
Happy Reading...
*****
"Oh iya, jangan lupa baca doa masuk wc!" perintah pemuda itu memberi saran.
Ria menghela napas berat lalu mengangguk mengiyakan kemudia ia mengucapkan doa sebelum masuk wc.
"Bismillah... Ya Allah Ria niat berdoa masuk wc, semoga enggak ada setan yang ganggu, amin..." ucap Ria.
Gadis itu langsung masuk ke dalam toilet. Ia membuat Arga tertawa kala mendengar doanya.
"Kocak nih cewek, bener kata si Arya, unik," gumam Arga.
Arga menoleh pada sosok pocong yang sudah berdiri di sampingnya. Pocong yang sama dengan sosok yang mengintip di genteng kantin tadi.
Pocong itu mengedipkan satu matanya ke Arga.
"Dih, ganjen banget udah jadi pocong juga," ucap Arga.
Hantu Pinky mendekat lalu menarik ikatan pocong itu.
"Jangan gangguin dia, ini temen aku juga!" seru Pinky.
Sosok pocong itu tersenyum meringis menunjukkan deretan gigi berdarah yang penuh belatung pada Arga. Sosok itu melompat mendekat ke samping pemuda itu lebih dekat.
"Duh, si Nini ganjen banget liat laki, ayo balik ke pohon!" ajak Pinky.
"Bawa dia jauh-jauh, Kak Pinki! Mana bau terus seru hiiyy!"
"Ga... kamu ngomong sama siapa?" tanya Ria yang baru keluar dari toilet menepuk bahu Arga.
"Weits... bangun-bangun makan ayam panggang!" sahut Arga dengan spontan menyahut sambil pasang kira-kira karate.
"Hahaha... Arga latah!" seru Ria sambil menertawakan pemuda itu.
"Enggak kok, cuma kaget aja, tadi itu aku ngomong sama pocong sama Kuntilanak warna pink juga, hehehe," sahut Arga.
"Aduh... punya temen udah demen banget kenalan sama hantu, eh ini punya gebetan juga mainnya sama hantu, hadeh..." Ria menepuk dahinya sendiri.
***
Anta akhirnya ditemukan di ruang olahraga. Saat Pak Herdi membuka ruang olah raga tersebut, gadis yang mereka cari sedang berbincang dengan hantu kakek yang ia suguhkan kopi.
"Emang unik ini cewek," gumam Arya yang diberi tepukan di punggung oleh ayahnya.
Mereka kembali ke kelas yang sudah ditentukan untuk tidur setelah acara serah terima dan pelepasan anggota OSIS itu terlaksana.
"Jangan lupa, nanti jam satu kalau udah pada tidur semua kita kumpul buat ke ruang kepsek," bisik Arya.
Anta, Ria, Arga dan Dion mengacungkan ibu jari mereka bersamaan. Anta dan Ria masuk ke dalam kelas, mereka merebahkan diri di atas kasur tipis yang sudah Ria sediakan bersama para siswi lainnya. Fani dan Lisna menatap Anta kala itu.
Anta melayangkan senyum pada keduanya, ia malas memberi tau kalau dua orang itu yang mengunci mereka. Gadis itu yakin, Arya, Arga dan Dion pasti akan memperpanjang masalah tadi.
"Nta, geseran dong, sempit banget kali," ucap Ria.
"Ya udah sih sana geseran, aku males gerak nih udah pewe," jawab Anta.
Ria mengalah dan meraih selimut menutupi tubuhnya.
Ria mencoba memejamkan kedua matanya meski rasa kantuk tak jua hinggap di matanya. Seandainya dia dapat melihat kalau ada sosok hantu perempuan yang salah satu matanya hampir copot memandangi gadis itu dengan senyum menyeringai.
Ria memiringkan tubuhnya ke sisi berlainan. Hantu itu perlahan menyentuh punggung gadis itu dengan tangannya yang penuh luka borok dan nanah bercampur darah mengering jadi satu.
Ria berbalik badan lagi merasa ada sesuatu yang menyentuhnya, tetapi ia tak temukan apapun di belakangnya. Kini, wajah gadis itu berhadapan langsung dengan wajah si hantu perempuan tadi.
"Maksud kamu, Nta?" tanya Ria menoleh ke Anta.
"Ada yang mau kenalan sama kamu, tanya aja tuh sama mbaknya namanya siapa," sahut Anta.
"Maksud kamu, Nta? Ada hantu ya di depan aku?" tanya Ria dengan memejamkan kedua matanya gak mau melihat.
"Menurut kamu? Hahaha..." ledek Anta.
"Ah... Anta nyebelin nih!"
Ria langsung berbalik badan dan memeluk tubuh sahabatnya itu dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya di punggung Anta.
"Ria, kabar Mey gimana ya sekarang?" tanya Anta.
"Mana aku tau, aku juga enggak mau tau," sahut Ria.
"Besok kita jenguk dia, yuk!"
"Ho Oh, hoaammm... Aku ngantuk nih, nanti jam satu kan kita harus bangun, udah sih tidur," ucap Ria.
"Ya udah, met bobo Ria."
***
Mey terbangun di sebuah ruangan,.ia memandang sekeliling. Pihak kepolisian membawa gadis itu ke rumah sakit jiwa. Kondisi emosi gadis itu dianggap tidak sehat dan dapat membahayakan orang lain. Oleh karena itu, Mama dari gadis itu juga ingin putrinya sembuh dan pulih dengan kondisi kejiwaan yang sehat.
"Buka, bukain pintunya!" seru gadis itu mengamuk bahkan ia melempar semua barang yang ada di sekitarnya.
"Mulai lagi tuh ngamuk, urus tuh!" ucap salah satu suster pria penjaga ruang bangsal rumah sakit jiwa itu.
Petugas satunya mengintip ke jendela kamar Mey dirawat. Ia terkejut kala melihat gadis itu sudah memecahkan cermin dan hendak menyayat pergelangan tangannya.
"Bro, dia mau bunuh diri tuh!" serunya.
"Heh,cepetan buka nanti kita diomelin suster kepala kalau sampai ada pasien yang bunuh diri," sahutnya dengan wajah khawatir.
Penjaga satunya langsung membuka pintu kamar Mey dan menahan gadis itu agar tidak melakukan tindakannya. Gadis itu meraung dan meronta dari pelukan suster yang mencengkeram tubuh gadis itu kuat.
Sementara rekan kerja satunya menyiapkan obat penenang yang langsung disuntikkan ke tubuh gadis itu. Dalam hitungan detik, Mey lalu tak sadarkan diri.
"Kamu ikut aja tangan sama kakinya biar enggak bisa gerak, nanti aku buat laporan sama suster kepala," ucapnya.
"Oke, Bro!"
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Kedua mata Mey terbuka dengan bola mata yang menghitam. Sejurus kemudian, gadis itu meraih serpihan cermin dan melayangkan ke leher salah satu suster. Darah mengucur deras dari leher pria itu. Sementara pria satunya mencoba kabur untuk memanggil penjaga, akan tetapi Mey sudah menahannya.
Ia menarik rambut di kepala suster itu lalu membenturkan kepala pria itu ke pecahan cermin yang berserakan di lantai. Kekuatan gadis itu jadi meningkat dari kekuatan seorang gadis pada umumnya.
Ia lalu menuju ruang janitor untuk berganti pakaian dan menyamar menjadi seorang pegawai karena pakaian seragam janitor rumah sakit itu ada di sana. Gadis itu berhasil kabur dari rumah sakit jiwa itu. Tujuan sosok Nyi Ageng dalam dirinya kini adalah bertemu Anta. Ia ingin menguasai tubuh gadis itu segera. Mey melangkahkan kakinya menuju Apartemen Emas tempat Anta tinggal.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni