Anta's Diary

Anta's Diary
Kamar Pengantin



Happy Reading...


*****


Pesta sederhana diadakan di panti asuhan untuk merayakan pernikahan dua pasangan tersebut. Mark dan Jorji juga hadir. Pria itu akhirnya pasrah juga setelah kembali gagal mendapatkan Dita.


Beberapa staf dan guru SMA Satu Jiwa rekan kerja dari Pak Herdi juga datang. Untung saja pria itu sudah memesan catering tambahan ke panti asuhan, sehingga para tamu dapat menikmati hidangan dengan nyaman.


"Kamar pengantinnya cantik banget," ucap Dita kala Ibu Aiko dan Ibu Ari menarik tangannya untuk menunjukkan kamar pengantin hasil karya mereka.


"Syukurlah kamu suka, tadi dadakan nyiapinnya," ucap Aiko.


Anan menghampiri dan juga terkesima dengan kamar pengantin itu.


"Wuih jadi juga nih malam pengantin nanti malam, hehehe..." ucap Anan.


"Mau dihiasi atau enggak, Nenek yakin kamu juga tetep malam pengantin, ya kan?" ledek Nenek Dharma.


"Ah, Nenek bisa aja hehehe...." sahut Dita.


"Iya nih nenek tau aja, pasti pernah muda," ledek Anan.


"Iya dong pernah muda, emangnya kamu belum tentu tua!"


"Astagfirullah, Nenek bukannya doain aku panjang umur," sahut Anan mengerucutkan bibirnya.


"Oh iya cucuku sayangku, Nenek doain panjang umur, langgeng terus sama Dita, aamiin..."


"Aamiin....!" sahut semua yang mendengar bersamaan.


Dewi menoleh ke arah Tasya.


"Kok, muka kamu kaya baju lecek belum digosok gitu?" tanya Dewi sampai membuat Herdi menoleh ke arah istrinya.


"Aku sedih," lirih Tasya.


"Sayang, kamu kenapa sedih?" Herdi langsung menaruh kepala istrinya ke dada bidang pria itu.


"Sayang, bau asem ini!" keluh Tasya.


"Hehehe... maaf lupa pakai deodorant, gerah juga lupa bawa baju ganti," sahut Herdi.


"Terus kenapa kamu sedih?" tanya Dewi lagi mendekatkan diri ke arah Tasya.


Anta yang mendengar itu juga jadi penasaran. Ia dan Arya mendekat bersamaan ke hadapan wajah Tasya.


"Enggak usah deket-deket juga, kali....!" seru Tasya.


"Habisnya Tante sedih gitu, emang kenapa?" tanya Anta.


"Kamar Tante, enggak ada yang menghias kayak kamarnya Dita, huaaaaaa!" Tasya menangis kali ini memeluk Pak Herdi menyesapkan wajahnya di ketiak pria itu dan mulai menikmati aroma tubuh suaminya.


"Hahahaha... belum pulang, kan?" tanya Anta.


"Belum, kan aku masih di sini," sahut Tasya.


"Makanya liat dulu kamar pengantin Tante kayak apa, hehehe..." Anta berucap dengan nada sombong seraya bertolak pinggang.


"Seriusan?" tanya Tasya.


"Iya serius, tadi pas dari KUA Anta sama Arya sama Ria sama Arga ke rumah buat menghiasi kamar pengantin Tante," sahut Anta.


"Duh... enggak sabar deh pengen pulang."


Tasya memeluk Anta dengan erat seraya mengucapkan terima kasih dan memberi kecupan di kepala gadis itu.


"Aku juga pengen pulang karena enggak sabar pengen menghias kamu," sahut Herdi.


"Dih, Ayah mesum banget nih sekarang!" sahut Arya.


Anan dan Dita datang bergabung. Mereka mencari keberadaan Raja yang ternyata sedang bermain di kebun singkong dengan beberapa hantu dan juga seorang anak panti asuhan yang bisa melihat makhluk astral sepertinya.


"Yah, nanti tinggal di rumah kita lantai 10 apa di rumah Tante Tasya lantai 20?" tanya Arya.


"Rumah kita aja, kan Tasya sekarang jadi tanggungan Ayah," jawab Herdi.


"Hmmm berarti apartemen Tante Tasya kosong mending buat aku sama Anta, gimana?" tanya Arya.


"Eh, apa maksudnya itu?" Dita, Dewi dan Tasya langsung melotot ke arah Arya.


"Hehehe... ya kali Om Anan sama Tante Dita ngijinin aku nikah sama Anta sekarang, jadi nikah muda gitu," sahut Arya yang dijawab dengan toyoran di bahu pemuda itu.


"Ngarep!" sahut Anta.


"Arya, mau ngerasain rasanya ini kursi melayang ke wajah kamu, enggak?" ancam Anan dengan mengangkat salah satu kursi plastik di ruangan itu.


"Hehehe... enggak Om, makasih banyak," sahut Arya berpindah tempat ke belakang punggung Anta.


"Heh, macem-macem sama anak saya, kamu berhadapan sama saya, lho," sahut Herdi.


"Makanya kalau punya anak ajarin dong ngomong yang sopan santun dan bener," hardik Anan.


"Kok, Anda jadi tambah nyolot sama anak saya, sih?" Herdi bangkit berdiri begitu juga dengan Anan. Keduanya saling berhadapan, saling menatap tajam dan melotot.


Herdi langsung menarik dan merangkul Anan lalu memitingnya. Anan juga balas menyengkat kaki pria itu dan menjatuhkan badan mereka ke lantai.


"Anta, kita cari es krim yuk ke warung depan!" ajak Arya.


"Yuk, Anta mau rasa cokelat sama vanila ya, rasa buah juga boleh," sahut Anta.


Keduanya bangkit lalu pergi menjauh, mereka sengaja tak memperhatikan kedua ayah mereka yang bertengkar seru layaknya pegulat.


"Eh, Dita, Tasya kalian ini bukannya misahin!" seru Nenek Dharma.


"Enggak apa, Nek, justru itu bukti tanda sayang mereka," sahut Tasya.


Dewi langsung menepuk bahu Nenek Dharma.


"Tenang saja, Bu, yuk kita makan soto daging di sana, sekali-sekali enggak masalah dong makan daging, yuk!" ajak Dewi membawa Nenek Dharma menjauh.


"Kayak ada yang kurang ya, Sya?" tanya Dita yang masih asik melihat Anan dan Herdi saling memeluk satu sama lain dengan gemas sambil bergulingan.


"Kurang pake baju pocong, seru tuh kalau sesama pocong berantem gelut gini hahahaha...! sahut Tasya.


"Hahahaha... Tapi pocong kita pada tampan-tampan, kan?" Dita merangkul Tasya.


"Pastinya, hahahaha...!" sahut Tasya.


***


Acara di panti asuhan berakhir. Tasya dan Herdi kembali ke apartemen. Begitu juga dengan Dewi dan Andri.


"Nta, kalian harus sering datang nemuin Mama ya?" pinta Dewi saat hendak berpisah dengan gadis itu dan Raja.


"Pasti dong, Ma, Anta akan tiap hari mampir ke sana," ucap Anta.


"Aku juga, soalnya kan aku bisa minta uang buat jajan," sahut Raja meringis.


"Iya percaya, main ke restoran juga ya, nanti Papa kasih uang," sahut Andri.


"Wah, itu sih beres!" sahut Raja.


Anta dan Raja memeluk Andri dan Dewi secara bergantian. Mereka lalu berpisah.


Sesampainya di apartemen, awalnya Tasya pergi ke rumah Herdi. Namun, ia teringat perkataan Anta yang sudah menghias kamarnya.


"Arya enggak mau ikut ke rumah Tante?" tanya Tasya.


"Mau ngapain, masa Arya jadi pajangan lampu apa obat nyamuk buat kalian hehehe..." sahut Arya.


"Ya kali gitu," ucap Tasya.


"Ayah mau berjuang buatin kamu adik ya," ucap Herdi seraya menepuk bahu Arya.


"Idih... ganjen banget si Ayah!" ketus Arya.


Herdi akhirnya membawa Tasya dengan membopong wanita itu sampai menaiki lift. Beberapa penghuni yang melihat tertawa dan mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.


Sesampainya di apartemen Tasya, Herdi langsung meminum segelas air. Dia mulai mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Aku berat banget, ya?" tanya Tasya.


"Enggak kok, enteng malah, maklum aku mulai tua jadi suka gampang capek," sahut Herdi berbohong.


"Awas aja kalau ngatain aku berat!"


Tasya lalu melangkah menuju kamarnya. Ia berharap kamar pengantinnya penuh kelopak bunga mawar di atas ranjang. Ada juga lilin aromaterapi di sekeliling atau sudut kamar. Tirai serba merah jambu dengan untaian bunga melati pasti sudah terangkai seperti yang ada di kamar Dita tadi.


"Sayang, sini kita lihat sama-sama, yuk!" Tasya menarik tangan Herdi.


Keduanya perlahan membuka pintu kamar dan langsung terkejut. Kedua mata mereka terbelalak tak percaya. Tasya dan Herdi langsung saling bertatapan dengan wajah menahan kesal.


"Anta....!" seru Tasya berteriak dengan kesalnya. Sementara itu Herdi meneriaki nama Arya dengan nada yang sama.


Terpampang balon polkadot di seluruh ruangan yang berterbangan terkena tendangan. Di sekeliling terdapat hiasan rumbai dari plastik dan kertas krep berikut ucapan "Happy Birthday". Dekorasi yang harusnya dibuat untuk pesta ulang tahun itu malah hadir di kamar pengantin Tasya dan Herdi.


***


"Ja, tadi kamu pasang balon ucapan Happy Wedding, kan?" tanya Anta saat membersihkan halaman panti asuhan bersama Raja dan anak panti lainnya.


"Udah dong, udah aku pasang tadi, mana aku sendirian masangnya, lagian Kak Anta sama yang lainnya udah duluan tinggalin aku," sahut Raja.


"Hehehe... gantian dong, kita udah siapin capek-capek tiup balon banyak banget sama pasang hiasan, kamu belum dateng," ucap Anta.


Ia merangkul adiknya dan melangkah ke dalam. Padahal adiknya itu lupa untuk membeli ucapan Happy Wedding. Penjual di toko pernak-pernik ulang tahun malah memberinya pita bendera dengan ucapan Happy Birthday.


*****


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.