
Jangan lupa sebelum membaca di like, komen dan bayar pakai vote ya. Terima kasih...š
Happy Reading.
******
Keesokan harinya, Raja menceritakan kejadian yang menimpanya pada Anta dan Tasya. Bukannya mendapatkan simpati, anak itu malah mendapatkan omelan dari dua perempuan di hadapannya itu. Sementara Mey hanya menyimak sambil menyantap sarapan roti panggang. Sesekali gadis itu tersenyum menertawakan Raja.
"Awas ya kalau kamu pergi ke taman wahana itu tanpa Kakak, udah tau di sana banyak hantu dan tumbal menyeramkan," ucap Anta.
Gadis itu memberi ceramah pagi nan pedas pada adiknya seraya melangkah menuju meja makan.
"Bagi, Mey," pinta Anta.
Mey menyerahkan potongan roti panggang pada sahabatnya itu.
"Iya, aku enggak akan mengulangi lagi, terus ini gimana nasib aku, kata Tante Susi aku kena kuntet," ucap Raja.
"Apa, kuntet? Buuuaahhhaaa...."
Tasya yang ingin meledakkan amarahnya pada anak itu jadi tertawa kala mendengar kata kuntet.
"Kuntet mah artinya pendek, Ja, kalau yang kayak gitu namanya santet," sahut Tasya.
"Nah, itu santet maksud aku, berarti kan ada yang mau jahat sama aku, ya, Tante?"
"Entahlah, atau bisa jadi ada yang mau jahat sama Tante Dewi apa saingan bisnis Andri, tapi kenanya ke kamu," ucap Tasya.
"Wah, berarti harus hati-hati dong," sahut Anta.
"Penjaga kamu si tangan itu ke mana?" tanya Tasya.
"Oh iy, ketinggalan di sekolah, aku suruh dia gabung ke sekolah hantu, kali aja dapat potongan tubuh lain terus bisa bersatu deh kayak para robot power rangers pas jadi raksasa, hiaattt....!"
Raja menirukan aksi power rangers dengan penuh semangat sambil menceritakan imajinasinya tentang Naga si hantu tangan.
krik krik krik.
Hanya tatapan datar yang dilayangkan Tasya, Anta dan Mey kala melihat aksi Raja itu.
"Ah, enggak pada nonton power rangers sih, jadi enggak paham gimana kerennya mereka bergabung, tobot juga seru, tuh!" seru Raja.
"Udah, udah, hayo buruan ke sekolah!"
Tasya ganti berseru.
"Nanti kalau aku muntah lagi gimana?" tanya Raja.
"Ya, tinggal muntahin, kayak gini, huueeekk!"
Anta memuntahkan roti panggang yang baru ia kunyah ke telapak tangannya lalu ia telan kembali.
"Iyuuhhh, Kak Anta jorok!" seru Raja.
***
Tasya selesai mengantarkan anak-anak ke sekolahnya masing-masing. Ia kemudian pergi ke supermarket untuk membeli stok cemilan yang menipis karena kegemaran Anta yang baru. Herannya sama seperti ibunya, gadis itu suka makan banyak tapi tak bisa gemuk karena tipikal tubuhnya yang kurus.
Di sana ia bertemu dengan Pak Herdi dan tak sengaja menabrak pria itu saat berada di dalam supermarket. Troli beroda yang Tasya pegang terlepas dan menghantam bokong pria itu.
"Aduh!" seru Pak Herdi seraya mengusap bokongnya.
"Eh, maaf, enggak sengaja. Lho, kok kamu di sini, enggak ngajar?" tanya Tasya.
"Hari ini enggak ada jadwal saya ngajar," jawab Herdi.
"Oh gitu, terus bagaimana kondisi Hyena?" tanya Tasya.
"Masih koma, ya enggak ada perkembangan lebih lanjut sih soal keadaannya," ucap Herdi.
"Hmmm... semoga cepet sembuh, ya, buat Hyena."
Tasya menepuk bahu Herdi.
"Si Arya malah telepon aku bilang semoga enggak sembuh-sembuh, hehehe...."
"Hahaha... kocak tuh bocah sama kayak Anta doanya," sahut Tasya.
"Mau saya traktir kopi?" tanya Herdi menawarkan.
"Oke."
Setelah berbelanja bersama, Tasya dan Herdi terlibat perbincangan seru di sebuah kedai kopi. Tanpa sadar wanita itu malah menceritakan serunya bersama sosok Pak Herdi yang dulu. Malah sosok terdahulunya berada dalam balutan bungkusan putih alias pocong.
"Mirip sama Arya pas dia jadi pocong, ya?" tanya Herdi dengan memperlihatkan senyum manis miliknya dan terlihat gurat kerutan di ujung kedua matanya.
"Bener, mirip banget, baru itu kan ngerasain dijagain sama pocong, hehehe."
"Tapi, kalau pocongnya kayak gitu, enggak ada yang makan mau pasti buat dijagain," ucap Herdi seraya menundukkan kepalanya menatap cangkir kopi miliknya.
"Kan tadi udah aku bilang wajah pocong Pak Herdi itu kayak kamu, lumayanlah ganteng jadi enggak nakutin malah ngangenin," sahut Tasya.
"Bukan itu maksud saya, maksudnya pocong yang berdiri di dekat pintu toilet itu," ucap Herdi berpura-pura tak mau melihat ke arah pocong itu.
Tasya menoleh ke arah yang dibicarakan pria di hadapannya itu.
"Astagfirullah... itu mah enggak usah minta dijagain, sekedar nemenin di sini juga ogah!" ucap Tasya.
Wanita itu melihat sosok pocong sedang berdiri dan bersedekap di seberang kedai, di depan toilet umum. Wajah pocong itu pucat pasi dengan kedua mata kehitaman. Terdapat luka menganga di pipi kanan seolah terkena tebasan benda tajam.
"Kayaknya preman sini nih dulunya," bisik Herdi.
"Atau bisa juga penjaga toilet, jadi bawaannya mau jagain pintu toilet terus minta duit dua ribu buat taruh dalam kotak, hehehe," sahut Tasya sambil ikut menundukkan kepalanya seraya memutar-mutar sendok kecil di cangkir kopinya.
"Kamu masih takut juga, kirain kebal kayak Anta sama Raja," ucap Herdi.
"Wah, mereka mah kebal deh, kalau aku masih rada-rada takut juga sih."
"Habisin, Sya, kopinya, terus kita pergi, enggak enak diliatin terus."
"Iya, pegel juga ngobrolnya sambil nunduk gini," ucap Tasya.
Saat ia selesai dengan meminum habis cangkir kopinya, Tasya kembali mengangkat kepalanya dan sontak saja terkejut. Sosok pocong yang tadi mereka bicarakan sudah ada di samping keduanya.
"Hmmm... bagus banget, baperan banget jadi pocong baru diomongin dikit udah nyamperin," gumam Tasya mencolek tangan Herdi.
"Emangnya keā"
Herdi yang sudah mengangkat kepalanya ikut terkejut kala menyadari sosok menyeramkan itu sedang menatap ke arahnya. Deretan gigi penuh darah itu ditunjukkan oleh pocong tersebut saat meringis ke arah pria itu.
"Haduh, pake senyum pepsoden segala, aku bayar dulu, Sya," ucap Herdi mencoba bangkit meskipun lututnya terasa gemetaran.
Pocong itu kini menoleh ke arah Tasya dengan senyum menyeringai sama seperti tadi menatap ke arah Herdi.
"Hai, Cong! Balik lagi gih ke toilet, enggak ada yang jagain tuh, nanti enggak pada bayar lho," ucap Tasya menutupi wajahnya dengan tas kecil yang ia bawa sedari tadi.
Pocong itu menggelengkan kepalanya.
"Jiah, dia geleng, sana jagain toilet!" ucap Tasya lalu bangkit menuju Herdi.
"Tolong saya," ucap pocong itu.
"Duh, saya bukan Anta, enggak biasa dimintai tolong makhluk kayak kamu," ucap Tasya.
"Kamu bisa lihat saya, tolong saya," ucapnya lagi.
"Duh, tolong apa?" Tasya akhirnya menyerah dan menoleh pada si pocong tersebut.
"Ikat kepala saya kekencangan, tolong kendorin, saya pusing," ucapnya.
"Astaga!"
Tasya dan Herdi saling menatap kala mendengar permintaan tolong sosok pocong tersebut.
******
To be continueā¦
Jangan lupa kepoin āPOCONG TAMPANā
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya⦠Vie Love You Allā¦
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.