti langkah pemuda itu.


"Aku keluar dulu ya, Mey. Pokoknya cepat sembuh ya, aku yakin mama kamu pasti akan buat kamu cantik kembali dengan operasi plastik, nanti kita ke korea bareng deh buat oplas, hehehe..." ucap Ria. Gadis itu berharap kawan-kawannya akan mengikuti dia tertawa. Akan tetapi, gadis itu malah mendapati Anta, Arya dan Arga menatapnya datar dan seolah tak suka dengan perkataan gadis itu.


"Hehehe... Aku salah ngomong ya, duh pokoknya cepet sembuh Mey!" seru Ria lalu ke luar bersama Arga.


Mey mencoba meraih tangan Anta agar mendekat kepadanya.


"Tolong jagain Arya ya, aku yakin kalian akan saling menjaga," ucap Mey lirih.


"Pasti Mey, gue bakal selalu jagain Anta," sahut Arya.


Buliran bening mengalir dari kedua mata lentik gadis itu.


"Mey, jangan nangis udah ah jangan sedih, enggak boleh ngomong macem-macem dulu. Pokoknya kamu harus semangat buat sembuh. Kita akan selalu nunggu kamu sembuh biar bisa sekolah bareng," ucap Anta.


"Ssttt... Ayo buruan jangan lama-lama, pasien harus istirahat," pinta suster Irma yang kembali masuk ke ruang tersebut mengingatkan.


"Ya udah, Nta, ayo keluar dulu, biar Mey istirahat," ajak Arya..


"Iya, Mey istirahat ya, Anta keluar dulu," ucap gadis itu.


Keduanya lalu keluar dari ruangan. Mereka masih berkumpul di depan ruang ICU sebelum memutuskan untuk pulang. Namun, sesuatu terjadi dengan alat perekam detak jantung Mey. Garis lurus terlihat di layar monitor.


Semuanya langsung terbelalak dan terkejut kala mendapati gadis itu sudah tak bernyawa. Mereka tak menyangka kalau malam itu adalah pertemuan terakhir antara mereka dan Mey. Anta dan Ria saling berpelukan dan menangis. Pihak rumah sakit juga langsung menghubungi orang tua Mey untuk mengurus jenazah gadis itu.


Keesokan harinya, jenazah Mey dibawa ke kampung halaman ibunya di luar kota. Ia akan menguburkan gadis itu di pemakaman keluarga miliknya. Ambulans rumah sakit akan mengantar jenazah gadis itu segera.


Anta dan lainnya hanya mengiringi sampai jenazah sahabatnya itu dimasukkan ke dalam ambulans. Ia berharap gadis itu akan pergi dengan tenang dan tidak gentayangan lagi seperti para hantu lainnya.


***


Hari itu, Arya terbangun di pagi hari lebih pagi dari biasanya. Pemuda itu akan membuat sarapan nasi goreng dengan resep yang ia lihat di channel youtube pemasak bagi pemula.


Bulan itu giliran sekolah SMA Satu Jiwa yang masuk pagi. Semenjak kepala sekolah yang baru dihentikan dari dinas pendidikan. Ia tak ingin selalu mendapat jatah di siang hari. Ia akhirnya bernegosiasi untuk bergantian sekolah pagi dan siang setiap sebulan bergantian. Dan hari itu jadwal sekolah Arya masuk pagi.


"Tumben banget kamu masak, ada acara apa nih?" tanya Herdi.


"Aku mau buat sarapan aja buat Ayah, buat Anta," sahut Arya.


"Uhuk... uhuk... buat Anta?"


Herdi yang baru saja menyeruput kopi panas instan buatannya itu langsung tersedak kala mendengar penuturan putranya barusan.


"Hahaha... kirain Ayah si Anta sama Dion," sahut Herdi.


Tak!


Arya yang sedang mengiris bawang sampai menghentakkan pisaunya lebih keras ke atas.


"Ayah bilang apa?" tanya Arya seraya melirik tajam ke arah pria yang sedang mengolesi roti tawarnya dengan selai nutela.


"Ummm... maksud Ayah cuma kirain aja gitu, enggak usah diambil hati apalagi masuk ke ampela," ucap Herdi.


"Anta belum punya pacar, lagipula kalau Anta udah punya pacar, aku sih enggak peduli, selama janur kuning belum melengkung, Anta masih bisa jadi jodoh Arya," ucap pemuda itu dengan bangganya.


"Oke, Ayah sih dukung aja selama itu yang terbaik untuk kamu tapi jangan memaksakan hati seseorang dan bertindak nekat kayak Mey," ucap Herdi.


"Ya berjuang mah tetep dong, Yah, harus... emangnya kayak Ayah yang biarin Tante Tasya jomblo gitu aja. Apalagi yang aku denger ya dari Raja kalau Tante Tasya sering dapat telepon dari Om Mark, hmmm... jangan-jangan..."


Brak!


Herdi menggebrak meja makan di hadapannya seraya bangkit berdiri.


"Coba minggir, Ayah mau liat juga cara buat nasi goreng," ucap Herdi.


"Ayah mau buat nasi goreng juga, buat Tante Tasya?" tanya Arya meledek.


"Bukan, Ayah mau berikan buat bapak kepala sekolah yang baru," jawab Herdi datar.


"Serius? Dalam rangka apa?" tanya Arya heran.


"Ya masa iya beneran buat kepsek yang baru, menurut kamu buat siapa?" tanya Herdi melirik tajam ke arah Arya.


"Oh, oke oke, nih aku bantuin buat hiasan tomat sama timun deh, Ayah yang aduk bumbu sama nasi. Telurnya belakangan aja, aku mau buat telur mata sapi tapi ada dua mata," ucap Arya.


"Bagusan telur dadar terus diiris, lalu kita bentuk kayak bunga," sahut Herdi.


"Terserah Ayah aja lah suka-suka Ayah mau buat kayak apa, aku mah buat versi aku sendiri aja lah," ucap Arya.


"Oke, kita liat mana yang lebih enak dan tampilannya lebih bagus," tantang Herdi.


"Oke, tapi buruan Yah, itu udah jam enam kurang 15 menit, entar kita telat."


"Kamu mandi dulu gih, Ayah sih udah mandi!" seru Herdi.


"Bentar lah, tanggung!"


Ayah dan anak itu makin semangat membuat kreasi nasi goreng buatan mereka untuk orang yang mereka sukai tersebut.


Sementara itu, Tasya juga membuat nasi goreng untuk bekal Anta dan Raja ke sekolah. Ia juga membawa bekal tersebut ke tempat kerja di restoran Andri. Wanita itu kini membantu mengelola keuangan dan mengatur para karyawan di restoran tersebut.


"Bone mana, Ja?" tanya Tasya pada Raja yang baru saja masuk ke dalam apartemennya.


"Aku di sini," jawab Bone yang muncul dari balik tirai.


"Eh, kirain balik ke rumah Raja, ini nasi goreng buat kamu," ucap Tasya.


"Terima kasih, Tante Tasya."


"Anta... buruan!" seru Tasya.


"Bentar...! Pembalut yang panjang ada sayapnya mana, Tante?" tanya Anta seraya berseru dari dalam kamarnya.


"Di lemari bagian atas, yang celana juga ada," sahut Tasya.


"Kenapa ada sayap dan celana sih, maksudnya apa, Tante pakai sayap, emang mau terbang?" tanya Raja dengan polosnya.


"Heh, anak cowok tau apa urusan perempuan, nanti kalau udah gede Tante kasih tau. Anta... buruan...!"


"Iya...!" sahut Anta.


***


Mark mengantar putrinya ke sekolah mengendarai motor matic nmax berwarna hitam. Sayangnya saat diperjalanan mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai ayahnya Ria mengalami rem bolong dan menabrak belakang motor Mark. Keduanya tergeletak di jalan. Tasya yang mengendarai mobilnya saat mengantar Anta dan Raja melihat kejadian tersebut. Namun sayangnya, Hartono kabur dari tempat kejadian.


"Itu bukannya Om Mark sama Jorji?" tanya Anta.


"Dan mobil itu aku pernah lihat deh, itu mobil bapak-bapak yang suka berantem sama Anan, itu bapaknya Ria," sahut Tasya.


"Wah, Om itu kabur tuh!" tunjuk Raja.


"Ayo kita tolong Om Mark sama Jorji dulu!" seru Anta.


*****


To be continue…


Follow IG : @vie_junaeni