
Happy Reading...
*****
Tasya menekan pedal rem secara mendadak. Mobip yang ia kendarai tepat berada di hadapan si Kakek. Pria paruh baya itu tersenyum. Semuanya turun dari mobil. Anta menghampiri sang kakek.
"Kakek, Kakek Soleh yang di desa setan waktu itu, kan, yang nolongin Anta?" tanya gadis itu.
"Iya, saya punya hadiah buat kamu, satu permintaan," ucapnya.
"Permintaan?"
Sang kakek berjubah putih itu mengangguk.
"Anta mau semuanya kembali seperti semula, Yanda, Bunda, Arya tanpa ada suku Ro," ucap Anta.
"Hmmm...."
Kakek itu mengusap janggut panjangnya.
"Tapi aku butuh satu jiwa pengganti, apa kau mau mengorbankan diri?" tanya sang kakek.
"Aku saja," sahut Sahid yang maju menghampiri sang Kakek.
"Maksud, Om?" tanya Anta.
"Dokter bilang hidup saya udah enggak lama lagi, jadi sebaiknya saya saja yang ikut kakek ini, saya mohon kamu jagain Arga, ya," pinta Sahid.
Herdi mendekat mendengar penuturan Sahid. Ia merangkul pria tersebut.
"Makasih kamu udah nolongin Arga tadi, saya yakin saya juga bisa titip Arga sama kamu kalau dia enggak betah sama uminya, makasih ya Herdi, dari dulu juga kamu selalu nolongin Arga."
"Apa kamu yakin mau ngelakuin ini semua?" tanya Herdi.
"Saya yakin."
Pria itu menjawab dengan keyakinan. Arga mendekat ia menangis memeluk sang ayah.
"Kenapa harus ada tumbal sih, Kek, kenapa harus bawa Om Sahid?" tanya Anta.
"Kalau sang Ratu dan suaminya masih bisa kembali, mereka akan bereinkarnasi menjadi orang lain, tetapi untuk anak muda yang satunya harus ada pertukaran jiwa, itu syaratnya."
Kakek Soleh kembali tersenyum sambil mengusap janggutnya.
"Arya masih muda, dia masih punya kehidupan yang panjang yang belum dia raih. Abi yakin kalian bisa jadi sahabat yang baik bahkan saudara yang baik," ucap Sahid memeluk Arga untuk terakhir kalinya.
Tiba-tiba, pancaran sinar menyilaukan menyelimuti Anta dan semuanya. Terdengar suara seruan sang kakek dari kejauhan yang memberi peringatan pada Anta.
"Jika kau mengenal perempuan bernama Hyena, hancurkan kalung suku Ro sebelum ia membangkitkan suku itu, hancurkan!"
Sinar menyilaukan itu membuat Anta tak bisa menahan langkahnya yang semakin mundur dan ia jatuh seketika seiring dengan gelap gulita yang hadir.
***
Anta terbangun tepat saat mereka pergi menyelamatkan Iman dari Dalang Arya. Awalnya ia tak menyangka kalau ia akan kembali menjadi anak SMP, tetapi ia ingat akan sesuatu. Ia harus bergegas menyelamatkan Arya sebelum Ki Romo menusuknya.
Ki Romo mengacungkan pisau bedah di tangannya kepada Arga.
"Ingat kalung di lehernya, kalau bisa ambil itu agar aku dan para hantu lainnya bisa menyentuh pria jahat itu," ucap Silla menepuk bahu Anta.
"Tante Silla, tolong lindungi Arya!" pinta Anta.
Hantu Silla mengangguk. Anta lalu menarik Pocong Uli saat mendekati Ki Romo. Ia jadikan sosok pocong itu menjadi tameng. Sementara Arya dan Arga mengalihkan perhatian dalang jahat itu dibantu oleh Silla.
"Semuanya, dalam hitungan ketiga, tigaaaaaaaa...!" seru Anta memberi aba-aba kepada rekannya.
"Kyaaaaaaaa, rasakan ini...!" seru Arya memukul kepala Ki Romo.
"Arga, ambil pisau di saku kir Romo!" seru Anta bersamaan dengan keberhasilannya merebut kalung yang digunakan dalang tersebut.
Gadis itu lalu membakar kalung itu sesuai arahan hantu Ratna. Para hantu tanpa kulit muncul dan menyerbu Ki Romo. Sementara itu, Arga dan Arya membebaskan Iman dan mencoba memapah tubuh tambun anak muda itu.
"Gengs, jangan kalian sia-siakan pria kejam itu, hajar..." seru Anta saat melihat para hantu itu mengerumuni Ki Romo termasuk Uli dan Silla yang sedari tadi bergantian menendang tubuh dalang tersebut.
Mereka sampai di halaman rumah Ki Romo. Anta langsung memeriksa kondisi perut Arya.
"Elo ngapain, sih, pegang-pegang gue?"
Arya menepis tangan gadis itu.
"Enggak ada yang luka, kan?" tanya Anta dengan wajah panik.
"Lebai banget luh, pake nanya gue luka apa enggak, wah jangan-jangan elo peduli ya sama gue?"
Arya mencolek hidung Anta.
"Anta serius, perut kamu enggak luka, kan, apa ada yang ketusuk gitu?" tanya Anta masih mencoba menelisik dan menyentuh tubuh Arya di bagian yang tertusuk kala itu.
"Apaan sih, gue baik-baik aja, enggak usah lebai!" pekik Arya.
Anta langsung memeluk Arya seraya menangis.
Kedua tangan Arya yang semula direntangkan dengan wajah terkejut tak percaya itu akhirnya perlahan-lahan menyentuh rambut hitam dan halus si gadis. Ia mengusap lembut rambut tersebut seraya tersenyum.
"Gue enggak nyangka kalau elo bakal perhatian gini sama gue," ucap Arya.
Arga mengamati Anta dan Arya dengan saksama. Ia merasakan rasa sakit di dalam dadanya. Mungkinkah ia merasa cemburu kala itu?
Mey juga merasakan hal yang sama seperti Arga saat tiba di tempat tersebut bersama para guru dan pihak keamanan desa. Beberapa polisi dan satu unit ambulance juga sudah datang ke lokasi. Ki Romo juga berhasil ditangkap.
Arya masih memanfaatkan keadaan dengan tak melepas pelukan dari Anta. Gadis itu benar-benar bersyukur kala ucapan Kakek Soleh benar terjadi. Pertukaran jiwa Sahid tak sia-sia. Sahabat tercintanya itu kembali hidup.
"Tunggu, kalau kamu masih hidup berarti, Om Sahid...."
Anta langsung mendorong dada Arya begitu saja saat melepas pelukannya. Pemuda itu sampai mendaratkan bokongnya mencium tanah.
"Duh, cumi albino, gue enggak ngerti sama elo, tadi elo nangis peluk gue, terus sekarang elo dorong gue gitu aja sampai jatuh gini," ucap Arya dengan kesal.
Anta tak menjawab seruan Arya. Dia langsung berlari pada Arga. Sementara Mey langsung datang mendekat menolong pemuda yang ia cintai itu bangkit berdiri.
"Ga, kamu bisa telepon Om Sahid?" tanya Anta.
"Memangnya kenapa, Nta?" tanya Arga.
"Udah cepetan kalau bisa hubungi abi kamu cepet hubungi dia!" rengek Anta.
Arga akhirnya melakukan perintah gadis tersebut. Meskipun ia masih bingung dengan sikap Anta.
"Enggak bisa dihubungi, kita ada di pedesaan, sinyal susah kayaknya," ucap Arga.
"Yah, gimana dong?"
"Besok kita kan balik, aku langsung hubungi Abi, emangnya ada apa sih, Nta?" tanya Arga.
"Panjang ceritanya, nanti Anta cerita sama semuanya pas kita sampai rumah, Anta mau semuanya ngumpul," ucap gadis itu.
***
Setelah kembali sampai di sekolah, Tasya dan Raja datang menjemput Anta. Di sampingnya ada mobil Pak Herdi yang datang menjemput Arya. Di sampingnya lagi ada perempuan berpakaian seksi, uminya Arga datang menjemput.
"Arga, bisa telepon abi kamu?" tanya Anta menghampiri Arga.
"Ini anak maunya apa sih, mau apa kamu tanyain abinya Arga?" tanya Laila.
"Iya, Nta, ngapain kamu tanyain Sahid?" bisik Tasya.
"Ini penting Tante, Om Sahid itu bertukar jiwa sama Arya, dia mengorbankan diri agar Arya hidup lagi," sahut Anta.
"Nta, gue masih hidup, gimana caranya gue bisa hidup lagi?" tanya Arya mendekat setelah menyimak pembicaraan di samping mobilnya.
"Duh, nanti deh Anta cerita, pokoknya Anta mau tau dulu kabar Om Sahid."
"Ini keponakan kamu antara capek apa mulai enggak waras kayaknya," ucap Laila menghina Anta.
"Umi! Eh, Mami enggak boleh ngomong gitu sama Anta!" hardik Arya.
Beberapa detik kemudian, ponsel milik ibunya Arga berdering. Ia segera mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Ini, temennya abi kamu tumben banget nelepon Mami. Halo, Thomas, ada apa ya, tumben telepon saya?" tanya Laila mendekatkan bibir di ponsel tersebut.
Tak lama kemudian terdengar suara wanita itu dengan nada suara lebih tinggi menyentak semua orang yang ada di sekitarnya.
"APA?!"
"Abi kenapa, Mi?" tanya Arga mulai panik.
Sambungan ponsel itu terhenti. Laila lalu menyentuh pipi Arga. Perlahan bulir bening jatuh ke pipi wanita itu.
"Abi kamu, hiks hiks, abi kamu, Ga...."
"Iya, Abi kenapa?"
Arga mengguncang bahu ibunya dengan nada panik.
"Abi kamu, dia enggak bisa selamat dari kanker, dia meninggal, hiks hiks, huhuhu..."
Tangisan Laila pecah juga seraya memeluk anaknya.
Anta jatuh lemas sambil memeluk kaki Tasya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni