
Happy Reading...
*****
"Abi kamu, dia enggak bisa selamat dari kanker, dia meninggal, hiks hiks, huhuhu..."
Tangisan Laila pecah juga seraya memeluk anaknya.
Anta jatuh lemas sambil memeluk kaki Tasya.
"Nta, bangun, kamu kenapa begini?"
Tasya berusaha meraih gadis yang sudah menangis itu. Di pikirannya penuh tanda tanya. Apa maksud Anta yang ingin menghubungi Sahid tadi karena ia tahu kalau ayahnya Arga akan meninggal, lalu apa maksud dari gadis ini soal bertukar jiwa?
Tasya memeluk Anta dengan erat.
***
Malam itu, setelah Arga pamit bersama keluarga uminya yang baru menuju negara gingseng tempat Sahid di kebumikan, Anta mengumpulkan semua orang di rumah Mama Dewi. Arya juga datang bersama Herdi atas permintaan gadis itu.
Anta meraih buku harian yang selalu ia tulis sebelum dia tidur dan menyerahkannya kepada Tasya dan Mama Dewi. Ia ingin mereka membuka lembaran demi lembaran cerita di catatan harian miliknya itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tasya.
"Entahlah Anta juga enggak tau yang jelas semua cerita sampai Anta masuk SMA dan kehilangan Arya, Bunda sama Yanda ada di situ. Tadinya Anta pikir masih bisa lihat Om Doni, tapi ternyata dia tetap enggak ada," ucap Anta.
Tasya langsung menangis mendengar penuturan gadis itu. Ternyata sebelum Anta berangkat kemping, Doni mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya meninggal.
"Apa karena tak ada pertukaran jiwa untuk Om Doni, ya?" gumam Anta.
Buku catatan harian gadis itu kini beralih pada Arya dan Herdi. Mereka mengamati tulisan demi tulisan yang rapi disusun oleh gadis itu secara saksama. Awalnya dia tak percaya dengan cerita Anta. Akan tetapi, semua orang yang ada di sana percaya.
"Apa mungkin kamu seseorang yang bisa membaca masa depan?" tanya Herdi.
"Enggak, Anta enggak bisa baca masa depan, semua yang ada di buku itu sudah Anta alami," jawab gadis itu.
"Atau jangan-jangan dia kembali dari masa depan?" tanya Arya.
"Bisa jadi, ya," sahut Herdi.
"Nah, sependapat! Karena kamu anak Ratu Kencana Ungu jadi aku percaya kalau kamu bisa kembali dari masa depan," sahut Tasya.
"Mama bingung, deh," ucap Dewi seraya mengacak-acak rambutnya.
"Aku jelasin ya, mau pakai gambar segala, enggak?" tanya Andri yang duduk di sampingnya.
"Boleh, coba ceritain, aku enggak paham-paham dari tadi," ucap Dewi.
Raja juga menyimak gambar asal-asalan yang dibuat Andri saat menjelaskan pada istrinya tersebut.
"Jadi, Hyena akan membangkitkan Raja Iblis Ro?" tanya Pak Herdi.
"Iya, dan kita harus segera memusnahkan kalung itu sebelum dia berhasil, karena bakalan banyak korban, Om, termasuk menumbalkan Arya dan Raja," ucap Anta ia duduk bersila di hadapan Pak Herdi yang sedang duduk di sofa bersama Arya.
"Kalau Anta yang ngomong aku percaya, deh. Lagian aku udah bilang sama Ayah kalau Nenek Lampir itu jahat!" seru Arya yang berpindah mengikuti Anta duduk di samping gadis itu.
"Bagaimana caranya, bagaimana cara menghancurkan kalung itu?" tanya Herdi.
"Kita buat rencana, kamu ajak dia makan malam terus kita buat dia mabuk atau pingsan, terus kamu ambil kalungnya," ucap Tasya.
"Kalau perlu jangan pingsan, kasih racun aja biar mati sekalian," sahut Arya.
"Koplak! Anak siapa kamu sampai tau cara membunuh orang?"
Anta menoyor kepala Arya.
"Dia anak saya, Nta," jawab Pak Herdi.
"Eh iya, maaf Om, maksud Anta cuma mau menghina dia bukan Om hehehe..."
"Sukurin, emang enak, ada bokap gue nih!" cibir Arya.
Anta mengerucutkan bibirnya seraya menatap Arya dengan tatapan sinis.
Di sudut ruangan, Andri masih dengan alot menjelaskan isi dari buku harian milik Anta pada Dewi. Raja juga masih menyimak bahkan sesekali membantu dengan menambahkan gambar di buku gambar yang sudah ayah angkatnya corat-coret sedari tadi.
Sementara itu, di sudut lainnya, Tasya sedang memberikan arahan rencana untuk menaklukan Hyena pada Herdi, Anta dan Arya.
"Seru banget ya para manusia ini?"
Pocong Uli berdiri di samping Silla sambil tertawa.
"Hooh seru banget," jawab Silla.
***
Pak Herdi menuruti saran Tasya, ia mengajak Hyena untuk makan malam di restoran milik Andri. Semua sudah disiapkan sesuai rencana. Anta menatap ke seberang restoran sebelum Pak Herdi datang bersama Hyena.
"Jadi inget di sana ada taman wahana, eh sekarang cuma bangunan restoran tutup yang terbengkalai," jawab Anta.
"Jadi nanti di sana itu ada taman hiburan kayak cerita di catatan elo itu?"
"Iya, duh Anta jadi inget sama hantu Tante Sherly."
"Nta, ayo ngumpet, ayahku datang tuh!"
Arya menarik lengan Anta dan mengajaknya bersembunyi di dalam restoran. Tasya juga sudah bersembunyi di ruang kerja Andri. Meja sudah dipersiapkan berikut dekorasi romantis. Andri menyambut kedatangan Herdi dan Hyena. Ia mempersilahkan pasangan tersebut untuk duduk.
"Makasih, ya."
Hyena tersenyum pada Andri. Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa menu set pasangan romantis untuk keduanya.
"Wah, kamu bisa banget nyiapin makan malam romantis kayak gini," puji Hyena.
"Ia ini si Ta— eh, maksud saya ini tawaran Andri soal menu baru untuk pasangan di sini, jadi saya buka. Lagipula saya mau mencoba membuka hati saya buat kamu," ucap Herdi.
Hmmm... sepertinya ilmu pelet yang baru saja kupelajari berhasil nih, kalau Herdi terus seperti ini, tentu saja akan mempermudahku mengambil jiwa Arya setelah kemarin gagal membuatnya terbunuh saat kemping.
Hyena menatap pria di hadapannya seraya tersenyum hangat, padahal di hatinya menyimpan rencana busuk untuk membunuh Arya.
Anta dan Arya berhasil membuat lubang dari ruang kerja Andri untuk mengintip meja tempat Herdi dan Hyena sedang makan malam.
"Parah ni Anta, kalau Andri sampai tau ada lubang gini, nanti dia pasti marah," ucap Tasya
"Tenang aja, nanti aku tutupi pakai rak buku."
"Kok belum minum, ya?" tanya Arya.
"Iya nih gemes gagal mulu," jawab Anta.
"Coba Tante telepon ayah terus suruh si Nenek Lampir minum sebotol wine itu!"
Arya memohon pada Tasya yang sedang duduk di kursi kerja Andri sambil melihat majalah kuliner. Wanita itu langsung menarik Anta karena ingin melihat dari lubang tersebut.
"Ih, jangan tarik rambut aku, sakit!" pekik Anta.
Tasya langsung membekap mulut gadis itu.
"Jangan teriak nanti kedengaran!"
"Lagian Tante narik rambut aku, sakit tau!"
Anta beralih ke meja kerja ayah angkatnya menggantikan Tasya.
"Tuh kan, belum diminum gelas yang sudah dituangin pelayanan anggur itu, kan bikin kesel apa aku samperin terus maksa dia minum ya?" tanya Arya.
"Enggak semudah itu Paijo! Sekalian aja kamu pukul Hyena pakai botol wine!" seru Tasya.
"Wah, ide bagus tuh!"
Arya bangkit berdiri tetapi Tasya sudah menarik tangan anak muda itu.
"Heh, Alfonso! Bawa otak kan di kepala?" tanya Tasya.
Arya menjawab dengan anggukan sembari jongkok kembali.
"Bagus kalau bawa otak, mikir dulu makanya jangan gegabah, nanti si nenek lampir tau kalau dia dipaksa minum sebotol terus curiga, biarkan ayah kamu menunjukkan pesonanya. Ganteng juga kalau diliat lama-lama," ucap Tasya.
"Iya, Markonah!" sahut Arya menggerutu.
"Kamu bilang apa barusan?"
Tasya menarik kerah Arya.
"Eng-enggak bilang apa-apa, cuma bilang iya Tante cantik," jawab Arya berbohong.
"Itu namanya bilang, pulgoso!"
Anta menahan tawanya kala melihat adegan Tasya dan Arya barusan. Namun, pandangannya teralih pada foto keluarganya di meja Andri. Foto dirinya saat kecil bersama Anan dan Dita memang selalu ada di meja itu karena Andri. Pria itu menganggap ketika dia lelah, ia akan memandang Anan dan Dita sebagai penyemangatnya.
"Yanda sama Bunda, kira-kira kapan kembali ya?" gumamnya.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”
biar nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni