
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
Di rumah Anta, ia berjalan mondar-mandir sembari melihat ke arah jam dinding. Anta membunyikan gelang di tangannya tanpa sadar.
"Yuhuuu, kenapa panggil gue?" tanya Arya yang langsung hadir di samping Anta.
"Lho kok, kayak jin botol langsung muncul, hahahaha..." ledek Anta.
"Udah deh enggak lucu tau, emang ada apa sih manggil gue?" tanya Arya lagi.
"Anta enggak manggil Arya, mungkin..."
"Elo gerakin gelang itu, kan?" terka pocong itu.
"Lha iya iya, apa gara-gara gelang ini, ah Anta kalau mandi lepas gelang ini aja lah, masa pas lagi mandi terus gelang ini bunyi terus kamu dateng, idih amit-amit!"
Anta bersungut-sungut dengan kesalnya.
"Gue juga ogah dateng pas elo lagi mandi rugi gue liat badan tipis kayak punya elo!" cibir Arya.
"Heh, sembarangan dasar pocong mesum!" Anta menarik ikatan kepala Arya dengan kesal.
"Duh, ampun, Nta! Ini kenapa elo bisa nyakitin gue, sih?" tukas Arya.
"Makanya jangan macam-macam sama Anta!" ancam gadis itu.
"Iya ampun, terus lepasin!"
Anta melepaskan cengkeraman tangannya di ikatan pocong Arya.
"Terus kalau elo lagi boker jangan pake tuh gelang, bahaya kalau gue liat elo lagi ngeden hahaha..."
"Arya...!"
"Iya, ampun hehehe..." Arya melompat menjauhi Anta.
"Duh, mana sih Mey?" gumam Anta.
"Jadi dia datang ke sini?" tanya Arya.
"Justru itu, aku lagi nunggu dia," sahut Anta.
"Emang dia siap liat gue kayak gini?"
"Mau kamu berdarah-darah juga dia siap, dia kan cinta banget sama kamu, cie Arya..." Anta meledek Arya sembari merebahkan bokongnya di sofa.
"Apaan sih, tapi wajar lah secara cowok cakep kayak gue gini pasti banyak yang cinta, ya enggak?" Arya duduk di samping Anta.
"Idih, mabok nih pocong, menghalunya kebangetan," ucap Anta menoyor kepala Arya.
"Kak Anta, aku punya monopoli baru, main, yuk!" ajak Raja yang baru masuk ke dalam rumah.
"Dapat dari mana tuh mainan?" tanya Anta.
"Penggemar aku dong, tadi dia suruh aku ketemu depan lobi terus aku dikasih monopoli sama boba," jawab Raja.
"Penggemar yang mana, emang kamu artis?" Anta meraih permainan monopoli dari tangan Raja.
"Beuh... Penggemar aku di kelas tuh banyak belum yang dari kelas lain, belum yang kakak kelas, maklum lah aku kan tampan kayak Yanda," sahut Raja dengan sombongnya.
"Buaahahaa kecil-kecil calon playboy nih adek luh!" tunjuk Arya.
"Diem deh!" Anta menarik kafan di kepala Arya dan menurunkannya sampai menutupi wajah Arya.
"Awas ya kalau kamu minta-minta sama cewek-cewek terus mainin cewek!" ancam Anta menunjuk Raja.
"Enggak lah, aku enggak minta kok cuma dikasih," sahut anak itu.
"Sama aja, besok-besok yang mahalan dikit mainannya," ucap Anta.
"Sama aja cumi albino!" Arya menarik rambut Anta dari belakang.
"Udah jangan pada ribut, ayo main, aku mulai duluan," sahut Raja.
***
Sementara itu di rumah Mey.
Sekelebat bayangan hitam terlihat mengitari tubuh Mey lalu masuk ke dalam tubuh gadis itu. Mey jatuh ke lantai kemudian tak sadarkan diri.
Ponsel Mey berdering tepat menyadarkan gadis itu dan membuat kedua matanya terbuka. Gadis itu mengerjap-ngerjap. Tubuhnya terasa sakit semua saat ia mencoba bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.
Ketika pandangannya mulai berangsur membaik, gadis itu tersentak akan pemandangan mengerikan di depannya. Darah masih mengalir deras mengucur dari leher Deni yang sobek. Gadis itu lebih terkejut lagi kala melihat tubuh ibunya tergeletak dengan luka yang sama.
Ia mulai menyeret bokongnya mundur menjauh dari kengerian yang baru saja ia lihat. Isak tangis langsung ke luar dari bibir gadis itu.
"Nta, aku, aku..."
Tak ada jawaban dari Mey kecuali tangisan yang terdengar dari sambungan ponsel itu.
"Mey, kamu kenapa, kamu nangis, ya?" tanya Anta.
Tetap masih tak ada jawaban sampai sambungan ponsel itu terputus.
"Kenapa si Mey?" tanya Arya.
"Enggak tau dia cuma nangis, Anta jadi khawatir," ucap Anta.
"Kita ke rumah dia aja, gimana?" Arya mencoba menawarkan.
"Aku ikut, kak?" pinta Raja.
"Enggak usah, kamu di sini aja, Kakak mau ajak Tante Tasya buat jadi sopir, biar cepet ke rumah Mey," jawab Anta.
"Yah, terus aku gimana?" tanya Raja.
"Main monopoli sama Tante Silla aja tuh, sama Om Uli juga!" seru Anta.
"Ya udah, aku panggil dulu kalau gitu."
Raja bangkit memanggil Tante Silla dan pocong Uli.
Sementara itu, Anta bergegas memanggil Tasya di kamar dan mengajaknya untuk menemui Mey ke rumah gadis itu.
***
"Kamu yakin si Mey kenapa-napa?" tanya Tasya seraya fokus menyetir.
"Dia tuh nangis Tante, terus enggak jawab pertanyaan Anta," jawab gadis itu.
"Tuh, depan rumahnya kok rame?" tunjuk Anta ketika sampai di komplek rumah Mey.
Dua mobil polisi terparkir di depan gerbang. Di sana juga ada satu mobil ambulans yang para perawatnya sedang mengevakuasi dua jenazah. Para warga juga berkerumun menyaksikan sesuatu yang terjadi di rumah Mey. Anta bergegas turun dari mobil dan bertanya pada salah satu warga.
"Pak, maaf saya temennya Mey, itu ada kejadian apa, ya?" tanya Anta.
"Oh, kamu temennya Mey, gini katanya mah ada pembunuhan," jawab pria paruh baya itu.
"Pembunuhan, siapa yang dibunuh?" ucapnya meninggi karena sontak saja Anta terkejut mendengar penuturan tetangga Mey.
"Mamanya meninggal dibunuh sama pacarnya sendiri, terus pacarnya bunuh diri, sepertinya dia gila, atau mabuk," sahutnya.
"Terus Mey gimana?" tanya Anta mulai panik.
"Mey selamat, tuh ada sama polisi," tunjuk pria itu.
Anta menoleh ke arah mobil polisi yang pintu mobilnya terbuka dan di dalamnya ada Mey.
"Makasih ya, Pak, atas informasinya."
Anta pamit dan bergegas menuju Mey. Gadis itu bersusah payah melewati kerumunan warga saat menuju sahabatnya itu. Sampai akhirnya gadis itu sampai di hadapan sahabatnya yang masih terisak menangis.
"Anta..." Mey yang melihat Anta langsung memeluk gadis itu seraya menangis lebih keras.
"Yang sabar ya, Mey."
"Aku takut, Nta... hu...hu...," ucap Mey dengan isak tangis yang masih terdengar kala memeluk Anta.
"Udah enggak usah takut ada Anta di sini, ada Tante Tasya juga tuh, terus juga ada Arya," ucap Anta.
"Arya, mana Arya?" Mey langsung melepas pelukan Anta dan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Arya.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta