
Happy Reading...
******
Mark mengantar putrinya ke sekolah mengendarai motor matic nmax berwarna hitam. Sayangnya saat diperjalanan mereka mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai ayahnya Ria mengalami rem bolong dan menabrak belakang motor Mark. Keduanya tergeletak di jalan. Tasya yang mengendarai mobilnya saat mengantar Anta dan Raja melihat kejadian tersebut. Namun sayangnya, Hartono kabur dari tempat kejadian.
"Itu bukannya Om Mark sama Jorji?" tanya Anta.
"Dan mobil itu aku pernah lihat deh, itu mobil bapak-bapak yang suka berantem sama Anan, itu bapaknya Ria," sahut Tasya.
"Wah, Om itu kabur tuh!" tunjuk Raja.
"Ayo kita tolong Om Mark sama Jorji dulu!" seru Anta.
Mereka membawa Mark dan Jorji ke rumah sakit untuk mendapat penanganan segera. Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Keluarga, Mark dan putrinya langsung diberi penanganan dan perawatan.
"Anta harus telepon Ria, Anta mau kasih tau kalau Anta udah telat dan enggak bisa ke sekolah," ucap Anta mengeluarkan ponselnya.
"Kita bisa kok ke sekolah, enggak apa telat daripada enggak ke sekolah, nanti Tante balik ke sini lagi," ucap Tasya.
"Enggak usah Tante, begini aja enggak apa-apa, kasian Om Mark kalau ditinggal," sahut Raja.
"Alah, itu kan alasan kamu aja biar enggak ke sekolah, iya kan?" tanya Tasya melirik tajam ke arah Raja.
"Hehehe... Tante tau aja," ucap Raja.
***
Arya dan Herdi yang sedari tadi menunggu Anta dan Tasya itu mulai terlihat kesal. Jam masuk sudah terdengar dan mereka tak kunjung datang.
"Coba telepon Tante Tasya!" ucap Arya.
Tak berapa kemudian, Herdi menghubungi Tasya akan tetapi, ponsel wanita itu ternyata belum dihidupkan dan tergeletak di dalam tas.
"Kamu telepon Anta, gih!" seru Herdi.
Tanpa menunggu perintah ayahnya pun ia juga sudah menghubungi Anta, tetapi saat itu gadis yang ia telepon sedang menghubungi Ria.
"Ah, enggak bisa ditelepon, coba aku tanya Ria sama Arga."
Anak muda itu langsung menuju ke kelasnya. Kotak makan yang sudah ia siapkan dengan rapi dia masukkan kembali ke dalam tas ransel miliknya. Begitu juga dengan Herdi yang menjinjing tas kanvas berisi kotak makan di tangannya menuju ruang guru.
"Ria, elo tau Anta di mana?" tanya Arya.
"Anta tadi telepon kalau ada di Rumah Sakit Keluarga, dia bilang—"
Belum selesai gadis itu menjelaskan, Arya sudah bergegas ke luar dan memanggil ayahnya. Ia bilang Anta ada di rumah sakit. Herdi langsung panik mendengar itu. Ia akhirnya memutuskan pergi sembunyi-sembunyi dari ruang guru dan mengajak serta Arya menuju ke rumah sakit.
"Terus si Tasya gimana, Ya?" tanya Herdi yang panik saat masuk ke dalam.
"Aku juga enggak tau, pokoknya Ria bilang Anta ada di rumah sakit. Mereka pasti kecelakaan," sahut Arya.
"Oke, kita cepetan ke sana kalau gitu."
"Yah, ini seriusan kita bolos sekolah?" tanya Arya.
"Sebenarnya Ayah enggak suka kamu bolos tapi ini darurat, mau gimana lagi," jawab Herdi.
Aryan tersenyum mendengar penuturan ayahnya. Pria ini ternyata bisa diajak badung juga pikirnya.
***
Ria sedang berada di Lab IPA, letaknya di paling ujung belakang bangunan, berdekatan dengan dapur sekolah dan toilet. Ruangan itu dibatasi oleh lorong kelas. Persis di depan lab lapangan sekolah dibatasi dengan taman kecil yang bentuknya persegi panjang dan memanjang searah dengan ruang lab dan kelas.
Rianmelewati kelas Arga yang sedang praktek bermain basket di kelas PJOK. Gadis itu sangat terpesona dengan cara Arga berlari sampai tak sadar membentur tiang penyangga di depannya. Semua teman yang melihat kelakuan gadis itu langsung menertawainya.
"Ini sejak kapan sih ada di sini, duh kepala aku sampai sakit gini," ucap Ria.
"Lha, elu aja yang jalan kaga liat-liat!" sahut Ani teman sekelas Ria.
Mendadak kemudian, bola basket yang dilempar Arga tak sengaja menggelinding sampai kali gadis itu.
Ria langsung meraih bola basket itu bersamaan dengan Arga. Keduanya saling bertatapan.
"Tetetetew... biasanya kalau sama-sama megang gini, terus main tatap-tatapan ada back song gitu ya, Ga," ucap Ria tersenyum manja pada Arga.
"Apaan sih, enggak jelas kamu! Si Anta ke mana, Arya juga enggak keliatan, pada kena hukuman, ya?" tanya Arga.
"Anta di rumah sakit katanya nolongin Om Mark sama Jorji kecelakaan, terus si Arya nyusul deh bolos sekolah dia," jawab Ria.
"Tapi Anta enggak kenapa-kenapa, kan?"
"Yang kecelakaan kan Kak Jorji sama ayahnya, ya dua enggak apa-apa. Kenapa sih yang ditanyai yang enggak ada di sini, kenapa bukan tanya kabar aku, huh!"
Ria bersungut-sungut meninggalkan Arga kala itu.
"Ye... kocak! Malah ngambek si Ria," gumam Arga.
Lima detik berlalu Ria berseru memanggil Arga seraya menoleh.
"Arga jahat! Arga enggak peka!" seru gadis itu lalu masuk ke dalam ruang laboratorium.
Ruangan itu cukup luas, terdiri dari banyak meja panjang dan kursi tinggi tanpa sandaran. Di bagian paling depan kelas ada ruang kecil yang diperuntukkan sebagai gudang tempat penyimpanan perlengkapan laboratorium.
Ria langsung masuk ruangan untuk menaruh tas di atas meja. Gadis itu memilih kursi paling depan di pojok kanan persis di depan pintu ruang kecil yang diperuntukkan sebagai gudang penyimpanan alat-alat laboratorium. Beberapa kawan sekelasnya juga mulai memasuki ruangan tersebut.
Dari awal ia menginjakkan kaki di lab tersebut tiba-tiba gadis itu sudah merasakan ada yang aneh. Ia lantas menoleh ke arah gudang di pojok itu. Beberapa kali ia merasa kalau di dalamnya seperti ada sesuatu yang mengintip dari balik celah pintu yang terbuka itu.
Ani lantas menyalakan lampu, yang saklarnya berada tak jauh dari pintu masuk. Setelah lampu menyala, barulah ruangan menjadi terang, tetapi entah kenapa hawa dingin malah membuat Ria bergidik ngeri.
Tak... tak... tak...!
Ria mendengar sesuatu benda yang dipukul dari dalam ruangan gudang tersebut. Gadis itu langsung memperhatikan pintunya yang seolah bergerak.
"Ni, kamu dengar sesuatu enggak?" tanya Ria pada Ani yang duduk di hadapannya satu meja dengannya.
"Enggak denger apa-apa, emang ada suara apa selain berisik anak-anak?" tanya Ani.
"Suaranya dari situ," Ria menunjuk gudang, "ada anak yang masuk ke sana, enggak?"
"Kayaknya semua temen kita duduk di bangku masing-masing, kecuali Arya dan Anta yang enggak masuk. Eh, mereka janjian ya bolos terus pacaran?" bisik Ani.
"Sembarangan! Anta lagi nolong Kak Jorji kecelakaan sekarang di rumah sakit, nah si Arya kura si Anta yang kecelakaan, jadi Arya nyusul ke sana," jawab Ria menjelaskan.
"Gerogiana Smith? Kakak kelas kita yang cantik itu kayak bule?" tanya Ani bersemangat.
"Iya," jawab Ria.
"Wah, bisa jadi bahan aduan aku nih buat sepupu aku yang naksir dia," ucap Ani.
"Maksud kamu, Kak Tomi naksir Kak Jorji?" tanya Ria.
"Iya begitulah."
Tiba-tiba bunyi yang sama itu muncul lagi sampai membuat Ria menoleh.
“Tuh, denger suara enggak?" tanya Ria pada Ani yang menjawab dengan gelengan kepala.
Seketika itu juga Ria merasa merinding, perasaan tiba-tiba jadi tak enak muncul.
"Duh, kalau ada Anta hati aku tuh bisa lebih tenang enggak karuan kayak gini. Aku yakin banget kalau itu suara hantu," gumam Ria.
Ia teringat dengan kamera ajaib yang masih ia bawa di dalam tasnya. Karena Bapak Firman, guru pelajaran IPA, belum datang, ia mengeluarkan kamera polaroid tersebut.
Klik.
Gadis itu mengambil gambar pintu gudang di salam ruang laboratorium tersebut secara tiba-tiba tanpa mau melihat lagi hasil jepretannya.
"Kamu ngapain, Ria?" tanya Ani.
"Enggak apa-apa, cuma ngetes kamera," jawab gadis itu berbohong.
Kertas foto polaroid yang sudah tercetak tadi langsung Ria simpan di dalam tas. Ia tak berani melihatnya kala itu. Sepulang sekolah nanti, ia akan menunjukkannya pada Arga.
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni